Sewu Damai Indonesia

Sewu Damai Indonesia Semai ID (Sewu Damai Indonesia) Komunitas Duta Damai Dunia Maya.

Sewu Damai Indonesia merupakan komunitas Duta Damai Dunia Maya yang dibentuk oleh Pusat Media Damai dalam rangka memerangi faham radikalisme dengan dengan konten-konten positif untuk kedamaian.

Ronda Online: Ikhtiyar Mengisi dan Menjaga Jagat Maya tanpa HoaxOleh: Muhammad NajibRonda sekarang Online, Bro!_________...
03/03/2018

Ronda Online: Ikhtiyar Mengisi dan Menjaga Jagat Maya tanpa Hoax

Oleh: Muhammad Najib

Ronda sekarang Online, Bro!
_______________________________________
Melihat dan mengikuti jagat maya hari ini, ada dua perasaan yang sulit dihindarkan. Benar. Resah dan gelisah adalah dua perasaan yang muncul secara spontanitas ketika mencermati dunia maya, terutama media sosial, karena telah disesaki konten provokatif, saling menuduh antara satu kelompok dengan kelompok lain, juga saling menjatuhkan, dan yang paling “muak” adalah penuh dengan kepalsuan (hoax).

Deras dan bebasnya arus informasi dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk memproduksi berita bohong (hoax), agitasi, dan sejenisnya. Media sosial yang saat ini menjadi tempat mencari informasi, dioptimalkan untuk menyebar konten-konten negatif tersebut sehingga masyarakat menjadi gaduh dan saling menaruh rasa curiga terhadap kelompok tertentu.

Dari segi motif, maraknya berita hoax hari ini setidaknya dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari motif ekonomi hingga politik. Motif ekonomi dalam penyebaran berita bernuansa provokatif sangat efektif untuk mendatangkan pundi-pundi rupiah. Sebagaimana yang telah menjadi ciri khas media online, bahwa ia hanya bisa hidup melalui klik n share. Semakin banyak klik n share konten, maka potensi mendapatkan rupiah sangat besar.

Dalam kondisi tersebut, para penyedia konten berusaha membuat berita ya ng bepotensi viral. Walhasil, segala cara pun dilakukan, termmasuk menyebar berita bohong dengan nuansa povokatif. Sekali lagi, berita macam inilah yang dis**ai oleh masyarakat Indonesia hari ini.

Sementara motif politik merupakan motif yang paling dominan mengapa hoax marak di era saat ini. Tentu kita masih ingat bisnis tanpa moralitas seperti Saracen dan lainnya. Bahwa mereka dengan sengaja menyiapkan jasa untuk meproduksi berita palsu dengan tujuan utama menjatuhkan lawan politik melalui berita yang menyerang dan mencemarkan nama baik lawan politiknya.

Istilah buzzer politik adalah sesuatu yang lumrah diketahui masyarakat. Buzzer politik ini bekerja sesuai dengan keinginan dan cita-cita politikus yang bersangkutan. Selain gajinya menjanjikan, buzzer inilah penyampai pesan bohong sehingga sampai pada masyarakat (mengkonsumsinya).
Mengetuk Kepedulian

Tentu melihat kondisi di atas, sebagai masyarakat Indonesia yang waras, tidaklah pantas hanya diam berpangku tangan saja. Ingat! Masyarakat sejatinya mempunyai peran strategis dalam membasmi dan menjaga dunia maya agar lebih santun dan beradab.

Namun sayang seribu kali sayang, mayoritas masyarakat Indonesia saat ini tidak memiliki kepedulian besar terhadap kondisi dunia maya, teruama media sosial saat ini. Di duga keras bahwa penyebabnya adalah menguatnya jiwa permisif dan menurunnya kekritisan masyarakat Indonesia. Selain itu juga diperkuat oleh faktor lemahnya literasi masyarakat sehingga mereka ogah untuk mengolah dan mengkonfirmasi berita, apakah palsu atau tidak.

Nah, situasi semacam ini, sangatlah tidak baik untuk “kesehatan” ruang maya kita. Untuk itu, masyarakat Indonesia secara keseluruhan wajib bangun dari tidur panjangnya untuk segera sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai elemen penjaga dan pembuat dunia maya lebih santu n dan beradab.

Peningkatan kepedulian masyarakat yang rendah inilah yang menjadi garapan pemerintah saat ini. Misalnya, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), dalam beberapa minggu ini sedang menggalakkan program Ronda Onlie.

Ronda Online, yang merupakan lanjutan program Siskamling media sosial, memiliki tujuan utama, yakni untuk menggugah partisipasi dan kerjasama netizen (masyarakat) untuk saling memantau dan menjaga ruang dunia maya agar lebih santun dan beradab.

