17/07/2021
KISAH HARI RAYA IDUL ADHA(QURBAN)
Wadhifah Simbah KH. Chudlori bulan DzulHijjah
-
1.Puasa Tarwiyyah (tgl 8 DzulHijjah)
2.Puasa Arofah (tgl 9 DzulHijjah)
3.Sholat Arofah (tgl 9 DzulHijjah ba'do Dhuhur)
4.Sholat LailatunNahri (Malem bodho nishfullail)
5.Ba'do Shubuh moco ISTIGHFAR 300 kali (Bodho tgl 10 DzulHijjah)
hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a
عن ابى هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من صلى يوم عرفة بين الظهر والعصر أربع ركعات يقرأ في كل ركعة فاتحة الكتاب مرة وَقُلْ هُوَ اللهُ اَحَدُ...الخ خمسين مرۃ كتب الله له ألف ألف حسنة ورفع الله له بكل حرف درجة فى الجنة ما بين كل درجتين مسيرة خَمْسِمِائَة عام ويزوجه الله بكل حرف فى القرأن حوراء. (القرى لقاصد أم القرى, صحيفة 367 )
Hadits diatas menjelaskan bahwa Rasulullah s.a.w bersabda : “Barang siapa shalat dihari arafah antara dhuhur dan ashar seanyak empat rakaat, yang setiap rakaatnya membaca Al-Fatihah satu kali dan Al-Ihlas lima puluh kali, maka Allah s.w.t akan menulis sejuta kebaikan baginya dan meninggikan derajatnya disurga dengan tiap-tiap huruf yang dibacanya, jarang antara dua derajat itu ditempuh dengan lima ratus tahun, serta menikahkannya dengan bidadari sebanyak huruf yang dibacanya”.
Niat Shalat Arafah:
أصَـلِّى سُــنَّةَ لِــيَوْمِ عَرَفَةَ رَكْعَتـــَيْنِ لِلَّهِ تَعَالى
Doa Shalat Arafah:
لَا اِلَهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِْيكَ لَهُ, لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُِّل شَيْئٍ قَدِيْرٌ . 100 كالى
أَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى ِإبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. 100 كالى
سُوْرَةُ اْلإِخْلَاص. 100 كالى
= Salat Lailatunnachri =
Adalah Salat dua rakaat yang dikerjakan pada malam hari raya Qurban. Adapun waktunya setelah Salat isya, akan tetapi lebih afdol dilakukan di pertangan malam hari.
مَنْ صَلَى لَيْلَةَ النَّحْرِ رَكْعَتَيْنِ يَقْرَأُ فِيْ كُلِّ رَكْعَةٍ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ.. الخ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً فَإِذَا سَلَّمَ قَرَأَ اَيَةَ الْكُرْسِيِّ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً جَعَلَ اللهُ اِسْمَهُ فِيْ اَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَغَفَرَ لَهُ ذُنُوْبَ السِّرِ وَذُنُوْبَ الْعَلَانِيَّةِ وَكَتَبَ لَهُ بِكُلِّ أَيَةٍ قَرَأَهاَ حَجَّةً وَعُمْرَةً وَكَأَنَّمَا أَعْتَقَ سِتِّيْنَ رَقَبَةً مِنْ وَلَدِ إِسْمَاعِيْلَ وَإِنْ مَاتَ فِيْمَا بَيْنَهُ وَ بَيْنَ الْجُمْعَةِ اْلأُخْرَى مَاتَ شَهِيْدًا
Artiny : “Barangsiapa yang mengerjakan shalat dua rakaat pada malam nahr (idul Adha) yang setiap rakaatnya membaca :
1. Surat Al Fatichah 15 kali
2. Surat Al Ikhlash 15 kali
3. Surat Al Falaq 15 kali
4. Surat An Naas 15 kali
Dan setelah salam membaca ayat Kursi 3 kali, Istighfar 15 kali, maka Allah akan menjadikan nama orang tersebut sebagai golongan orang-orang penghuni surga dan Allah akan mengampuni dosa-dosa yang samar dan dosa-dosa yang jelas dan Allah menulis pada orang tersebut setiap ayat yang dibaca seperti haji dan umroh, dan orang tersebut seperti memerdekakan 60 budak dari keturunan nabi Ismail dan apabila orang tersebut meninggal antara melakukan sampai seminggu yang akan datang, maka ia termasuk mati syahid”.
