Jakarta Biennale

Jakarta Biennale Jakarta Biennale (JB) is a contemporary art exhibition and held biannually in Jakarta.

Jakarta Biennale 2021: ESOK

For more information and updates about JB 2021: ESOK, check our curatorial blog, https://blog.jakartabiennale.id

PENUTUPAN JAKARTA BIENNALE 2024 (MERAYAKAN 50 TAHUN JAKARTA BIENNALE, 1974 - 2024)Mari hadir dan menutup bersama peristi...
15/11/2024

PENUTUPAN JAKARTA BIENNALE 2024 (MERAYAKAN 50 TAHUN JAKARTA BIENNALE, 1974 - 2024)

Mari hadir dan menutup bersama peristiwa seni rupa skala internasional dalam 50 tahun Jakarta Biennale.

Penutupan:
🗓️ Jumat, 15 November 2024
🕰️ 18.00 WIB - Selesai
📍Area Samping Kantin Teater Wahyu Sihombing

Menghadirkan:
Irawita Paseban (Komunitas Paseban, Jakarta)
Kukudabukon (Jakarta)
Gareda (Lombok Utara)
Amboro (Jakarta)
OMPLR (Jakarta)
RajutKejut DJ Set (Jakarta)

Proyeksi Visual:
Kelas Pagi Indonesia
Afan

Artistik:
GudRnD

Mari hadir dan bersama-sama bergembira!

Sampai jumpa di .cikini!

Gratis & terbuka untuk umum.

Yang Mengundang, Majelis Jakarta: RajutKejut, Setali Indonesia, Cut and Rescue, PannaFoto Institute, Kelas Pagi Indonesia, Komunitas Paseban, TrotoART, Gudskul Ekosistem, Westwew, Jakarta Wasted Artists, Atelir Ceremai, Asosiasi Pematung Indonesia - Jakarta, Dewan Kesenian Jakarta, Serrum ArtHandling, Sanggar Seroja, Galeri Saku Kolektif, Girls Pay the Bills, Sekolah Sablon Indonesia, Sanggar Anak Akar, dan Binatang Press!.

Performance MTN x Majelis Jakarta: “Kayu’A”oleh Rahmat Pangestu (Riau) & Salira Ayatusyifa (Jambi) Waktu: Jumat, 15 Nove...
15/11/2024

Performance MTN x Majelis Jakarta: “Kayu’A”
oleh Rahmat Pangestu (Riau) & Salira Ayatusyifa (Jambi)

Waktu: Jumat, 15 November 2024, Pukul 19.00 - 19.30 WIB
Lokasi: Kolam Promenate, Taman Ismail Marzuki

Pacu Jalur (Lomba Sampan) merupakan olahraga tradisional yang telah menjadi simbol kehidupan, tradisi dan kebersamaan bagi masyarakat Kuantan Singingi. Dalam tradisi ini, jalur-jalur yang panjang dan ramping, dilengkapi dengan dayung yang diukir dari kayu peninggalan nenek moyang, bergerak serentak di atas permukaan Sungai Batang Kuantan. Teriakan “Kayua..kayua..” yang menggema di tepian sungai bukan hanya sekadar merayakan kemenangan dan kebersamaan, melainkan juga merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur dan semangat kolektif masyarakat.

Di balik semaraknya Pacu Jalur, alam yang dahulunya menjadi naungan kehidupan kini menghadapi ancaman serius. Hutan ulayat, yang merupakan sumber utama bahan pembuatan jalur, kini terancam oleh tindakan investor yang mengambil alih secara sepihak hutan ulayat untuk dijadikan hutan industri penghasil kertas. Selain itu, Sungai Batang Kuantan, yang dulunya jernih, kini berwarna keruh dan kuning akibat maraknya penambangan emas ilegal yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Sayangnya, banyak masyarakat kuantan singingi yang tidak menyadarinya, bahkan menutup mata terhadap ancaman yang ada. Mereka lebih memilih untuk menikmati euforia kemegahan Pacu Jalur tanpa mempertimbangkan kondisi lingkungan yang semakin memburuk.