Melihat tujuan yang begitu sesuai dengan kebutuhan kekinian dan kedisinian itu, netizen, harus aktif untuk melakukan beberapa perannya:

Pertama, memantau akun jahat. Media sosial, yang menjadi penyalur konten-konten hoax, harus dipantau sedemikian rupa oleh masyarakat. Jangan sungkan dan jangan p**a ragu! Jika menemukan akun yang gemar menyebarkan berita bernuansa SARA dan provokatif, maka laoprkan ke pihak yang berwajib. Cara seperti ini, selain memudahkan pihak yang berwajib, juga menjadikan akun tersebut kapok.

Kedua, menjaga ruang dunia maya. Memantau dunia maya dari akun jahat penyebar hoax saja tidak cukup. Artinya, secara bersamaan, masyarakat juga harus berperan untuk memproteksi dunia maya dari serangan konten-konten negatif.

Bentuk penjagaan ini bisa diaktualisasikan dalam berbagai hal, mulai yang paling ringan sampai paling besar. Misalanya, mengeshare mutiara hikmah para alim-ulama agar konten yang dikonsumsi publik mencerahkan dan memperkuat persaudaraan. Kemudian menjaga yang paling besar adalah memproduksi konten positif dan melakukan kontra-narasi atas konten provokatif dan sejenisnya itu.

Kedua cara itu dibungkus dalam ronda online. Singkat dan tegas kata, ronda online harus dijadikan sebagai gerakan bersama. Seluruh masyarakat harus paham dan melakukan ronda online agar dunia maya diisi oleh konten-konten positif, membangun, menginspirasi, mempererat kerukunan dan mencerdaskan. Yang paling ditunggu-tunggu seluruh lapisan masyarakat adalah, ronda online dapat memberangus hoax di dunia maya. Semoga!

Selengkapnya: https://www.militan.co/ronda-online-ikhtiar-mengisi-dan-menjaga-jagat-maya-tanpa-hoax-1161

GOTONG ROYONG UNTUK MEMPERKUAT PERSEKAWANAN NASIONALOleh: Kumar Plus UdinAlih-alih mengatasnamakan ajaran agama, mereka ...
22/09/2017

GOTONG ROYONG UNTUK MEMPERKUAT PERSEKAWANAN NASIONAL
Oleh: Kumar Plus Udin

Alih-alih mengatasnamakan ajaran agama, mereka tidak saja melakukan pentakfiran terhadap umat lain yang tidak sealiran dan/atau seagama. Lebih dari itu, mereka juga tidak segan-segan melakukan tindak kekerasan dan pengrusakan

____________________________
Persekawanan nasional dalam ragam kemajemukan kita kini semakin mendapatkan perhatian serius oleh segenap elemen bangsa, tak terkecuali oleh pemerintah sendiri. Sebab persekawanan itu harus diakui mulai memudar. Atau lebih ekstrimnya, ada kelompok-kelompok tertentu yang secara sengaja ingin memudarkannya. Kelompok inilah yang selanjutnya disebut kelompok radikal.

Alih-alih mengatasnamakan ajaran agama, mereka tidak saja melakukan pentakfiran terhadap umat lain yang tidak sealiran dan/atau seagama. Lebih dari itu, mereka juga tidak segan-segan melakukan tindak kekerasan dan pengrusakan. Walhasil, kegaduhan bangsa kini kian nampak sering mengemuka di negeri kita. Salah satunya ialah perihal ormas-ormas yang dianggap radikal (dan selanjutnya dibubarkan).

Lebih parah lagi, ada p**a pihak-pihak yang menyisipi isu-isu politik, kemanusiaan dan sejenisnya dengan isu-isu agama. Yang akibat hal tersebut, pada gilirannya, bangsa kita seolah tidak lagi satu. Indonesia seolah pecah antara Indonesiaku dan Indonesiamu. Bukan Indonesia kita. Juga ada pihak-pihak yang mengaku paling Pancasialis, sementara yang lain kurang dan bahkan tidak sama sekali. Juga begitu nampak bahwa seolah kita ini terbelah dan pecah antara umat dan non-umat, pribumi dan non-pribumi, dan sejenisnya.

Berbarengan dengan arus globalisasi yang arusnya semakin deras tanpa batas, hal itu kemudian disulut dengan beragam ujaran kebenian, provokasi, fitnah, hoax, dan sejenisnya yang disebar merata di berbagai media massa khususnya di media social (medsos). Oleh sebab itu, sekarang ini bisa dengan mudah dijumpai beragam ujaran fitnah, profokasi dan sejenisnya itu facebook, twitter, instagram dan yang lainnya.

