23/04/2026
Berangkat ke Guangzhou bukan sekadar perjalanan bisnis, tapi sebuah langkah yang penuh makna. Aku membawa mutiara laut dari Lombok—sesuatu yang lahir dari kedalaman samudra, dari proses panjang, dari kesabaran alam—untuk diperkenalkan di tanah yang dikenal sebagai penghasil mutiara air tawar terbesar di dunia.
Banyak yang bertanya, untuk apa “menjual” mutiara laut di tempat yang sudah begitu kuat dengan mutiara mereka sendiri? Jujur, ini bukan hanya soal menjual. Ini tentang memperkenalkan nilai. Tentang menunjukkan bahwa di balik kilaunya, mutiara laut punya cerita berbeda—lebih langka, lebih dalam prosesnya, dan punya karakter yang tak bisa disamakan.
Perjalanannya tidak mudah. Ada rasa ragu, ada perbedaan bahasa, budaya, hingga cara pandang pasar. Tapi justru di situlah letak perjuangannya. Setiap penjelasan, setiap percakapan, setiap tatapan penasaran dari mereka menjadi bagian dari proses membuka jalan.
Dan yang tak disangka—antusias mereka luar biasa.
Mereka ingin tahu. Mereka menyentuh, mengamati, bertanya panjang lebar. Bahkan beberapa di antara mereka terlihat benar-benar kagum dengan keunikan mutiara laut Lombok. Di tengah dominasi mutiara air tawar, ternyata masih ada ruang untuk sesuatu yang berbeda.
Banyak juga yang sempat mengingatkan, “Hati-hati, China itu negara komunis.” Tapi bagiku, pengalaman berbicara lebih jujur dari sekadar stigma. Sebagai seorang perempuan berhijab, aku justru merasa nyaman. Tidak ada tatapan aneh, tidak ada perlakuan berbeda. Aku diterima sebagai diriku sendiri—sebagai seorang profesional, sebagai representasi dari produk yang kubawa, bukan dari apa yang kukenakan.
Di sana aku belajar, bahwa dunia ini jauh lebih luas dari prasangka. Bahwa keberanian melangkah seringkali membuka pintu yang sebelumnya kita kira tertutup.
Perjalanan ini bukan hanya tentang mutiara. Ini tentang keyakinan. Tentang membawa identitas, nilai, dan keberanian ke tempat yang tidak biasa—dan p**ang dengan cerita bahwa semua itu layak diperjuangkan.
Alhamdulillah