Center of Reform on Economics - CORE Indonesia

Center of Reform on Economics - CORE Indonesia Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Indonesia merupakan negara besar dengan potensi sumber daya dan letak geografis yang strategis.

Namun demikian, melimpahnya sumber daya tersebut, belum mampu mensejahterakan masyarakat sepenuhnya. Berbagai disorientasi maupun konflik kepentingan dalam pengelolaan kebijakan ekonomi, pada akhirnya tidak dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang besar, maju, dan disegani. Beragamnya masyarakat baik dari etnik, budaya, tingkat pendidikan dan lainnya, menuntut pendekatan dan keterlibatan yan

g merangkul semua unsur. Tentu hal ini menuntut peran serta yang lebih intensif dari masyarakat secara luas. Sebagai salah satu bentuk partisipasi kami dalam mewujudkan cita-cita luhur para pendiri negeri ini, kami sepakat untuk mendirikan sebuah think tank atau lembaga kajian bernama CORE Indonesia dengan melakukan kajian secara independen di bidang ekonomi. CORE merupakan akronim dari Center of Reform on Economics. Selain itu, seperti kita pahami bahwa dalam bahasa Inggris CORE berarti inti. Oleh sebab itu, kata ini kami pilih sebagai penyemangat bagi kami untuk ikut menyelesaikan berbagai permasalahan ekonomi pada inti masalahnya (core-nya). Sebab, selama ini kebijakan yang dipilih untuk mengatasi masalah publik cenderung mengutamakan citra dan kepentingan jangka pendek ketimbang menuntaskan inti masalah dan penyebab utamanya. CORE akan menjadi wadah bagi semua pihak yang memiliki kepedulian yang sama. CORE juga akan melakukan berbagai kajian dan diskusi dengan berbagai kalangan untuk mencari alternatif solusi atas berbagai masalah ekonomi yang tengah dihadapi. CORE berharap dapat menjadi mitra bagi pengelola negara, intelektual dan para pelaku usaha, untuk memberikan alternatif kebijakan yang lebih baik bagi kepentingan Indonesia.

06/06/2026

Pertumbuhan ekonomi sering dijadikan ukuran utama keberhasilan pembangunan. Namun, siapa yang menanggung biaya sosial di baliknya? Mengapa kerja perawatan yang menopang keluarga, komunitas, dan masyarakat justru sering tidak terlihat dalam perhitungan ekonomi?

Di tengah berkembangnya ekonomi digital, hilirisasi, dan berbagai agenda transformasi ekonomi, perempuan masih menghadapi berbagai hambatan dalam memperoleh akses, posisi tawar, dan ruang partisipasi yang setara. Norma sosial yang mengakar serta kebijakan yang belum sepenuhnya sensitif gender membuat banyak perempuan masih mengalami ketidaksetaraan, termasuk dalam kerja-kerja perawatan (care work) yang sering kali tidak terlihat, tidak dihitung, dan belum dihargai secara layak.

Di sinilah konsep New Economy menawarkan cara pandang yang berbeda. Alih-alih hanya berfokus pada pertumbuhan, pendekatan ini menempatkan keberlanjutan, keseimbangan, dan keadilan sosial sebagai tujuan utama transformasi ekonomi.

Lalu, apa tantangan utama dalam mendorong pergeseran dari ekonomi yang berorientasi pada pertumbuhan menuju sistem yang lebih berkelanjutan dan berkeadilan gender? Bagaimana kebijakan ekonomi dapat lebih responsif terhadap kerja perawatan dan kesetaraan gender tanpa mengabaikan tujuan pembangunan nasional?

Simak perbincangan dalam Podcast New Economy Exposed Episode 5, “Merawat Manusia, Merawat Ekonomi: Mengapa Care Work Harus Menjadi Fondasi New Economy?” bersama Dr. Abby Gina Boang Manalu (Dosen Departemen Filsafat Universitas Indonesia dan peneliti gender/feminisme) serta drg. Dea Safira, M.Sos., M.Ilkom. (pegiat hak perempuan dan dokter gigi), yang dipandu oleh peneliti CORE Indonesia, Aisha Fadhila dan Afdhal Mubarak.

