PigiPigi

PigiPigi Yang mau bepergian, dalam dan luar kota, hubungi PigiPigi.Online. Insya-Allah kami bantu.

04/07/2025

Sebuah Desa, Sebuah Asa

Seperti semua desa, kawasan ini punya sejarah, punya alasan dan punya asa untuk mengatasi setiap masalah.

Selain beragam rupa, masalah itu juga datang silih berganti.

Di satu fase, desa itu seperti dihimpit banyak problem. Selain soal sosial yang menghadang kehidupan masyarakatnya, termasuk merenggangnya hubungan antar satuan masyarakat -- retaknya kekerabatan antara anak-paman, antar-abak, soal ekonomi menghidupi segenap keluarga hari demi hari ketika mata pencaharian utama makin tak menjanjikan dan pelarian nafkah pun mulai memasuki masa jenuh.

Seperti di kota-kota, kehidupan di desa itu terus berjalan. Hanya saja, spirit tak terus-terusan bisa menyala. Budaya dan pendidikan seakan tak menjadi pemantik api. Desa terancam bangkrut.

Memang, ada juga cerita desa yang tumbang. Lengang karena makin banyak yang memilih hengkang ke desa lainnya. Akankah kampung yang sudah berdiri puluhan atau malah ratusan tahun ini juga akan tumbang?

Sejatinya, setiap desa punya asa. Punya kehendak untuk tetap eksis (ada). Masyarakat bisa bersinergi kembali untuk menghadapi setiap rongrongan eksistensial. Dan punya seikat kembang harapan bagi setiap warganya.

06/11/2024

Jika jurnalisme harus menjadi nilai atau memberi nilai, bukan sekedar kata dan data, ya... slow journalism itu bisa jadi metodologi.

Saya merasa, kecepatan cenderung jadi ketergesa-gesaan. Model penulisan "spot news" tak memadai bagi yang butuh informasi (penerangan, yang butuh berita yang membawa keindahan atau kesejukan!).

"Straight news" bisa terasa lebih memadai karena akhirnya bisa membawa pesan lebih dari 5 W + 1 H. Yaa, paradigma dan perspektif pemberitaan (arah issue?) bisa tampak dan menjadi frame kecukupan untuk dahaga para pengambil keputusan/kebijakan/kebijaksanaan.

Begitu hemat saya, prof Tikwan Raya Siregar.

01/11/2024

"Innalillah...."

Kemarin Kamis, 31 Oktober 2024, sekitar pkl 19 wib, marombus mada angin naso hadindingan, masursur muse mada tano parsiraisan. Jelang waktu Jum'ah ini, cuaca di Desa Roburan Lombang yang sedang berduka terasa agak sejuk. Jenazah mamak (tulang) kami, H. Zulkifli Nasution bin Badamin Janaguru bin Sutan Porang sudah di dalam Mesjid Al-Qubro'. Semoga doa-doa terbaik untuk Almarhum berkenan di Sisi Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang hingga nantinya mendapat tempat terbaik.

Pun kami selaku anak dan babere beserta segenap keluarga, bisa mendapat ibrah (pelajaran) dan hikmah untuk menjadi hamba yang semakin taqwa dan semakin ikhlas.

"Ayo Terus Bergerak!"Total Football, Full SpeedTentu saja, banyak yang tak senang dengan tulisan saya di postingan sebel...
09/10/2024

"Ayo Terus Bergerak!"
Total Football, Full Speed

Tentu saja, banyak yang tak senang dengan tulisan saya di postingan sebelumnya. Tak apa-apa, Jangan khawatir! Saya menulis buat mereka yang memang mau menang kok.

Normal d**g, ada evaluasi hari per hari! Yang jelas, jika arahnya sudah benar, kalian sebagai tim pemenangan hanya perlu perbaikan. Yang salah harus diubah jadi benar. Yang belum optimal, ya press terus agar tak ada penyesalan.

Jika sudah ada hasil evaluasinya, itulah yang jadi acuan untuk perbaikan. Terus bergerak. Jangan diam! Jangan bengong. Saatnya main strategi "total football" dengan kecepatan penuh (full speed).