Yang membuat semakin ironis, konon bahkan ada pihak yang menawarkan jasa itu (mengumbar kebenian, hoax dan sejenisnya) dengan bayaran puluhan juta rupiah. Kini kasus itu sedang dalam pendalaman pihak aparat kepolisian. Semoga segera menemui titik kejelasan, dan jika terbukti demikian, yang bersangkutan diberi ganjaran setimpal. Karena hal itu, meskipun ujaran kebencia ada sebagia pihak yang menganggap remeh temeh, tetapi jika tidak ditanggulangi sejak dini dampak yang akan dilahirkan akan sangat luar biasa.

Keregangan Nasional

Tidak saja kegaduhan nasional di dunia maya, di samping keregangan persekawanan, kerusuhan sosial juga tidak menutup kemungkinan akan terjadi. Barangkali persekusi adalah contoh nyata yang belum lama ini digalakkan oleh sekelompok orang kepada pihak tertentu, akibat pihak tersebut melakukan ujaran kebenian di dunia maya, dan selanjutnya berimbas pada dunia nyata.

Untung saja, aparat kepolisian segera melarang tindakan persekusi itu. Jika tidak, tindakan yang sarat intimidasi itu bisa menjurus kepada perang saudara. Sudah banyak contoh konflik di berbagai daerah Indonesia yang berawal dari hal sepele. Namun setelah “disulut api dan disiram bensin” pihak lain, konflik itu kemudian membesar dan sulit diredam.

Konflik Sampit dan Sambar misalnya, membesar karena adanya perbedaan suku. Selanjutnya konflik di Ambon, membesar terjadi lantaran perbedaan agama. Dan konflik di Sampang, usut punya usut membesar karena adanya perbedaan aliran. Setelah ditelisik lebih lanjut dan mendalam, ternyata konflik-konflik tersebut hanya dipicu kriminalitas biasa.

Tidak bisa dielakkan dan dinafikan, bahwa karena disulut sentimen SARA, kemudian konflik tersebut mudah sekali, tidak saja meletup tetapi juga meledak. Dalam pepatah Jawa, inilah yang disebut “Sepele dadi gawe”. Sesuatu yang kecil tetapi dampaknya bisa begitu besar dan berkepanjangan.

Galakkan Gotong Royong

Sebagaimana telah dikemukakan di atas, ancaman kebhinekaan Indonesia sudah nampak begitu jelas sekali. Di samping kelompok-kelompok radikal, ada p**a kelompok-kelompok provokatif penebar kebenian, untuk tidak mengatakan keduanya berkaitan erat dan saling berkelindan.

Sementara itu, prinsip yang perlu dipahami adalah bahwa kemajemukan Indonesia merupakan suatu realitas yang tidak dapat dinafikan. Karena kemajemukan itu, maka perbedaan satu sama lain juga tak dapat dihirdankan. Tidak disulut saja, akibat perbedaan itu, konflik dan disintegrasi berpeluang besar terjadi. Apalagi jika disulut, tentu hal yang lebih dari itu juga sangat berpotensi terjadi dan bahkan bisa lebih cepat.

Oleh sebab itu, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti konflik sosial, disintegrasi nasional dan bahkan Indonesia bubar, sudah sejatinya bibit-bibit penyebabnya tidak perlu diberi ruang sedikitpun untuk bergerak alias dimatikan.

Hemat penulis, ada dua cara yang perlu dilakukan untuk mempersempit ruang gerak kelompok-kelompok yang sengaja ingin memecah belah NKRI, yaitu cara stuktural dan kultural. Cara pertama ini berkaitan erat dengan peran pemangku kebijakan, yakni pemerintah. Peran ini sudah dilaksanakan oleh pemerintah, di antaranya adalah membuat aturan main (peraturan) yang begitu rupa, yang memungkinkan mereka tidak dapat bergerak secara leluasa, seperti UU Ormas dan UU ITE.

Pemerintah patut diapresiasi karena, selain membuat, pemerintah juga berusaha menegakkan aturan main itu. Ini bisa dilihat dari banyaknya pihak yang ditindak sesaat melakukan pelanggaran peraturan itu.

Namun agaknya cara pertama tidaklah cukup jika tidak diimbangi dengan cara kedua, yakni secara kultural. Salah satunya ialah dengan penanaman semangat gotong royong kepada masyarakat. Semangat ini adalah khas Indonesia. Sebagaimana dikatakan Soekarno dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) di tahun 1945, bahwa gotong royong merupakan jiwa masyarakat Indonesia.

Namun agaknya budaya ini sudah mulai memudar digerus zaman yang semakin “edan”. Sikap individualistik-materialistik mulai mewabah pada masyarakat kita. Walhasil, jiwa kebersamaan itu nyaris hilang. Jika sudah demikian, setiap pribadi tak akan sungkan lagi alias tega melihat saudaranya disakiti.