Niat Salat lailatunnahri:
أُصَلِّى سُنَّةً لِّإِحْيَآءِ لَيْلَةِ النَّحْرِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا / إِمَامًا للهِ تَعَالَى
FADHILAH PUASA TARWIYAH & AROFAH 8 & 9 DZULHIJJAH
Puasa Tarwiyah dilakukan dua hari sebelum tanggal 10 Dzulhijjah (Idul Adha) atau biasa banyak dikenal dengan lebaran haji yang jatuh pada tanggal 8 dzulhijah. Sedangkan pada tanggal 9 Dzulhijjah dinamakan puasa Arafah.
Puasa sunah Tarwiyah dan Srafah ini sangat dianjurkan untuk seluruh umat Islam, hal ini supaya kita yg menjalani puasa dapat menikmati seperti yg dirasakan oleh para jamaah haji. Ada beberapa keutamaan dari menjalankan kedua puasa tersebut.
Tarwiyah berkaitan erat dengan peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim AS yang bermimpi diperintah Allah untuk menyembelih putranya, Nabi IsmailAS.Pada hari itu, hari ke-8 bulan Dzulhijjah, ia merenung dan berpikir (rawwa-yurawwi-tarwiyah) tentang takwil mimpi menyembelih putra kesayangannya sendiri. Pada hari ke-9, ia mendapati takwil mimpi yang membuatnya tahu (‘arafa) akan makna mimpi tersebut, sehingga disebut dengan Hari Arafah. Sedangkan pada hari ke-10, ia melaksanakan perintah dalam mimpi itu, yakni menyembelih (nahara) putranya, sehingga disebut hari Nahr.
Adajuga pendapat yang mengatakan, dinamakan hari Tarwiyah karena pada hari itu orang-orang mengenyangkan diri dengan minum air (rawiya, irtawa) untuk persiapan ibadah selanjutnya.
Sementara puasa Tarwiyah dilaksanakan pada hari Tarwiyah yakni pada tanggal 8 Dzulhijjah. Ini didasarkan pada satu redaksi hadits yang artinya bahwa Puasa pada hari Tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan (dosa) dua tahun. Dikatakan hadits ini dloif (kurang kuat riwayatnya) namun para ulama memperbolehkan mengamalkan hadits yang dloif sekalipun sebatas hadits itu diamalkan dalam kerangka fadla’ilul a’mal (untuk memperoleh keutamaan), dan hadits yang dimaksud tidak berkaitan dengan masalah aqidah dan hukum.
Memang tidak ada satu hadits shahih pun yang jelas dan tegas menyatakan sunnahnya berpuasa pada hari Tarwiyah. Namun perlu kita ketahui, banyak fuqaha yang memfatwakan bahwa puasa pada hari Tarwiyah itu hukumnya sunnah atau sebagai fadhilah, berdasarkan dua alasan.
Pertama, atas dasar ihtiyath (berhati-hati) dan cermat dalam mengupayakan mendapat fadhilah puasa Arafah yang begitu besar. Bahkan Syaikh Zainuddin Al-Malibari dalam kitabnya Fath al-Mu’in berkata, puasa ini termasuk sunnah mu’akkadah.
Kedua, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits tentang keutamaan sepuluh hari bulan Dzulhijjah di sisi Allah SWT, yang Tarwiyah dan Arafah juga berada di dalamnya. Ibnu Abbas r.a meriwayatkan Rasulullah s.a.w bersabda:
ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام يعني أيام العشر قالوا: يا رسول الله! ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله فلم يرجع من ذلك شيء
Tidak ada perbuatan yg lebih dis**ai oleh Allah SWT, dari pada perbuatan baik yg dilakukan pada sepuluh hari pertama di bulan Dzulhijjah. Para sahabat bertanya : Ya Rasulullah! walaupun jihad di jalan Allah? Sabda Rasulullah: Walau jihad pada jalan Allah kecuali seorang lelaki yg keluar dgn dirinya dan harta bendanya, kemudian tidak kembali selama2nya (menjadi syahid). (HR Bukhari)
Puasa Arafah dan tarwiyah sangat dianjurkan untuk turut merasakan nikmat yang sedang dirasakan oleh para jemaah haji sedang menjalankan ibadah di tanah suci.