Masih ada waktu. Teruslah sosialisasi yang manis. Mainkan persuasi cantik. Yakinkan pemilih bahwa kandidat kita barang bagus, unggul dan punya kualitas sangat baik. Banyak kerja, kreasi dan karya yang bisa dimainkan dalam hitungan lebih dari satu bulan ini.

Balik point, doeong, tarik dan bawa kandidat ke urutan terdepan. Bikin patokan dan ukur secara berkala dengan pola percepatan. Bikin peta, bedakan daerah minus, fifty-fifty dan surplus.

Lakukan penetrasi habis di wilayah minus. Dorong penguatan di zona fifty fifty. Perbanyak sentuhan-sentuhan berkesan di basis-basis yang surplus.

Ayooo...! Satu, dua dan tiga.... Lari cepat dengan siasat full speed.

Selamat berjuang dan menang, Teman-teman!

28/08/2024

Kita faham, politik adalah siasat untuk membuat yang sulit jadi relatif mudah. Tapi, saya melihat dan merasakan, politik rupanya cenderung jadi pilihan yang tak hanya rumit, tapi juga sulit seperti soal-soal matematika yang mematikan.

Objektivikasinya, teka-teki mematikan itu juga berlaku bagi yang lain, barisan yang mungkin saja ikut membentangkan jebakan matematis itu. Artinya, ketika mereka melewati etape lebih lanjut hingga pendaftaran bakal calon kelapa daerah di KPUD, bukan berarti mudah-mudah saja. Mereka juga sudah dan akan terus memakan obat pahit (bukan obat kuat) dan minum pil kelat.

Taruhannya memang kue kekuasaan yang dengan itu mereka nantinya bisa merasa ikut memainkan teka-teki dan game hingga batas-batas tertentu yang secara sirkuler dapat mengurangi dosis kepahitan ramuan dan kekelatan pil yang harus mereka konsumsi.

Bisa saja, karena batas-batas itu, pada akhirnya mereka juga berucap: "persetan dengan etika dan dosa", seperti yang sudah menjabat sebelum-sebelumnya. Karena di hadapan mereka terbentang juga pilihan-pilihan sulit, resiko-resiko amat besar dengan konsekuensi berat yang relatif beragam dan bertingkat. Ketimbang kepentingan khalayak yang dianggap bernilai kecil, lebih baik mengutamakan kepentingan sempit yang dianggap bernilai lebih besar manfaat buat pribadi, kroni atau clan-nya.

Artinya, pemahaman dan budaya politik yang terbentuk terus berkembang menjadi sejenis modus mudah untuk sekedar mewujudkan obsesi kecil dan ambisi sempit masing-masing person yang kebetulan jadi patron.

Akh....

Teringan seorang tokoh yang sudah menjadikan seseorang sebagai teman terbaiknya. Tapi teman terbaik itu ternyata tak baik kepada orang-orang baik lainnya. Padahal, orang-orang baik itu adalah teman baik si tokoh.

Akh....

Dunia memang sekedar sirkulasi baik-buruk dan buruk-baik yang dibalut kabut pekat. Dunia jadi abu-abu yang membuat hitam dan putih selalu tampak menyatu. Sehingga seakan-akan tak ada yang boleh murni baik atau murni buruk.

"Pseudo"Sebelum sesuatu berbentuk. Mungkin termasuk keinginan, harapan ideologis atau doa-doa kebaikan yang terbersit di...
26/08/2024

"Pseudo"

Sebelum sesuatu berbentuk. Mungkin termasuk keinginan, harapan ideologis atau doa-doa kebaikan yang terbersit di dalam sanubari. Layaknya prototipe, pseudo itu sangat menentukan. Bahkan, tanpa cikal-bakal, tak akan ada bentuk wujud.

Namun, dalam kenyataannya, selain menjanjikan kepastian, matematika bisa jadi jebakan. Bahkan, bisa mematikan.

Sebab, mauengandalkan sesuatu yang ada, dengan jumlahnya, sering kali kita merasa puas dan aman.

Lebih banyak, lebih baik.

Padahal, tanpa jumlah tertentu, atau cuma satu saja, kita bisa ragu pada keadaannya. Kita berharap ada dalam jumlah yang banyak. Belum tentu satu itu tak cukup, sekalipun kita sadar masalahnya bukan pada jumlah (angka-angka kuantitatif).

Tapi memang, dengan kualitas yang baik, kuantitas bisa jadi lebih menjanjikan.