Tim Pendukung
Skenografer: Ahmad Ridwan Fadjri (Iwan Kuncup)

*Gratis dan Terbuka Untuk Umum

Performance Majelis Jakarta: “Demo Melukis”oleh Sobirin TrotoArt Waktu: Jumat, 15 November 2024, Pukul 15.00 - 18.00 WIB...
15/11/2024

Performance Majelis Jakarta: “Demo Melukis”
oleh Sobirin TrotoArt

Waktu: Jumat, 15 November 2024, Pukul 15.00 - 18.00 WIB
Lokasi: Selasar Galeri Emiria Soenassa

Sobirin, atau lebih dikenal dengan Birin, adalah pelukis realis dari Komunitas TrotoArt. Ia akan menampilkan live painting dalam rangka Penutupan Jakarta Biennale 2024. Birin merupakan seorang pelukis jalanan yang berbakat dari kawasan Pintu

Besar, Jakarta. Ia termasuk penggagas sekaligus anggota TrotoArt dalam waktu yang lama. Sejak kecil, Birin telah mengasah bakatnya secara otodidak dan kecintaannya terhadap seni lukis semakin mendalam.

Beberapa prestasi monumental Birin termasuk Lukisan Prabu Siliwangi dan Tirto Adhi Soerjo yang dipamerkan di Galeri Parawira, Perpustakaan Bogor, serta Lukisan Biografi Fujita yang berkolaborasi dengan Tsuyoshi Ozawa, Jepang. Selain itu, Birin juga sering menjadi juri di berbagai lomba lukis.

Birin mengajak publik pengunjung Jakarta Biennale 2024 untuk belajar dan berbagi praktik serta pengalaman melukisnya.

Workshop Majelis Jakarta: Rajut Barengoleh RajutKejutWaktu: Jumat, 15 November 2024, Pukul 11.00 - 14.00 WIBLokasi: Sela...
15/11/2024

Workshop Majelis Jakarta: Rajut Bareng
oleh RajutKejut

Waktu: Jumat, 15 November 2024, Pukul 11.00 - 14.00 WIB
Lokasi: Selasar Galeri Emiria Soenassa

Dalam program Rajut Bareng, RajutKejut mengajak komunitas Rajut untuk merajut bersama-sama dan berinteraksi dengan publik. Teman-teman Rajut yang berpartisipasi nantinya bisa meletakkan karyanya di spot karya RajutKejut di Jakarta Biennale 2024.

*Gratis & terbuka untuk umum
_____

Prakarsa Rupa Jakarta (2024)TrotoArt 200 cm x 120 cmAkrilik di atas kanvasJakarta Biennale 2024 menjadi momentum perayaa...
13/11/2024

Prakarsa Rupa Jakarta (2024)

TrotoArt

200 cm x 120 cm

Akrilik di atas kanvas

Jakarta Biennale 2024 menjadi momentum perayaan ke-50 tahun semenjak penyelenggaraan Pameran Besar Seni Lukis Indonesia pada 1974. Pada awal mula Jakarta Biennale digagas sampai sekarang, kegiatan ini tak pernah lepas dari ratusan bahkan ribuan Tokoh yang turut berkontribusi. Mulai dari panitia pelaksana, juri, kurator, hingga seniman, mereka semua telah menyumbangkan waktu, tenaga, ide, dan gagasan masing-masingdemi mewujudkan Jakarta Biennale. “Prakarsa Rupa Jakarta” merupakan sebuah karya yang dibuat oleh TrotoArt sebagai bentuk refleksi historis untuk merawat ingatan tentang Jakarta Biennale yang memiliki makna Penggagas, Penggerak, Inisiator, atau Pelopor selama pelaksanaan kegiatan Seni Rupa Kontemporer di Wilayah Jakarta yang biasa kita sebut Jakarta Biennale.

TrotoArt mencoba mengajak publik untuk mengenal dan mengetahui beberapa tokoh seni rupa dalam lukisan “Prakarsa Rupa Jakarta.” Karya ini menghadirkan nuansa Pameran Besar Seni Lukis Indonesia dari tahun 1974 sampai 1980-an. Karena tahun ini bertepatan dengan 50 Tahun penyelenggaraan Jakarta Biennale, TrotoArt pun menghadirkan 50 tokoh yang berdasarkan hasil riset mereka memiliki pengaruh besar dalam pelaksanaan Biennale di Jakarta. Hingga saat ini penyelenggaraan Jakarta Biennale menjadi sebuah perhelatan akbar dunia seni rupa kontemporer yang masih konsisten menjaga eksistensinya. Peristiwa ini bisa dinikmati tidak hanya oleh para pelaku seni, melainkan juga kalangan masyarakat luas, baik skala nasional maupun internasional.