Selama ini sudah cukup banyak dialog, baik inter maupun antarumat beragama misalnya. Namun itu belum menyentuh pada tataran akar rumput. Maka gotong royong menjadi alternatif yang perlu digalakkan (kembali) di tengah derasnya propaganda kelompok radikal dan sejenisnya. Sebab dengan gotong royong, setiap elemen masyarakat hingga tingkat akar rumput akan dapat saling berinteraksi sosial.

Tak terkecuali di antaranya yang berbeda keyakinan. Mereka berkesempatan untuk saling mengenal dan bekerja sama. Di sinilah persekawanan nasional akan terjaga dan bahkan semakin kuat. Lebih dari itu, mereka tidak mudah diadudomba.

YANG BUKAN SAUDARAMU SEIMAN, ADALAH SAUDARA DALAM KEMANUSIAAN!Oleh: Muhammad NajibKita semua bersaudara! _______________...
16/09/2017

YANG BUKAN SAUDARAMU SEIMAN, ADALAH SAUDARA DALAM KEMANUSIAAN!
Oleh: Muhammad Najib

Kita semua bersaudara!
___________________________________
Komposisi masyarakat Indonesia yang beragam adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihindari. Oleh Nur Kholis Madjid, ditegaskan bahwa keragaman atau perbedaan yang diterima tanpa perselisihan merupakan rahmat Allah yang membawa kebahagian dan perdamaian abadi. Sebaliknya, perbedaan yang diterima dengan perselisihan dan permusuhan akan membawa pada kesengsaraan.

Maka dalam konteks Indonesia yang beragam, pernyataan Imam Ali bin Abi Thalib sungguh tidak hanya relevan dalam konteks keindonesiaan, melainkan harus menjadi pegangan setiap individu yang menikmati seteguk air hasil bumi pertiwi Indonesia ini. Bahwa tidak ada cara lain dan jalan lain selain menjaga persatuan dalam bingkai kebhinekaan.

Terhadap kelompok yang tidak sepakat untuk merawat keragaman Indonesia, entah dengan dalih agama, budaya dan lainnya sebagainya, perlu ditegaskan bahwa di mana engkau berada dan bertempat tinggal, perbedaan adalah sebuah keniscayaan dan bersaudara antar sesama adalah sebuah keharusan.

Nabi Muhammad saw yang menjadi panutan manusia di dunia ini pernah mencontohkan betapa bijak dan geniusnya beliau dalam membangun sebuah tataran masyarakat. Ketika di Madinah, Nabi sekalipun memiliki pengaruh dan kekuasaan besar tidak menjadikannya berlaku semena-mena terhadap penduduk Madinah yang kala itu tidak seagama dan menentangnya.

Bahkan, Nabi Muhammad tidak pernah membedakan antara pribumi dan non-pribumi. Kala itu, Nabi menyebut pengikutnya yang ikut hijrah dari Makkah ke Madinah sebagai kaum Muhajirin. Sementara bagi penduduk Madinah yang mengikuti Nabi disebut sebagai kaum Anshar. Dan Nabi mampu mempersaudarakan mereka tanpa membeda-bedakan pribumi dan non-pribumi.

Di Indonesia, sentimen kesukuan atau kelompok, terutama dalam beberapa tahun belakangan ini, sungguh menguat. Muncul kategorisasi penduduk pribumi dan non-pribumi. Jika yang demikian ini menggelinding begitu kuat di tengah-tengah masyarakat, maka polarisasi dan intoleransi akan menjadi sesuatu yang mahal, bahkan asing.

Maka, makna persaudaraan harus benar-benar dikuatkan, jangan malah dipersempit menjadi pribumi dan non-pribumi. Memang, setiap dari penduduk Indonesia memiliki tujuan dan cita-cita berbeda dan juga agama yang berbeda-beda p**a. Semua itu sah-sah saja. Akan tetapi, satu hal yang harus dipegang adalah tidak boleh saling menyerang atau menjatuhkan antar sesama anak bangsa.

Meskipun tujuan hidup dan agam berbeda, namun masyarakat Indonesia benderanya sama; lagu kebangsaan juga sama. Artinya, perbedaan adalah rahmat dan perpecahan adalah laknat.

Mewaspadai Adu Domba

Persaudaraan yang sudah terjalin harmonis sejak lama, dalam seketika bisa porak-poranda dan antar sesama anak bangsa bisa saling menyalahkan, curiga dan gesekan. Sekali lagi, semua itu mudah. Salah satu caranya adalah mengadu-domba antar sesama anak bangsa dengan isu yang sangat sensitif, SARA misalnya.

