09/09/2015
(BUAT YANG RINDU MAKKAH & MADINAH)
Masih ingatkah Anda saat Anda dalam sebuah perjalanan
yang indah, yaitu di saat Anda dimudahkan oleh Allah
SWT untuk melaksanakan ibadah haji. Ada yang perlu
dicermati dari yang tersembunyi di dalam hati akan
suasana, perasaan, angan-angan dan harapan di balik
sebuah perjalanan. Sungguh berbeda di saat Anda
berangkat dan di saat Anda kembali. Di saat Anda
berangkat yang ada di dalam benak Anda adalah suasana
kerinduan kepada kota Makkah dan Ka’bah, kota Madinah
dan Rosululloh SAW. Mulai dari Anda melangkahkan kaki
meninggalkan rumah Anda yang terbayang dalam diri
Anda adalah segala kemuliaan. Anda menghayalkan
segala keindahan ibadah haji mulai dari Thowaf, Sa’i,
Wukuf, melempar Jumroh, menginap di Mina dan
Muzdalifah dan saat-saat I’tikaf di Masjidil Haram. Anda
pun membayangkan saat indah di Masjid Nabawi di
Madinah, Roudhoh yang disebut oleh Rosululloh sebagai
taman syurga. Anda pun membayangkan saat-saat indah
bersalam di hadapan kubur manusia termulia Rosululloh
SAW. Dan masih banyak keindahan-keindahan yang Anda
dengar dari para pembimbing yang semua itu tidak lain
adalah penyubur ketaqwaan dan keimanan sekaligus
kerinduan kepada Makkah dan Madinah.
Dan sungguh, sesampai Anda di Makkah, Anda pun tidak
sabar untuk segera melihat Ka’bah. Anda akan memasuki
tempat yang sangat mulia, Anda memilih salah satu pintu
menuju Ka’bah. Apakah Anda masih ingat saat itu hati
Anda berdebar-debar sepanjang Anda melangkah di
dalam Masjidil Haram. Anda tidak menoleh ke kiri dan ke
kanan, dan tanpa Anda sadari Anda telah tidak berkedip
dengan bola mata yang terus berputar-putar mencari
makhluk Allah SWT yang bernama Ka’bah. Masih ingatkah
Anda disaat mata Anda tertuju kepada makhluk hitam
segi empat itu tiba-tiba mata Anda telah deras
mengucurkan air mata. Apakah Anda sadari jika itu
adalah air mata kerinduan? Dan apakah Anda sadar
sebab tangis yang telah menguasai diri Anda saat itu.
Anda bukan menangis karena benda hitam segi empat
itu, akan tetapi di lubuk hati Anda terdalam tersimpan
kerinduan kepada orang mulia Rosululloh SAW yang
pernah thowaf di tempat ini. Tanpa Anda sadari Anda
terbawa pada sebuah nostalgia dengan kekasih Anda
Rosululloh SAW. Itulah kenangan cinta yang pernah Anda
rajut selama ini dengan sholawat yang Anda baca,
sejarah hidup beliau yanga Anda hayati dan kekaguman
Anda kepada kekasih Allah Rosululloh SAW yang
tertanam perlahan demi perlahan di majlis-majlis ta’lim
yang Anda hadiri.
Begitu juga disaat Anda “sa’i” antara Shofa dan Marwa
dan wukuf di Arafah lalu menginap di Muzdalifah.
Kemudian Anda menuju ke Mina untuk melempar
jumroh hingga Anda Thowaf Ifadhoh lalu mengakhiri
ibadah haji Anda dengan “tahallul” memotong sebagian
kecil dari rambut Anda . Yang semua itu Anda jalani
dengan penuh semangat yang tanpa kenal lelah. Hingga
di akhir kunjungan Anda di Makkah Anda melakukan
“Thowaf Wada’ ” sebagai salam terakhir Anda kepada
Ka’bah yang dengan derai air mata diam-diam hati Anda
telah mengikat janji dengan Ka’bah untuk bisa sering-
sering mengunjunginya. Sungguh itulah perjalanan cinta
yang amat indah.
Di Madinah, ingatkah Anda dengan suasana yang amat
dahsyat? Hati Anda berdebar-debar di saat Anda
memasuki kota suci Rosululloh SAW. Dan debar dada
Anda pun semakin kencang di saat Anda berada di
Roudhoh yang akhirnya debar itu pun Anda pelihara
dengan subur hingga meledak dalam suara parau salam
Anda yang dibarengi dengan derai air mata yang
membasahi p**i Anda di saat Anda menghampiri kubur
kekasih Anda Rosululloh SAW. Adakah Anda sadari sesak
dan desak-desakan di tempat itu amat Anda nikmati?
Hingga Anda pun ingin bertahan lebih lama dalam
menghaturkan salam kepada Rosululloh SAW. Kaki Anda
pun Anda tancapkan kuat-kuat dilantai agar tidak
bergeser menjauh dari kekasih Anda. Akan tetapi yang di
belakang Anda adalah orang-orang yang seperti Anda,
para pecinta-pecinta Rosululloh SAW. Mereka dengan
semangat kerinduannya mendorong Anda dengan kuat
dan Anda pun tergeser ke tempat yang semakin jauh dari
kekasih Anda. Anda pun saat itu semakin rindu dan cinta
hingga ingin sekali untuk bisa mengulang-ulang kisah
kasih itu.
Seindah apapun suasana di Makkah dan Madinah, Anda
pun harus meninggalkan kota cinta yang penuh
kenangan itu, karena Anda ada janji dengan tanggung
jawab Anda di rumah.
Akan tetapi sadarilah! Suasana perjalanan seorang haji
menuju rumahnya sangat berbeda dengan suasana
keberangkatannya. Di saat berangkat ia membayangkan
akan indahnya ibadah di tanah suci. Akan tetapi saat
perjalanan pulang ada bayang-bayang tanpa disadari
menghantui seorang haji baru. Terbayang sanjungan
sanak saudara dan para sahabat. Terbetik di hati rasa
bangga akan gelar barunya sebagi haji. Dan beragam
godaan membuai hati sang haji. Buaian ini kadang
teramat kuat hingga seseorang begitu mudah melupakan
akan keindahan di kota suci. Sehingga mengenakan peci
putih dan gelar “H” yang ditempelkan bersama namanya
atau perkumpulan jama’ah haji yang direncanakan harus
diperhatikan dan dicermati. Jangan sampai semua
berubah menjadi atribut kesombongan dan penghantar
kepada kesia-siaan dalam ibadah haji. Dan sungguh
bayang-bayang yang menjerumuskan akan semakin jelas
di saat seorang haji dalam perjalanan pulang dari tanah
suci menuju rumahnya. Lebih-lebih di saat duduk di
rumah saat-saat awal keberadaannya di rumah saat
dikunjungi oleh para tamu yang memohon do’a.
Semoga Allah SWT memberikan kepada kita kesadaran
atas ini semua dan menjaga hati kita hingga senantiasa
tulus dalam beramal karena Allah SWT.
Wallahu a’lam bishshowab.
—000—