09/05/2026
Dio Patuta (18) dan Afil Mulyadi (17), remaja yang tinggal di LKSA Panti Asuhan Nur Ilahi, Nanggalo, Kota Padang.
Ketua LKSA Panti Asuhan Nur Ilahi, Renol Putra, menjelaskan bahwa persoalan bermula pada Sabtu (2/5/2026).
"Awalnya kepala sekolah menelepon saya, meminta uang Rp 300 ribu untuk pelunasan seragam. Saya bilang tunggu dulu karena sedang di luar kota," ujarnya Kamis (7/5/2026).
Menurut Renol, seragam tersebut sebenarnya sudah lama digunakan. Namun, kondisi keuangan panti yang tidak stabil dalam beberapa tahun terakhir membuat pelunasan tertunda
la menyayangkan sikap sekolah yang kurang simpatik, mengingat Dio dan Afil bukan siswa panti pertama yang bersekolah di sana.
"Seharusnya siswa dengan situasi seperti ini tidak perlu p**a diberi seragam baru. Jika masih ada seragam lama, ya gunakan itu dulu saja," ujarnya.
Pesan Menusuk Hati: Siswa Disuruh Cari Sekolah Baru
Meski sudah menyampaikan kendalanya, Renol mengaku kepala sekolah tersebut terus
menerornya di hari yang sama dengan alasan bahwa uang itu sudah ditagih oleh peyedia seragam.
Sehingga, Renol tidak lagi menggubris panggilan dari kepala sekolah, sampai pesan masuk di handphonenya pukul 20.00 WIB.
"Malamnya kepala sekolah chat saya dengan bahasa yang tidak pantas dan tidak bagus. Singkatnya meminta kedua anak tidak lagi sekolah di sana dan mencari sekolah yang lain," ujarnya.
Membaca isi pesan tersebut, Renol langsung terperenjat, mengingat hanya persoalan biaya seragam Rp 300 ribu yang tidak langsung dilunasi, anak disuruh pindah sekolah.
la sangat menyesali keputusan dari kepala sekolah sebagai tenaga pendidik tega menghentikan pendidikan siswa hanya terkendala biaya.
"Saya langsung bilang pada anak, apakah masih mau lanjut sekolah sana atau tidak. Mereka juga tidak mau sekolah di sana lagi dengar alasan takut kena aksi pervndvngan," ujarnya.
Terlebih saat itu Renol juga sudah memviralkan kejadian ini di media sosial, ia yakin pasca kejadian pasti akan ada dampak pada kedua
anak saat kembali lanjut sekolah