Dan langkah inilah sesusungguhnya yang sukses terjadi di daerah Timur Tengah. Tentu Indonesia tidak mau menapaki jejak negara-negara di Timur Tengah saat ini. Oleh sebab itu, segenap anak bangsa harus benar-benar berfikir jernih. Jangan mudah terprovokasi dengan penggorengan isu tertentu yang bisa memantik kemarahan dan kecurigaaan terhadap kelompok tertentu.

Misalnya dalam kasus pembantaian Etnis Rohingya di Rakhine Myanmar yang mayoritas penduduknya Muslim. Memang harus jujur diakui bahwa di dalam konflik mengerikan itu ada unsur agama di dalamnya. Akan tetapi, isu tersebut tidak sepantasnya dikaitkan dengan isu agama di dalam negeri. Artinya, Budha di Myanmar tidaklah sama persis dengan Budha di Indonesia. Sehingga sekalipun yang membantai saudara kita Muslim di Myanmar adalah orang Budha, tidaklantas kita memusuhi penganut Budha di Indonesia.

Sebab, dalam konflik Rohingya ada muatan kobflik geopolitik yang amat menyengat. Selain itu ada motif sumber daya alam.

Pancasila sebagai Jembatan Persaudaraan

Masyarakat Indonesia patut bersyukur mengingat para pendiri bangsa sudah mewarisi generasi bangsa sebuah ideologi yang final dan cocok untuk Indonesia, yakni Pancasila. Sekalipun bagi orang yang beragama Pancasila memiliki kedudukan di bawah agama, tetapi nilai-nilai Pancasila menjiwai ajaran semua agama di Indonesia.

Maka, di tengah adu domba dan retaknya tali persaudaraan, Pancasila bisa menjadi jembatan penghubung dan mengokohkan persaudaraan. Sebab, dalam butir Pancasila mengandung nilai spiritual, sosial, budaya dan lain sebagainya. Dan semua itu mengikat satu sama lainnya. Misalnya sila Persatuan Indonesia.

Rumah kita bersama adalah Indonesia. Seluruh penduduk Indonesia adalah bersaudara, saling sinergis. Inilah kekuatan kita saat ini, yang membuat negara lain iri dengan kuatnya hubungan kekeluargaan antar anak bangsa, lintas agama, budaya, suku dan golongan.

Tragedi kemanusiaan yang menimpa saudara-saudara kita dari etnis Rohingya, di daerah Arakan, wilayah Rakhine, Myanmar se...
08/09/2017

Tragedi kemanusiaan yang menimpa saudara-saudara kita dari etnis Rohingya, di daerah Arakan, wilayah Rakhine, Myanmar sejak rangkaian serangan pada tanggal 9 Oktober 2016 hingga saat ini jangan sampai memecahbelah kerukunan dan keguyuban. Mari tetap jaga solidaritas. Jangan mudah terpengaruhi oleh informasi-informasi yang berisi data hoax, foto hoax dan lain sebagainya. Jangan mau di adu domba. Kita adalah Bangsa yang kuat.

“Manusia harus menerima kenyataan keragaman budaya dan memberikan toleransi kepada masing-masing komunitas dalam menjalankan ibadahnya. Dengan keragaman dan perbedaan itu ditekankan perlunya masing-masing berlomba menuju kebaikan; mereka dikumpul-kan oleh Allah pada hari akhir untuk memperoleh keputusan final. Rahasia kemajemukan hanya diketahui oleh Allah dan tugas manusia adalah menerima, memahami dan menjalani”(Heru Nugroho, 1997)

Selamat Hari Raya IdulAdha...
02/09/2017

Selamat Hari Raya IdulAdha...

BANGUN SOLIDARITAS KEBANGSAAN MELALUI MOMENTUM IDUL ADHA_________________________________Besok adalah momentum bahagia b...
31/08/2017

BANGUN SOLIDARITAS KEBANGSAAN MELALUI MOMENTUM IDUL ADHA
_________________________________
Besok adalah momentum bahagia bagi umat Islam karena ada dua hal besar yang akan dilakukan yaitu Haji dan Berqurban.

Mari kita pertambah nilai eksistensi keberadaan Islam sebagai agama rahmatan lil`alamin dengan menjalankan perintaha Haji dan Berqurban secara ikhlas dan penuh kesyukuran. Semoga dengan adanya peristiwa besar ini mampu menambah pundi-pundi ketauhidan kita kepada Allah SWT.