Diskusi “The Artist Collectives in Palestine x Majelis Jakarta: Our People are Our Mountains”PannaFoto Institute x Essa ...
13/11/2024

Diskusi “The Artist Collectives in Palestine x Majelis Jakarta: Our People are Our Mountains”
PannaFoto Institute x Essa Grayeb
Memvisualisasikan Garis Tak Kasat Mata antara Jericko dan Jakarta (Visualizing the Invisible Lines between Jericho and Jakarta(

bersama Dimas Sugih (Jakarta), Essa Grayeb (Jericko), Marina Christodoulidou (Amsterdam), Noor Abuarafeh (Amsterdam), Aghniadi (Jakarta)

Waktu: Kamis, 14 November 2024, Pukul 19.00 - 20.30 WIB
Lokasi: Galeri Emiria Soenassa (Areal Cut and Rescue)

Dimas Sugih dan Essa Grayeb akan berbagi proses virtual berkarya dari dua Jakarta dan Jericko, menyingkap benang merah ribuan mil perihal manusia dan migrasi. Sebuah bagian dari inisiatif kolaborasi antara PannaFoto Institute dan seniman yang tergabung dalam The Artist Collectives in Palestine x Majelis Jakarta: Our People are Our Mountains serta de Appel Amsterdam — turut diwakili Marina Christodoulidou dan Noor Abuarafeh. Diskusi ini akan dilakukan secara hibrida, online dan offline, untuk mengatasi jarak dan waktu.

*Gratis dan terbuka untuk umum

_____

Discussion: “The Artist Collectives in Palestine x Majelis Jakarta: Our People are Our Mountains”

PannaFoto Institute x Essa Grayeb
Visualizing the Invisible Lines between Jericho and Jakarta

Speakers: Dimas Sugih (Jakarta), Essa Grayeb (Jericho), Marina Christodoulidou (Amsterdam), Noor Abuarafeh (Amsterdam), Aghniadi (Jakarta)

Date: Thursday, November 14, 2024
Time: 7:00 PM - 8:30 PM WIB
Location: Emiria Soenassa Gallery (Cut and Rescue Area)

Dimas Sugih and Essa Grayeb will share their virtual creative processes from Jakarta and Jericho, revealing connections spanning thousands of miles related to humanity and migration. This event is part of a collaborative initiative between PannaFoto Institute and artists from The Artist Collectives in Palestine x Majelis Jakarta: Our People are Our Mountains, along with de Appel Amsterdam—represented by Marina Christodoulidou and Noor Abuarafeh. The discussion will be held in a hybrid format, both online and offline, bridging distances and time.

*Free and open to the public

Diskusi “The Artist Collectives in Palestine x Majelis Jakarta: Our People are Our Mountains”: Peluncuran Zine Dari Inst...
13/11/2024

Diskusi “The Artist Collectives in Palestine x Majelis Jakarta: Our People are Our Mountains”: Peluncuran Zine Dari Instruksi Oleh Om Sleiman Farm
bersama Binatang Press! x Om Sleiman Farm (Yara Dowani)

Pembicara:
Andreas Junus
Wanda Kamarga
Felix Dass

Waktu: Rabu, 13 November 2024, Pukul 17.00 - 18.30 WIB
Lokasi: Galeri Emiria Soenassa (Areal Cut and Rescue)

Yara akan menulis petunjuk untuk membuat toilet kompos. Di Om Sleiman Farm, mereka memiliki bak vermikompos (yaitu metode kompos menggunakan cacing tanah, dengan hasil berupa pupuk cair maupun padat). Sebuah video yang dibuat di Om Sleiman Farm untuk menunjukkan langkah-langkah pembuatan sistem vermikompos dalam bahasa Arab akan diberi subtitle dan diputar di ruang pameran. Lihat videonya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=Vkb_nd0b44w.

Petunjuk lainnya adalah untuk membuat campuran plester yang dibuat oleh seniman muda dan petani di Om Sleiman Farm menggunakan bahan-bahan alami, serta pengujian yang diperlukan untuk menemukan campuran terbaik antara tanah, jerami, dan pasir.

Petunjuk untuk toilet kompos akan diilustrasikan oleh salah satu kolektif di Jakarta dan tersedia secara daring dalam bahasa Arab dan Indonesia agar dapat disebarluaskan di Jakarta dan Palestina, terutama Gaza, di mana masyarakat menghadapi kesulitan sanitasi akibat infrastruktur yang telah hancur oleh tentara Israel.