Tidak disangsikan lagi bahwa puasa adalah jenis amalan yg paling utama, dan yg dipilih Allah untuk diri-Nya. Disebutkan dalam hadist Qudsi: Puasa ini adalah untuk-Ku, dan Aku-lah yg akan membalasnya. Sungguh dia telah meninggalkan syahwat, makanan dan minumannya semata2 karena Aku.
Diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri, Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah SAW bersabda: Tidaklah seorang hamba berpuasa sehari di jalan Allah melainkan Allah pasti menjauhkan dirinya dgn puasanya itu dari api neraka selama tujuh puluh tahun. (HR Bukhari Muslim).
Berikut keutamaan dari puasa sunah Tarwiyah dan Arafah menurut hadist:
1. Puasa Tarwiyah dapat menghapus dosa satu tahun silam yang sudah diperbuat.
2. Sedangkan puasa hari ‘arafah memiliki keutamaan yaitu dapat menghapus dosa dua tahun (1 tahun lalu dan 1 tahun yg akan datang)
Hadist tentang puasa sunah Tarwiyah adalah sbb.:
(12087 -) صوم يوم التروية كفارة سنة ، وصوم يوم عرفة كفارة سنتين.
(أبو الشيخ في الثواب وابن النجار عن ابن عباس).
Artinya: Puasa hari Tarwiyah menghapuskan dosa setahun, puasa hari Arafah menghapuskan dosa dua tahun.
Pendapat mengatakan kalau puasa sunah Tarwiyah ini telah disunahkan karena karena merupakan amalan saleh yg dilakukan sebelum 10 hari pertama dalam bulan Dzulhijjah. Sehingga dengan itu, seseorang dapat menjalankan puasa ini sebelum 10 hari pada bulan Dzulhijjah.
Namun kita tetap dianjurkan untuk memperbanyak amalan saleh pada 1 sampai 9 Dzulhijjah. Sedangkan hari tarawiyah juga masuk dalam rentang tersebut. Dari Ummul Mukminin, Hafshah radliallahu ‘anha, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjalakan puasa asyura, sembilan hari pertama Dzulhijjah, serta tiga hari dalam setiap bulannya.
Demikian hadis dari Ibn Abbas radhiallahu ‘anhu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ ». يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ. قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ « وَلاَ الْجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللَّهِ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَىْءٍ
“Tidak ada hari dimana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yg keluar dgn jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yg kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen.).” (HR. Ahmad, Bukhari, dan Turmudzi).
Niat Puasa Tarwiyah Tanggal 8 Dzulhijjah
نَوَيْتُ صَوْمَ التَّرْوِيَةَ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى
“Nawaitu Shaumat Tarwiyata Sunnatan Lillahi Ta’alaa”
Artinya; “Saya niat puasa sunnah tarwiyah karena Allah Ta’ala”
-----
Menjawab Gugatan: “Puasa Tarwiyah Dalilnya Hadis Palsu?”
Oleh: Ustadz Ma’ruf Khozin, anggota dewan ahli Aswaja NU Center Jatim
Besok disunnahkan Puasa Tarwiyaht, tetapi telah jadi kebiasaan jika beberapa kalangan yang s**a menyalahkan amaliah orang lain. Itulah Salafi-Wahabi, yang ilmunya senantiasa meresahkan bagi ummat Islam. Wajar saja kalau kajiannya ditolak di beberapa tempat. Kali ini mereka menggugat problem puasa Tarwiyah:
ﺣﺪﻳﺚ: “ﻣﻦ ﺻﺎﻡ اﻟﻌﺸﺮ ﻓﻠﻪ ﺑﻜﻞ ﻳﻮﻡ ﺻﻮﻡ ﺷﻬﺮ ﻭﻟﻪ ﺑﺻﻮﻡ ﻳﻮﻡ اﻟﺘﺮﻭﻳﺔ ﺳﻨﺔ ﻭﻟﻪ ﺑﺼﻮﻡ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﺳﻨﺘﺎﻥ”.
“Barangsiapa puasa 10 Dzulhijjah maka saban hari seperti puasa 1 bulan. Bagi dia seperti puasa setahun kalau berpuasa Tarwiyah. Dan untuknya seperti puasa 2 tahun kalau puasa Arofah.”