Aamiin

Mari Korbankan Egoisme demi Semangat Nasionalisme. Jangan biarkan Egoisme menjalar lebih dalam. Sayangi tubuh kita, laku...
29/08/2017

Mari Korbankan Egoisme demi Semangat Nasionalisme. Jangan biarkan Egoisme menjalar lebih dalam. Sayangi tubuh kita, lakukan diet kebencian, misalnya😉

Mencegah Konflik, Mempromosikan PermadianOleh: Muhammad Iqbal AruzziJadi Promotor Perdamaian, Mau?______________________...
29/08/2017

Mencegah Konflik, Mempromosikan Permadian
Oleh: Muhammad Iqbal Aruzzi

Jadi Promotor Perdamaian, Mau?
_________________________
Bersamaan dengan hari jadi Jawa Tengah yang ke 67, Selasa, 15 Agustus 2017 kemarin, Masyarakat dan MUI Jawa Tengah mendeklarasikan Anti Radikalisme Agama, Radikalisme Sekuler, dan Terorisme.

Ada lima butir dalam deklarasi tersebut. Pertama, menyatakan taat, setia dan berkomitmen untuk menjaga tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, UUD 1945, dalam kemajemukan dan tetap satu Bhineka Tunggal Ika. Kedua, menolak paham radikalisme agama, radikalisme sekuler, dan terorisme hidup di Indonesia. Ketiga, semua organisasi kemasyarakatan/politik yang bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan yang berlaku dilarang dan atau dibubarkan sesuai dengan ketentuan hukum secara adil. Keempat, mengajak seluruh elemen masayarakat Jawa Tengah untuk serentak mencegah penyebaran paham atau gerakan radikalisme agama, radikalisme sekuler, dan terorisme atau ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Kelima, bertekad membentuk generasi muda berjiwa nasionalisme yang kuat, demokratis, jujur, berkeadilan dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama, etika akademik, kemajemukan, kerukunan, persatuan dan kesatuan bangsa yang berwawasan nusantara.

Secara prinsipil, kelima butir deklarasi itu meniscayakan adanya semangat dalam mencegah konflik dan mempromosikan perdamaian sebagai bekal untuk membangun kehidupan bangsa dan bernegara agar lebih baik. Hal yang semacam ini penting untuk ditegaskan kemudian dijalankan dengan penuh kesadaran, mengingat begitu banyaknya paham eklusif bertebaran di berbagai sudut kehidupan masyarakat.

Sudah banyak peristiwa pahit yang menimpa berbagai kelompok minoritas seperti Ahmadiyah, penganut penghayatan dan lain sebagainya. Mereka diintimidasi oleh kelompok tirani mayoritas mainstream yang memakai baju agama bahkan politik. Pola intimadasi yang dilakukan oleh kelompok tirani mayoritas ini selalu sama; menyatakan salah kepada siapapun yang berbeda dengannya dan cenderung mempertontonkan tindakan barbarian untuk menggilas yang berbeda. Anehnya, tindakan seperti ini jarang di mengerti oleh petugas aparat. Maka, sudah menjadi kewajaran dalam masyarakat ketika muncul stigma “yang kuat bisa menggilas yang lemah” atau “yang digdaya akan memperdaya yang papa”.

Menyikapi hal ini, pemerintah dan pemangku kekuasaan di segala level harus memperhatikan betul potret kekerasan yang terjadi di berbagai sudut negeri ini. Hal ini bertujuan agar kehidupan berbangsa dan bernegara dikemudian hari bisa menunjukkan kedamaian yang berarti.

Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mempromosikan perdamaian adalah dengan membuat gagasan moderasi. Sesungguhnya, harus diakui, gagasan moderasi ini bukanlah hal yang baru. Ormas-ormas besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah sudah memulainya lebih dulu. NU dengan “Islam Nusantara”nya, dan Muhammadiyah dengan “Islam Berkemajuan” nya. Gagasan moderasi ini harus ditangkap betul oleh pemerintah sebagai pemangku jabatan agar seluruh elemen masyarakat dapat memahami dan merasakan betul bentuk-bentuk keberagaman yang ada.

Tidak menutup kemungkinan berbagai kearifan lokal yang senada dengan gagasan moderasi tersebut juga harus diberdayakan agar masyarakat benar-benar memiliki “benteng kultur” untuk bersama-sama menjaga, meruwat, dan merawat kebinekaan Indonesia. Sebab, terkadang gagasan moderasi yang bukan berdasarkan dari kearifan lokal hanya mampu dikonsumsi oleh orang-orang yang beraliran progresif atau berpendidikan tinggi.