Cara Membuat Toilet Kompos

Om Sleiman Farm akan menyediakan petunjuk untuk membangun toilet kompos. Toilet kompos di Om Sleiman Farm dibangun untuk mendukung keberlanjutan pertanian organik, serta sebagai eksperimen untuk membantu membuat kurikulum sehingga semua proses pembangunan dan pekerjaan ini dapat diterapkan di lahan pertanian lainnya. Panduan ini akan diilustrasikan oleh seniman di Jakarta dan tersedia dalam bahasa Arab dan Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan sanitasi di Gaza yang mengalami kerusakan infrastruktur signifikan akibat genosida yang dilakukan oleh militer Israel.

*Gratis, terbuka untuk umum

Pemutaran Film “The Artist Collectives in Palestine x Majelis Jakarta: Our People are Our Mountains”: Our songs were rea...
12/11/2024

Pemutaran Film “The Artist Collectives in Palestine x Majelis Jakarta: Our People are Our Mountains”: Our songs were ready for all wars to come (2021), Noor Abed | Suspended dawn (2023), Essa Grayeb | Am I the ageless object at the museum (2017), Noor Abuarafeh | Ouroboros (2017), Basma Al-Sharif | Gazing..Unseeing... (2021), Mohamed Abdelkarim.

Waktu: Rabu, 13 November 2024, Pukul 16.00 -18.00 WIB
Lokasi: Komunitas Salihara, Jl.Salihara No.16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan

“Our songs were ready for all wars to come” (Noor Abed, 2021) merupakan film yang dikoreografikan berdasarkan cerita rakyat Palestina. Film ini mengeksplorasi sikap kritis ‘cerita rakyat’ sebagai sumber pengetahuan dan kemungkinan terwujudnya model representasional dan sosial alternatif di Palestina. Bagaimana cerita rakyat dapat menjadi alat emansipatoris umum bagi masyarakat untuk menyamakan wacana dominan, merebut kembali sejarah dan tanah mereka, serta menulis ulang realitas sebagaimana yang mereka ketahui?

“Suspended Dawn” (Essa Grayeb, 2023) adalah sebuah esai video tentang penggalian arkeologis puitis dari era keemasan Mesir. Esai video ini dibagi dalam beberapa bab yang menampilkan manipulasi digital dengan potongan gambar dari film Chahine dan suara-suara. Video ini merefleksikan warisan abadi masa lalu Mesir yang penuh penghormatan, di mana gema seni dan mitologi Mesir Firaun bertemu dengan budaya kontemporer.

(Bersambung di caption)

Mantra Tubuh (2024)Setali 150 x 125 cmKain daur ulangZine berukuran besar ini dibuat Setali secara gotong royong. Terdir...
12/11/2024

Mantra Tubuh (2024)

Setali

150 x 125 cm

Kain daur ulang

Zine berukuran besar ini dibuat Setali secara gotong royong. Terdiri dari prosa, puisi, ilustrasi, dan adaptasi beragam medium tekstil, karya ini menggambarkan pengalaman para puan; perjalanan perempuan dalam berbagai dimensi kehidupan. Sebagai social enterprise yang berfokus pada pengurangan limbah fesyen melalui upcycling, Setali menggunakan kain bekas dan limbah tekstil sebagai medium utama dalam berkarya. Melalui inisiatif ini, mereka tidak hanya mengurangi dampak lingkungan, tetapi juga memberdayakan para artisan dan penjahit lokal melalui pelatihan dan kesempatan kerja yang berkelanjutan.

Terdiri dari enam halaman, karya ini mengeksplorasi tema seperti trauma dan belenggu patriarki, ekspresi dan eksplorasi diri, aneka peran perempuan, penerimaan dan pemelukan tubuh, hingga pencarian ruang yang berdamai dengan bumi dan asalnya. “Mantra Tubuh” menyajikan narasi kolektif dengan kontribusi yang bercermin pada dan dari suara puan yang beragam.

“Mantra Tubuh” mengajak kita untuk merenungkan dan menghargai kompleksitas peran dan pengalaman perempuan dalam masyarakat. Karya ini berfungsi sebagai platform untuk menyuarakan cerita-cerita yang sering terabaikan, membuka dialog tentang isu yang dihadapi perempuan, dan menunjukkan bagaimana seni dan kolaborasi dapat menjadi katalis untuk perubahan mendasar dan kesadaran akan asal.