Kedudukan riwayat ini disampaikan oleh:
1. Syaikh Nashiruddin Al-Albani (dlaif)
(ﺣﺪﻳﺚ: ” ﺻﻮﻡ ﻳﻮﻡ اﻟﺘﺮﻭﻳﺔ ﻛﻔﺎﺭﺓ ﺳﻨﺔ “. اﻟﺤﺪﻳﺚ. ﺭﻭاﻩ ﺃﺑﻮ اﻟﺸﻴﺦ ﻓﻰ اﻟﺜﻮاﺏ ﻭاﺑﻦ اﻟﻨﺠﺎﺭ ﻋﻦ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ (ﺻ 229) .
* ﺿﻌﻴﻒ.
Hadis: “Puasa hari Tarwiyah ialah tebusan selama setahun.” HR Abu Syaikh Ibnu Hibban dalam ats-Tsawab dan Ibnu Najjar daei Ibnu Abbas secara Marfu’. *hadis dlaif (Irwa’ al-Ghalil 4/112)
Akan tetapi di dalam kitab al-Jami’ ash-Shaghir beliau menilai jika hadits tersebut maudlu’ (17/88)
2. Syekh Ali Asy-Syaukani (maudlu’):
ﺭﻭاﻩ اﺑﻦ ﻋﺪﻱ ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ ﻭﻻ ﻳﺼﺢ ﻭﻓﻲ ﺇﺳﻨﺎﺩﻩ: اﻟﻜﻠﺒﻲ ﻛﺬاﺏ ﻭﺃﺧﺮﺟﻪ ﺃﺑﻮ اﻟﺸﻴﺦ ﻓﻲ اﻟﺜﻮاﺏ ﻭﺭﻭاﻩ اﺑﻦ اﻟﻨﺠﺎﺭ ﻓﻲ ﺗﺎﺭﻳﺨﻪ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺟﺎﺑﺮ .
HR Ibnu Adi dari Aisyah secara marfu’, hadis tak sahih. Di dalamnya ada al-Kalbi, ia pendusta. Juga diriwayatkan oleh Abu Syaikh dalam ats-Tsawab (juga melalui al-Kalbi). Dan Ibnu Najjar dalam Tarikhnya dari Jabir (Di dalamnya ada perawi Ibnu Abdil Malik al-Anshari al-Madani, ia pendusta dan pemalsu hadis)
Apakah lantas tak boleh puasa Tarwiyah?
Berikut respon beberapa ulama:
1. Syekh Syuaib al-Arnauth, yang mempergunakan dalil secara umum baik dlaif maupun sahih:
ﻭﻣﺎ ﺭﻭﻱ ﻋﻨﺪ اﺑﻦ ﻣﺎﺟﻪ (1728) ، ﻭاﻟﺘﺮﻣﺬﻱ (758) ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﺃﺑﻲ ﻫﺮﻳﺮﺓ ﻗﺎﻝ: ” … ﻭﺇﻥ ﺻﻴﺎﻡ ﻳﻮﻡ ﻓﻴﻬﺎ ﻟﻳﻌﺪﻝ ﺻﻴﺎﻡ ﺳﻨﺔ … “، ﻓﻀﻌﻴﻒ ﻟﻀﻌﻒ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺑﻦ ﻭاﺻﻞ ﻭﺷﻴﺨﻪ اﻟﻨﻬﺎﺱ ﺑﻦ ﻗﻬﻢ.
Hadis riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Abu Hurairah bahwa: “… Sesungguhnya puasa pada 10 hari Dzulhijjah ialah setara dengan puasa 1 tahun…” hadis ini dlaif sebab Mas’ud bin Washil dan gurunya Nahas bin Qahm ialah dlaif.