"Masyarakat yang bahagia dengan kebebasan dan kemerdekaannya ialah masyarakat yang didukung oleh adanya jalinan hubungan...
17/08/2017

"Masyarakat yang bahagia dengan kebebasan dan kemerdekaannya ialah masyarakat yang didukung oleh adanya jalinan hubungan kasih ilahi yang suci"
(Nurcholis Madjid)

TOLERANSI; GERBANG MENUJU PERDAMAIANOleh: Fifit Arfays"Apakah pengetahuan yang luas dan pengalaman yang kaya bisa menjam...
15/08/2017

TOLERANSI; GERBANG MENUJU PERDAMAIAN
Oleh: Fifit Arfays

"Apakah pengetahuan yang luas dan pengalaman yang kaya bisa menjamin orang menjadi toleran dan plurais?"
_____________________________
Tindak kekerasan dalam berbagai bentuknya, menjadi fakta sosial yang terus menyelimuti sepanjang perjalanan hidup manusia. Ada berbagai bingkai dan kemasan yang dilakukan para pelaku tindak kekerasan, ada berbagai argumentasi apologitik yang dijadikan alibi para pelaku tindak kekerasan untuk menjadikan tindak kekerasannya menjadi sesuatu yang dibenarkan. Selain alasan ketimpangan ekonomi, stabilitas politik, agama juga sangat sering digunakan sebagai alasan seseorang melakukan tindak kekerasan, kejahatan dan terorisme.

Potret Islam seram yang keras, kejam, radikal, tidak mengakui keberagaman yang ditampilkan oleh sebagian umat Islam ini tentu memukul umat Islam yang lain juga citra Islam itu sendiri. Alhasil, opini masyarakat terbentuk seolah-olah bahwa Islam anti keberagaman dan intoleran.

Pada dasarnya, agama membawa pesan cinta dan kasih sayang untuk semua manusia. Baik itu Islam, Kristen, Budha, Konghucu, Hindu, Katolik, dan semua aliran spiritualitas yang menjadi pedoman hidup manusia menuntun pada kehidupan yang mulia. Namun, pesan agama seringkali tidak mampu dipahami secara benar oleh semua manusia, lebih-lebih pemeluknya sendiri. Gagalnya seseorang memahami ajaran agamanya sendiri menjadi faktor utama munculnya sikap intoleran yang merusak tatanan kerukunan antar sesama.

Ada beberapa faktor yang membuat orang beragama bersikap intoleran dengan kelompok agama lain. Bukankah sikap yang seharusnya, orang beragama itu toleran dan pluralis dalam bersikap. Bukan malah sebaliknya; intoleran dan anti pluralisme. Lalu, apa faktor-faktor yang membuat orang beragama malah anti toleransi dan pluralisme?

Salah satu faktor mendasarnya adalah kuper alias kurangnya pengalaman, pergaulan, dan pergumulan dengan komunitas agama lain. Pengetahuan tinggi tidak menjamin seseorang bisa menjadi toleran dan pluralis jika tidak diiringi dengan pengalaman pergaulan dan pergumulan yang memadai dengan kelompok agama lain.

Karena itu jangan heran, kalau ada banyak “orang pinter” tapi “keblinger” alias tidak ramah dengan keanekaragaman. Bahkan pengalaman pergaulan lintas agama itupun tidak menjamin orang bersikap toleran, jika mereka tidak memiliki komitmen yang tulus untuk saling mengenali dan memahami keunikan masing-masing tradisi dan agama. Dengan kata lain, bukan sekedar “pengalaman empiris” tetapi pengalaman “transformatif” yang membuat sebuah pengalaman bisa lebih bermakna dan berdampak positif bagi muncul dan tumbuhnya sikap keberagaman yang toleran dan pluralis.

Sebab hal demikian tadi, jangan heran apabila pembaca melihat orang-orang kampung yang polos, sederhana dan “minim” wawasan dan ilmu pengetahuan tetapi mereka mampu bersikap toleran. Bukan karena ilmu pengetahuan yang membuat “wong cilik” dan “wong kampung” bersikap toleran tetapi, lantaran mereka diperkaya dengan pengalaman yang “transforming” dengan seringnya bergaul dan bergumul dengan berbagai komunitas di berbagai acara-acara sosial, adat, dan kehidupan sehari-hari mereka. –pun demikian, seringkali justru orang kampung dan wong cilik lebih s**a memilih sikap “pragmatis”, simpel dan “tidak neko-neko” dalam kehidupan sosial keagamaan. Hal ini tentu berbeda dengan sikap “idealis” seperti yang dipraktekkan oleh kebanyakan organisasi masyarakat keagamaan intoleran.

Sebagai masyarakat yang beragama tentu kita mengimani dan meyakini bahwa segala yang ada di dunia atas ciptaan dan kehendak Tuhan. Bukan begitu? –pun demikian dengan perbedaan, yang bagi penulis lebih nyaman menyebutnya sebagai “keberagaman”. Sederhananya adalah, kenyataan hidup kita penuh keberagaman adalah atas kehendak Tuhan. Tentunya, sebagai sesuatu yang dianugerahkan Tuhan, kita sebagai manusia harus menjaganya, mengelolanya, bukan justru merusak dan menghancurkannya hingga menimbulkan konflik dan perpecahan. Demikian itulah, keberagaman yang harus kita jaga dan kita kelola menjadi sumber kesejahteraan, sinergis dengan cita-cita hidup semua orang yaitu bahagia dalam kedamaian.