Kita Semua Butuh Pelukan (2024)RajutKejut Dimensi bervariasiRajutan benangPelukan adalah aksi sederhana yang punya efek ...
11/11/2024

Kita Semua Butuh Pelukan (2024)

RajutKejut

Dimensi bervariasi

Rajutan benang

Pelukan adalah aksi sederhana yang punya efek menenangkan, menghangatkan, sekaligus menguatkan.

Pelukan tidak hanya mengurangi stres, tapi juga membawa kegembiraan yang berdampak positif terhadap daya tahan tubuh dan kesejahteraan diri. Pelukan mampu mengurangi potensi konflik atau bahkan meniadakannya, menggantinya dengan kehangatan rasa damai.

Rajutan berbentuk tangan berwarna-warni akan dipasang di pohon-pohon, tiang-tiang, pilar-pilar, dan tembok-tembok beton di dalam area TIM sebagai simbol aksi merangkul apa saja dan siapa saja untuk mengubah situasi yang dingin dan pucat menjadi hangat dan ceria.

Rajutan yang dipasang di pohon-pohon adalah ungkapan syukur atas keberadaan alam demi keberlanjutan manusia. Merangkul pohon juga simbol aksi untuk melindungi alam dari kehancuran akibat ulah manusia.

Tentang Kebun Bunga
Membangun kebun bunga adalah aksi simbolik sebagai upaya untuk menyajikan kebahagiaan pada orang lain melalui warna-warni bunga rajut yang ditampilkan. Bunga-bunga rajutan warna-warni akan diberi tangkai dan ditancapkan di lokasi-lokasi terpilih.

Pesan
Memberi pelukan dan membangun kebun bunga adalah pesan RajutKejut bagi masyarakat untuk saling mendukung dan menguatkan melalui aksi-aksi sederhana yang membawa kebahagiaan dan kesejahteraan pada orang-orang di sekitar kita.

Pohon Cerita (2024)Komunitas Paseban 1,8 m x 1,5 mPohon keringHidup di kota metropolitan bukanlah sesuatu yang mudah bag...
11/11/2024

Pohon Cerita (2024)

Komunitas Paseban

1,8 m x 1,5 m

Pohon kering

Hidup di kota metropolitan bukanlah sesuatu yang mudah bagi sebagian penduduknya, terutama bagi penduduk dari kalangan menengah ke bawah dan urban kota di bawah garis kemiskinan. Masalah ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, lapangan kerja, ruang publik, kebebasan berekspresi, kebebasan menjalankan ibadah keagamaan, kekerasan seksual dan KDRT melekat erat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat urban. Semua persoalan tersebut semakin diperburuk oleh sistem dan kebijakan yang tidak berpihak kepada masyarakat. Pada akhirnya, persoalan-persoalan yang dihadapi menjadi “cerita” setiap individu. Pohon cerita menghadirkan berbagai cerita untuk mengajak audiens melakukan refleksi, sehingga kita bisa mendapatkan solusi dan bahkan resolusi masalah-masalah sehari-hari masyarakat urban. Dari semua itu, ada satu pertanyaan: “Apakah negara telah hadir dan berpihak kepada warganya?”

Mari berbagi cerita!

Tuliskan ceritamu di atas kertas warna warni, cerita yang menjadi keresahanmu! Lalu, gantungkan di ranting ranting pohon ini.

Apakah ceritamu sama juga dengan cerita orang lain?

Memori Padat Karya (2024)Jakarta Wasted Artists Dimensi bervariasiMarmer grafirTIM tahun 90-an adalah teras kami bermain...
11/11/2024

Memori Padat Karya (2024)

Jakarta Wasted Artists

Dimensi bervariasi

Marmer grafir

TIM tahun 90-an adalah teras kami bermain selama bertahun-tahun. Setelah tempat ini berubah, kami mencoba memanggil dan memetakan ingatan kami saat gejolak dan hasrat berkarya mulai menggebu. Banyak cerita dan kejadian yang menyemangati kami, banyak peristiwa yang membuat hidup kami menjadi seperti saat ini, dan banyak teman yang datang dan pergi di tempat ini. Tempat-tempat dari ingatan ini sekarang sudah tidak ada. Kami mencoba menghadirkan ingatan kami untuk tempat ini.

Address

South Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Jakarta Biennale posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share