Metode Syekh Syuaib ini sama dengan yang disampaikan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar mempergunakan dalil hadis sahih berikut:
ﻟﻜﻦ ﺟﺎء ﻓﻲ ﻓﻀﻞ ﻋﺸﺮ ﺫﻱ اﻟﺤﺠﺔ ﻣﻦ ﺣﺪﻳﺚ ﻏﻴﺮ ﻭاﺣﺪ ﻣﻦ اﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻣﺮﻓﻮﻋﺎ: “ﻣﺎ ﻣﻦ ﺃﻳﺎﻡ اﻟﻌﻤﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﻓﻴﻬﺎ ﺃﺣﺐ ﺇﻟﻰ اﻟﻠﻪ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ اﻷﻳﺎﻡ”، اﻧﻈﺮ ﺣﺪﻳﺚ اﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ اﻟﺴﺎﻟﻒ ﺑﺮﻗﻢ (1968) ، ﻭﺣﺪﻳﺚ اﺑﻦ ﻋﻤﺮ اﻟﺴﺎﻟﻒ ﺑﺮﻗﻢ (5446) . ﻭاﻟﻌﻤﻞ اﻟﺼﺎﻟﺢ ﻳﺸﻤﻞ اﻟﺼﻴﺎﻡ ﻭاﻟﺼﻼﺓ ﻭﺫﻛﺮ اﻟﻠﻪ ﻭﻗﺮاءﺓ اﻟﻘﺮﺁﻥ
ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ ﻣﻦ ﺃﻋﻤﺎﻝ اﻟﺒﺮ ﻭاﻟﻄﺎﻋﺎﺕ
“Akan tetapi dalil keutamaan 10 Dzulhijjah diriwayatkan lebih dari satu sahabat secara marfu’: “Nggak ada amal saleh di dalam 10 Dzulhijjah yang laling digandrungi Allah melebihi hari-hari tersebut…” [HR Ahmad dan al-Bukhari].
Amal saleh ini meliputi puasa, dzikir ke Allah, membaca al-Quran dan amal baik lainnya.” (Ta’liq Musnad Ahmad)
2. Syekh Muhammad bin Soleh al-Utsaimin, ulama Wahabi:
Saat beliau ditanyakan puasa Tarwiyah, maka tak menyalahkan dan menjawab selaku berikut:
ﻭﻳﻮﻡ اﻟﺘﺮﻭﻳﺔ ﻫﻮ اﻟﻴﻮﻡ اﻟﺜﺎﻣﻦ ﻭﻫﻮ ﻛﺒﺎﻗﻲ ﺃﻳﺎﻡ اﻟﻌﺸﺮ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﻣﺰﻳﺔ ﺧﺎﺻﺔ ﻭﺇﻧﻤﺎ اﻟﻤﺰﻳﺔ ﻟﻴﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻟﻐﻴﺮ اﻟﺤﺎﺝ
“Hari Tarwiyah ialah hari kedelapan, sama seperti 10 hari bulan Dzulhijjah lainnya. Nggak ada keistimewaan spesial di hari itu. Keistimewaan cuma ada di hari Arofah bagi selain orang haji.” (Fatawa Nur ala Darb 6534-74)
3. Ulama Madzhab Syafiiyah
ﻭﻳﺴﻦ ﺻﻮﻡ اﻟﺜﻤﺎﻧﻴﺔ ﺃﻳﺎﻡ ﻗﺒﻞ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻛﻤﺎ ﺻﺮﺡ ﺑﻪ ﻓﻲ اﻟﺮﻭﺿﺔ ﺳﻮاء ﻓﻲ ﺫﻟﻚ اﻟﺤﺎﺝ ﻭﻏﻴﺮﻩ
“Disunahkan puasa 8 hari sebelum hari Arofah seperti penjelasan an-Nawawi dalam ar-Raudlah, baik bagi orang haji atau lainnya (Imam ar-Ramli, Nihayat al-Muhtaj 3/207)
Kalau masih menggugat bahwa penjelasan di atas ialah 8 hari Dzulhijjah, mengapa cuma puasa di hari Tarwiyah saja? Jawablah: “Mana hadis yang mencegah puasa di hari ke 8 Dzulhijjah?!”
------
berpuasa sejak hari pertama Dzulhijjah hingga Hari Arafah, tepatnya 9 Dzulhijjah.
Dalam kitab Minah al-Jalil Syarh ‘Ala Mukhtashar al-Khalil yang bermazhab Maliki disebutkan hukum berpuasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah hukumnya sunah, istilah puasa tersebut dikenal dengan sebutan asyr Dzilhijjah.
Penegasan yang sama disampaikan dalam kedua kitab bercorak Mazhab Syafi’i, yakni al-Majmu’ Syarah Muhadzab dan Mughni al-Muhtaj Ila Ma’rifat Ma’ani al-Fadz al-Minhaj.