Makanya, mengejar kualitas bisa menyebabkan kita abai pada kuantitas. Sebaliknya, seperti dalam demokrasi, kita tak peduli lagi pada kualitas dan terus berburu kuantitas -- lebih banyak suara yang diraih, lebih besar bobot legitimasi-nya dan itulah kemenangan politik.

26/08/2024

"Rasa Aman"
(Self Esteem)

Rasa aman tak akan tercipta dari tindakan teknis belaka, seperti dengan hitungan jumlah personil keamanan atau pembangunan pagar tinggi berteralis baja.

Self esteem juga tak cukup hanya dengan sentuhan politik.

Untuk memenuhi hirarki ketiga dari skala kebutuhan ala Maslow itu, kita butuh pendekatan spiritual. Artinya, seseorang hanya akan merasa aman apabila dia meyakini bahwa secara teknis dan politis dirinya memang sudah cukup perlindungan. Intinya, kembali ke diri kita sendiri.

Sebaliknya, selalu ada oknum personal atau lembaga yang terus-terusan mengusik keyakinan kita. Setidaknya, melalui pesan-pesan khusus, termasuk hoax.

Bahkan, terkadang rasa aman itu menjadi satu proyek atau ladang bisnis. Penyingkapan dan pengungkapan informasi yang berbeda tentang satu hal, seperti kandungan bahan haram atau berbahaya dalam satu produk makanan atau minuman -- terlepas benar atau salah, jelas bisa mengusik rasa aman kolektif sekalipun.

Dengan cerita tentang kandungan bahan haram dalam makanan, dapat menimbulkan keragu-raguan (was-was) dalam diri sebuah komunitas, etnis, warga negara atau ummat beragama. Paling tidak, pesan negatif akan mendorong orang-orang untuk mendapatkan informasi tambahan untuk melemahkan kekhawatirannya sekaligus menguatkan kembali rasa amannya (self esteem) itu.

Kadang-kadang, seorang akhirnya bisa merasa tenang setelah mendengar pernyataan dari orang yang dipercayainya: "Sudah aman, gak usah khawatir atau was-was lagi. Kami sudah dan akan terus menanganinya dengan sebaik-baiknya. Itu hanya hoax dan kalau ada yang memang ceroboh atau sengaja bikin gaduh kami tindak tegas!"

Teori komunikasi "disonansi kognitif" cukup untuk menjelaskan gejala terkait keamanan itu.

Teori itu menggambarkan, soal rasa aman itu bukan perkara teknis saja. Perlu pendekatan politik seperti bikin aturan tegas sekaligus spiritual (religius) seperti dengan lebih banyak dan lebih serius berdoa kepada Tuhan.(*)

Sulit sekali menggeser atau mengubah angel-nya.
19/08/2024

Sulit sekali menggeser atau mengubah angel-nya.

Jika bukan kekecewaan yang sangat, anggap saja yang sedang terjadi adalah terus berpikir mencari argumentasi dari matema...
18/08/2024

Jika bukan kekecewaan yang sangat, anggap saja yang sedang terjadi adalah terus berpikir mencari argumentasi dari matematika politik yang terasa mematikan saat ini.

"Kontradiksi di Ranah Syuriyah, bukan Teka-teki yang Parodis"Ya..., ya.... Saya setuju perspektif yang ini, Kang Baitul ...
18/08/2024

"Kontradiksi di Ranah Syuriyah, bukan Teka-teki yang Parodis"

Ya..., ya.... Saya setuju perspektif yang ini, Kang Baitul Khoeri. Tinggal kita yang sudah paham, perlu menunjukkan bahwa masih ada pengertian dan pemahaman untuk nantinya bisa temu kangen.

Tapi..., biarlah dulu konflikasi ini jadi ajang pematangan dan naik kelas lebih tinggi, termasuk bagi Nahdlatul Ulama (NU).

Publik punya celah seksi. Publik perlu tahu. Internalitas di dua organ itu sungguh punya sisi yang memikat.

Namun, saya lihat kecenderungan keduanya kurang menjanjikan. Yang mengemuka adalah pendekatan, metodologi dan tujuan-tujuan yang politis. Menekan dan melemahkan struktur syuriyah sama dengan mengecilkan dimensi transendental (ilahiyah). Menjauhkan metode "langitan". Pengambilan keputusan tertinggi jadi lebih matematis.