Tonton selengkapnya di kanal YouTube CORE Indonesia https://youtu.be/2W5oU5hcJDc atau dengarkan melalui Spotify melalui tautan di bio.

CORE Indonesia mencatat pelemahan konsumsi pasca-Lebaran. Penjualan riil pada April 2026 diprakirakan anjlok -1,9% (YoY)...
05/06/2026

CORE Indonesia mencatat pelemahan konsumsi pasca-Lebaran. Penjualan riil pada April 2026 diprakirakan anjlok -1,9% (YoY) secara tahunan dan -10% (MoM) secara bulanan setelah mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan pada bulan Maret 2026 lalu.

Dari sisi moneter, sepanjang bulan Mei 2026, pasar keuangan domestik kembali mengalami tekanan capital outflow yang tinggi. Tekanan ini khususnya berasal dari aksi jual bersih oleh investor asing, di pasar saham. Tingginya tekanan di pasar saham yang tidak bisa diimbangi oleh offset di pasar surat berharga negara (SBN) ini, akhirnya mendorong lonjakan pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.865 per USD pada akhir Mei 2026. Ini sekaligus menjadi pelemahan terburuk pada tahun ini, dengan pelemahan bulanan mencapai 3,2%.

Sementara dari sisi fiskal, Defisit Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) sampai 30 April 2026 mencapai Rp164,4 triliun atau 0,64 persen PDB, memburuk dibandingkan tahun lalu.

Bagaimana analisis lengkap dan implikasinya terhadap perekonomian ke depan?

Baca selengkapnya pada CORE Monthly Review edisi Juni 2026 melalui scan QR core pada slide berikutnya atau klik 🔗pada Bio

Stabilitas rupiah pada akhirnya ditentukan oleh keselarasan antara pasokan valas, kepercayaan pada arah kebijakan, dan k...
04/06/2026

Stabilitas rupiah pada akhirnya ditentukan oleh keselarasan antara pasokan valas, kepercayaan pada arah kebijakan, dan kekuatan daya tahan sektor eksternal.

Penanganan depresiasi rupiah tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada Bank Indonesia. Beban stabilisasi tersebut perlu dibagi melalui dua jalur yang selama ini kurang dioptimalkan, yaitu pengelolaan pasokan valas domestik melalui pemastian ruang konversi dalam aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) dan pemulihan krebilitas fiskal.

Dalam jangka panjang, CORE Indonesia menilai bahwa kerentanan rupiah hanya dapat diatasi dengan memperbaiki struktur neraca pembayaran, mulai dari masalah ketergantungan pada ekspor komoditas, defisit pendapatan primer yang persisten hingga problem dangkalnya pasar keuangan.

Bagaimana analisa dan rekomendasi selengkapnya dari CORE Indonesia untuk pengambil kebijakan?

Baca selengkapnya COREinsight edisi 2 Juni 2026 "Misi Menyelamatkan Rupiah” dengan scan QR Code pada slide terakhir atau klik link di Bio

03/06/2026

“Sebab penjajahan yang [aling destruktif bukanlah merantai raga, melainkan. Yang menguasai alam pikiran dan menghegemoni kesadaran”

Begitu pesan penutup Aisha Fadhila (Project Manager CORE Indonesia) pada saat Community of Reader Enthusiasts (CORE) membedah buku tentang sejarah pergerakan perempuan di Indonesia.

Kira-kira teman-teman punya rekomendasi buku apa yang perlu kita diskusikan bareng-bareng dalam CORE (Community of Reader Enthusiasts) 📚?

Boleh tulis di kolom komentar ya ✍️

02/06/2026

Pelemahan terhadap rupiah yang masih terus terjadi hingga kini menambah tekanan kepada industri manufaktur Indonesia.