Hukum berpuasa Tarwiyah dan Arafah serta puasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah ialah sunah. Anjuran berpuasa itu tidak terbatas kepada mereka yang tidak berhaji, tetapi juga berlaku p**a bagi jamaah haji.
Mewakili Mazhab Hanbali, ada kitab al-Mughni karya Ibnu Qudamah. Kitab tersebut menegaskan, kesembilan hari pertama Dzulhijjah (asyr Dzilhijjah) merupakan hari yang utama dan dimuliakan.
Pahala ibadah di sepanjang hari tersebut ditingkatkan karena itu hendaknya menambah frekuensi dan intensitas beribadah pada hari-hari tersebut. Mazhab Zhahiri juga berpandangan sama, ini seperti ditegaskan oleh Ibnu Hazm dalam kitab al-Muhalla.
Ibnu Hajar al-Asqalani menganalisis keutamaan rentetan hari di separuh pertama Dzulhijjah didasari satu fakta yang sangat menarik, yaitu sejumlah ibadah yang pokok berkumpul menjadi satu pada hari tersebut, seperti shalat, sedekah, dan manasik haji. “Keistimewaan itu tak ada di hari lain,” kata tokoh bermazhab Syafi’i tersebut.
Beberapa hadis yang dijadikan sebagai dasar ketentuan hukum berpuasa pada sembilan hari pertama, termasuk Hari Tarwiyah dan Arafah, antara lain, hadis riwayat Ibnu Abbas.
Hadis yang dinukilkan oleh Imam Bukhari dan Ahmad mengisahkan, Rasulullah SAW pernah bersabda, tidaklak terdapat amal ibadah yang lebih pantas dilakukan, kecuali di kesembilan hari pertama Dzulhijjah.
Riwayat ini diperkuat oleh nukilah Hunaidah bin Khalid dari istri-istri Rasul. Dikisahkan, Nabi Muhammad SAW berpuasa pada sembilan Dzulhijjah.
Imam Nawawi dalam kitab Syarah an-Nawawi ala Muslim menyatakan berpuasa selama hari itu hukumnya tidaklah makruh, bahkan sangat dianjurkan dan disunahkan.
Apalagi, hari kesembilan Dzulhijjah atau puasa Hari Arafah. Hadis yang dinukilkan oleh Bukhari dan Ahmad dari Ibnu Abbas di atas cukup menjadi bukti kuat terkait sunahnya berpuasa di sepanjang hari tersebut, termasuk Tarwiyah.
Sedangkan hadis riwayat Muslim dari Aisyah menyatakan, Rasul tidak pernah berpuasa pada hari-hari tersebut, bisa jadi ada banyak kemungkinan sebab.
Entah sakit atau sedang bepergian. Mungkin p**a saat Rasul berpuasa, Aisyah sedang tidak berada di sisinya. Sehingga, kedua riwayat itu tidak saling kontradiktif.
Menurut Ensiklopedi Fikih Kuwait (al-Mausu’ah al-Kuwaitiyah), para ulama sepakat hukum berpuasa delapan hari sebelum Hari Arafah hukumnya sunah. Ini merujuk hadis riwayat Ibnu Abbas di atas.
Menurut Mazhab Hanbali, sebelum puasa Arafah, puncaknya adalah berpuasa Tarwiyah. Mazhab Maliki bahkan menegaskan puasa Tarwiyah pahalanya bisa menutup dosa-dosa kecil yang dilakukan selama setahun.
Sunah berpuasa ini, seperti pandangan Mazhab Maliki dan Syafi’i, berlaku p**a untuk jamaah haji. Sedangkan Mazhab Maliki, memakruhkan puasa pada hari tersebut bila hal itu dinilai akan memberatkan pelaksanaan manasik.
Komite Tetap Kajian dan Fatwa Arab Saudi menyatakan, hukum berpuasa Arafah adalah sunah bagi yang tidak berhaji. Jika hendak berpuasa sehari sebelumnya atau Hari Tarwiyah, silakan.
Bila ingin berpuasa selama sembilan hari pertama Dzulhijjah berturut-turut juga sangat baik. Ini kembali pada keutamaan hari tersebut, seperti penegasan riwayat Ibnu Abbas tadi