Kemudian pertanyaan yang muncul adalah, apakah ilmu pengetahuan itu sendiri bisa membuat orang bersikap pluralis dan toleran tanpa harus di iringi dengan pengalaman? Bisa, asalkan kita mendalami ilmu pengetahuan itu dari berbagai sudut pandang. Kebanyakan umat beragama hanya mengaji dan mendalami ilmu pengetahuan dari satu sudut pandang saja sehingga wawasannya tidak “komprehensif”. Padahal, dengan mempelajari ilmu pengetahuan dari berbagai sudut pandang, mata hati dan pemikiran kita akan lebih terbuka. Dengan mempelajari ilmu pengetahuan (khususya ilmu agama) dalam beragam sudut pandang akan mengantarkan kita tentang hakikat perbedaan yang sebenarnya. Fakta-fakta keanekaragaman pendapat tidak bisa kita sangkal, hal tersebut justru yang dapat memperkaya cakrawala dan wawasan kita tentang sebuah masalah dan fenomena sosial keagamaan sehingga tidak “kaku njeku” seperti tiang listrik dalam berpendapat dan bersikap.

Sebab-sebab tadi itulah maka penulis sarankan kepada umat Islam khusunya, lebih khusus lagi bagi yang mau belajar, untuk mengaji dan mengkaji keIslaman dari berbagai sudut pandang; baik itu sudut pandang Sunni, Shiah, Ibadi, Mu’taziah, dan lain sebagainya. Juga sudut pandang berbagai Ulama di berbagai mazhab; baik sudut pandang Imam Maliki, syafi’i, Hanafi, Hambali, Ja’fari, dan lain sebagainya. Berbagai sudut pandang Ulama tafsir dan hadis, sudut pandang berbagai disiplin; Islamic studies, antropologi, sejarah, sosiologi, dan lain sebagainya. Sudut padang berbagai ilmu keIslaman; fiqih, usul fiqih, akidah, tasawuf, filsafat, akhlak, dan lain sebagainya.

Dengan berbagai upaya yang mengantar kita untuk berselancar ke berbagai sudut pandang tadi, kita akan tahu betapa luasnya khasanah Islam laksana samudra yang tidak bertepi, dan betapa minimnya wawasan dan ilmu pengetahuan kita semini metromini di Jakarta dan kota-kota di Indonesia. Dengan berselancar ini p**a akan membantu dan mengantarkan kita menjadi “rajawali” di langit yang mahaluas bukan menjadi “kodok” di dalam tempurung.

Apakah pengetahuan yang luas dan pengalaman yang kaya bisa menjamin orang menjadi toleran dan plurais? Tidak, jika hati dan pikiran kita penuh dengan “kotoran” dan “kepentingan”, maka seluas apapun pengetahuan kita dan sekaya apapun pengalaman kita, maka kita tidak mampu dan tidak akan tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang bijak, toleran, dan pluralis.

Seperti yang sering dikatakan Rumi, bahwa percaya saja (kepada Tuhan) tidaklah cukup, karena seseorang yang beriman haruslah berbuat, melakukan sesuatu baik untuk Tuhannya juga untuk sesamanya. Maka, keburaman nilai kemanusiaan dalam era globalisasi yang menyebabkan banyak orang kehilangan cinta harus segera di tangani. Sebagai orang yang beriman, kita tidak akan mungkin benar-benar mencintai Tuhan, jika mencintai ciptaan-Nya saja kita tidaklah bisa.

Link: http://semai.dutadamai.id/toleransi-gerbang-menuju-kedamaian-negeri.html

"Does not belong to any group, nor to any religion, nor to any ethnic group, nor to any group with customs and tradition...
15/08/2017

"Does not belong to any group, nor to any religion, nor to any ethnic group, nor to any group with customs and traditions, but the property of all of us from Sabang to Maruke"
Ir. Soekarno
___________________________
Credit: Blaik Dutadamai

"Hari siang bukan karena ayam berkokok, akan tetapi ayam berkokok karena hari mulai siang. Begitu juga dengan pergerakan...
14/08/2017

"Hari siang bukan karena ayam berkokok, akan tetapi ayam berkokok karena hari mulai siang. Begitu juga dengan pergerakan rakyat. Pergerakan rakyat timbul bukan karena pemimpin bersuara, tetapi pemimpin bersuara karena ada pergerakan" (Moh. Hatta)
_________________________
Selamat Menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 72

Address

Semarang

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sewu Damai Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Sewu Damai Indonesia:

Share