18/08/2019
Salib bagi Orang Kristen
(Bukan untuk Ustad Somad, tapi untuk Umat Katolik).
Salib: sebuah simbol, lambang, tanda, yang selalu “diagungkan” oleh orang Katolik. Hari-hari ini banyak orang dikejutkan dengan bahasa agak tidak sedap di media sosial tentang Salib. Tapi itu bukan urusan kita. Urusan kita ialah “mengurusi” Salib itu bagi kemajuan iman kita sendiri.
Kalau sekiranya belakangan ini Salib seolah dihina, biarkan saja. Toh bukan baru hari ini muncul kejadian seperti itu. Sudah sejak dulu begitu. Saat orang-orang Romawi menggantungkan Yesus pada Salib itu pun, Yesus dan Salib-Nya sudah dihina, dianggap kutukan dan kebodohan.
Beginilah kesaksian St. Paulus tentang Kristus yang terSalib: “untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan [kutukan], untuk orang-orang bukan Yahudi [Yunani] suatu kebodohan” (1Kor. 1:23).
Jadi tidak usah panik. Santai saja. Sebab, meskipun Salib itu dihina, itu tetap Salib, tidak berubah. Salib justru ‘bermartabat’ bagi orang-orang yang dipanggil, baik Yahudi maupun orang bukan Yahudi, (1Kor. 1:24), yaitu mereka yang mencintai Kristus.
Kalau kita sudah sampai pada tahap ini, kita mengerti iman kita akan Kristus yang terSalib. Jelas ini berbeda dengan “orang luar”. Anggaplah orang luar tidak memahami karena tidak mencintai. Kita, kita mencintai sehingga memahami.
Sekarang kita bergeser ke tahap yang berikut, katekese. Bagaimana iman dan ajaran Gereja tentang Salib? Mari kita cek simbolum atau rumusan iman kepercayaan kita, yaitu “Syahadat Para Rasul” (Pengakuan iman apostolik). Di sana termaktub iman ini:
“Aku percaya akan Allah, Bapa yang mahakuasa, Pencipta langit dan bumi. Dan akan Yesus Kristus, Putera-Nya yang tunggal, Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria; yang menderita sengsara, dalam pemerintahan Pontius Pilatus, di[salib]kan, wafat, dan dimakamkan, yang turun ke tempat penantian, …..”.
Dari rumusan itu kita menjadi tahu bahwa kita sendiri tidak bisa melepaskan Salib dari Kristus. Tuhan kita wafat di sana, di Salib. Ini pengakuan iman kita, iman Kristen. Yesus digantungkan pada Salib, tapi ketahuilah, saat itu juga kepala pasukan yang menyalibkan-Nya mengakui Dia sebagai “Anak Allah” (Mrk. 15:39). Rahasia Allah perlahan-lahan disingkapkan!
Mulailah Salib menjadi “terkenal” sejak saat itu. Sementara makna yang mengikuti ialah Salib sebagai tanda kerendahan hati (Flp. 2:8). Yesus memikul Salib itu, menderita di atasnya, dan wafat di sana. Mengapa? Karena Ia taat kepada Bapa; Bapa yang mau menyelamatkan dunia melalui Putera-Nya. Maka sampai matipun, Yesus rela melakukan itu.
Ini cinta sempurna yang tidak dapat dipahami oleh orang luar. Tentu, Ustad Somad tidak dapat memahami ini. Kalau menceritakan keajaiban dari Salib Kristus ini, tentu orang luar akan terheran-heran. Tapi cukuplah.
Anda yang Katolik, mulailah untuk mencintai Salib. Tentu, Salib yang ada Kristusnya, yang sudah diberkati, yang dipasang pada dinding-dinding rumahmu. Atau kalung Rosario yang diujungnya ada Salib Kristus. Cintailah! Jangan takut dihakimi, karena Kristus tidak menghakimimu. Yang paling penting, jadikan Salib itu sebagai hidupmu. Tetap rendah hati dan rela untuk berkorban bagi yang lain. Itulah indahnya Salib!
RD. Engga Condios