Secara organisasional, saya pikir metodologi "syuriah" yang sering tergantung pada suara "langitan" menjadikan keduanya unik, lebih spesifik dan lebih futuristik. Bahkan, celah ini menjadikan sejenis tawaran untuk mengatasi sisi "rawan" demokrasi. Tidakkah ini menjadi dasar argumentasi untuk mengatakan bahwa kita bisa "Melampaui Demokrasi"?

Selanjutnya, membangun kecurigaan dan menggiring perhatian warga Nahdliyin ke sana, justeru menjadi satu jebakan yang dapat membuat upaya penarikan "mobil cacat produk" itu juga malah kehilangan basis argumentasi.

Jadi, jika dilihat sebagai yang tidak utuh dalam satu tubuh, keduanya sedang terlibat perdebatan sengit. Sebaliknya, kalau dipandang sebagai sesuatu yang sesungguhnya satu, situasinya memang bersifat kontradiktif, bukan kontroversi sehingga muncul ungkapan "Tidak ada yang perlu di-ishlah-kan.

Inilah ranah syuriyah yang sesungguhnya punya sisi amat sangat menarik. Sama-sama mengenal strata syuriah yang sangat konseptual atau bahkan transendental itu. Karenanya, jangan lagi pakai pendekatan dan perspektif yang teknikal, tak bisa melihat apa-apa kecuali teka-teki yang parodis.

Terima kasih, pak Halum Musthafa Nasution. Saran dan kritik atas gagasan besar dan narasi akbar "Patujoloon Mandailing N...
07/08/2024

Terima kasih, pak Halum Musthafa Nasution. Saran dan kritik atas gagasan besar dan narasi akbar "Patujoloon Mandailing Natal, Standar Baru Kemajuan Daerah" merupakan sebuah apresisi. Ini sangat berharga bagi Ivan Iskandar Batubara, orang-orang di sekitarnya dan orang-orang di belakangnya.

Sekali lagi, saya sampaikan, terima kasih banyak.

Bahwa ketika publik tak menemuka lagi pembahasan, obrolan atau publikasi tentang pemikiran Ivan membangun Mandailing Natal, tidak berarti konsep "Patujoloon Mandailing Natal" itu redup atau hilang.

Konsep itu terus mengkristal. Memang belum final dan terus menyerap pemikiran dan energi positif, utamanya dari kalangan ulama, budayawan, akademisi dan politisi.

Soal rekomendasi partai dan pendanaan di sisi Ivan, tentu sudah ada konsep, program dan strateginya. Walau tampak serabutan dan dalam sebulan terakhir seperti redup, konsep itu tetap berbinar, menguat dan menyala.

Sejauh ini, walau rumor dan isu liar terus menyebar, semua masih seperti yang direncanakan. Ya, hitung-hitung untuk menjaga efektifitas dan efisiensi gerakan, mengurangi frekuensi kegiatan dan publikasi adalah pilihan strategi.

Ivan dan orang-orangnya selalu terbuka untuk menyerap semua energi positif dan siap bergandengan tangan dengan semua stakeholder, semua elemen dan semua kekuatan.

Kita memahami bahwa politik, apalagi di Mandailing Natal, adalah hal yang sangat dinamis. Apa pun bisa terjadi. Semua hal, termasuk desa-desus, bisa jadi cerita yang menghebohkan. Per hari ini, semua masih dalam pantauan.

Membaca di atas medsos bukan saja bisa bikin kita kehilangan arah dan jejak, tapi juga bisa membuat kita terjebak rasa ragu dan semangat jadi layu.

Makanya, fakta yang harus diperhitungkan tidak selalu tampak di dunia maya. Banyak realitas politik yang sama sekali tak mengemuka di depan publik maya dan publik nyata.

Sekalipun demikian, artikel/opini berjudul "Lika-Liku Konsep Patujoloon Mandailing Natal" yang dipublikasi via medsos ini amat berarti bagi Ivan dan orang-orangnya.

Terakhir, horas. Horas di hamu na manulis, dohot hami pe sai torkis di na mambaca.

Address

Panyabungan
22914

Telephone

+6281375508013

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when PigiPigi posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to PigiPigi:

Share