CORE Indonesia melalui kajian terbarunya dalam COREInsight “Badai PHK (Belum) Berlalu” telah mengulas dampak ‘imported inflation’ terhadap 4 industri manufaktur yang paling rentan.

Seperti apa rekomendasi lengkap CORE Indonesia untuk menghadapi situasi ini?

Baca selengkapnya COREInsight terbaru melalui klik link di Bio atau https://core-indonesia.com/core-insight/

What we face in the end may not be an economic crisis, but a crisis in the way we understand the economy itself. When gr...
26/05/2026

What we face in the end may not be an economic crisis, but a crisis in the way we understand the economy itself. When growth no longer guarantees justice and efficiency and fails to consistently deliver wel-fare, holding on to the old ways is no longer a neutral choice. And perhaps the most honest measure of progress is not how fast we grow, but how widely we can open the possibilities of a dignified life for all.

Swipe to the last slide to read the full opinion piece by Aisha Fadhila - (Project Manager of CORE Indonesia), titled ”Beyond growth, toward a liberating economy” which was published in Independent Observer Indonesia.

25/05/2026

Sementara dampaknya terhadap nilai tukar rupiahnya belum kuat, kenaikan BI Rate dapat menaikan semua biaya pinjaman seperti KPR, kartu kredit, pinjaman usaha dan lain-lain.

Simak selengkapnya interview iNews dengan ekonom CORE Indonesia, Dipo Satria Ramli pada 22 Mei 2026

Hilirisasi harus didorong dan perlu dimaknai lebih dari sekadar transformasi bahan mentah menjadi produk antara atau pro...
22/05/2026

Hilirisasi harus didorong dan perlu dimaknai lebih dari sekadar transformasi bahan mentah menjadi produk antara atau produk akhir, tetapi sebagai upaya memastikan bahwa manfaat ekonomi benar-benar mengalir dan dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Baca selengkapnya opini peneliti CORE Indonesia, Huzni Mubarok, “Mimpi Hilirisasi di Bumi Laskar Pelangi" di Katadata.co.id

Siaran Pers (22 Mei 2026):Tiga Catatan Kritis CORE Indoesia atas Pembentukan Badan EksporRencana pemerintah untuk mengub...
22/05/2026

Siaran Pers (22 Mei 2026):
Tiga Catatan Kritis CORE Indoesia atas Pembentukan Badan Ekspor

Rencana pemerintah untuk mengubah sistem perdagangan ekspor komoditas strategis perlu diiringi dengan kajian yang sangat matang sebelum diimplementasikan penuh. Sebab, kebijakan ini akan mengubah sepenuhnya peta perdagangan sumber daya alam (SDA) Indonesia.

Membaca dokumen draf PP yang beredar, CORE Indonesia menilai detail eksekusi, kejelasan kelembagaan, kesiapan infrastruktur, dan—yang paling mendesak—ketepatan waktu penerapannya masih menyimpan persoalan serius yang berisiko membuat kebijakan ini kontraproduktif.

Baca selengkapnya “Tiga Catatan Kritis CORE Indonesia atas Pembentukan Badan Ekspor” melalui scan QR Code pada slide berikutnnya atau klik 🔗 pada Bio

21/05/2026

Dalam dunia kerja era digital saat ini, anak muda penting membekali diri dengan pemikiran kritis

Tapi mengapa kita tidak perlu menjadikan ‘gig work’ sebagai impian pekerjaan tetap?

Simak pembahasannya dalam Podcast New Economy Exposed Episode 4 “Wajah Baru Dunia Kerja di Era Digital, Bagaimana Perlindungan terhadap Hak Pekerja?” bersama Denni Puspa Purbasari dan Tirza R. Munusamy, yang dipandu oleh dua peneliti CORE Indonesia, Fitri Yana dan Achmad Hanif.

Tonton selengkapnya melalui channel YouTube CORE Indonesia atau Spotify dengan klik tautan di bio.

Address

Jalan Tebet Barat Dalam Raya No. 76A
Jakarta
12810

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Center of Reform on Economics - CORE Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Center of Reform on Economics - CORE Indonesia:

Share