26/02/2020
JASMERARAH
Soekarno Hatta Teman Sejati
Setia Menunggu Hatta saat mau membacakan Teks Proklamasi
Setia Menunggu Hatta saat ajal mau menjemputnya
..lebih baik saya yg robek dan hancur ,drpd bangsa saya harus perang saudara...tegas B**g Karno kpd Ajudannya"
(Jiwa Besar Sang Proklamator)
Tak Seindah Jasanya Memerdekakan Negeri Ini....
Tak lama setelah misi tidak percaya Parlemen bentukan Nasution di tahun 1967 dan MPRS menunjuk Soeharto sebagai Presiden RI, B**g Karno menerima surat untuk segera meninggalkan Istana dalam waktu 2 X 24 Jam.
B**g Karno tidak diberi waktu untuk menginventarisir barang-barang pribadinya. Wajah-wajah tentara yang mengusir B**g Karno tidak bersahabat lagi. "Bapak harus cepat meninggalkan Istana ini dalam waktu dua hari dari sekarang!".
B**g Karno pergi ke ruang makan dan melihat Guruh sedang membaca sesuatu di ruang itu. "Mana kakak-kakakmu" kata B**g Karno. Guruh menoleh ke arah Bapaknya dan berkata "Mereka pergi ke rumah Ibu".
Rumah Ibu yang dimaksud adalah rumah Fatmawati di Jalan Sriwijaya, Kebayoran Baru. B**g Karno berkata lagi "Mas Guruh, Bapak tidak boleh lagi tinggal di Istana ini lagi, kamu persiapkan barang-barangmu, jangan kamu ambil lukisan atau hal lain, itu punya negara". Kata B**g Karno,
lalu B**g Karno melangkah ke arah ruang tamu Istana disana ia mengumpulkan semua ajudan-ajudannya yang setia. Beberapa ajudannya sudah tidak kelihatan karena para ajudan b**g karno sudah ditangkapi karena diduga terlibat Gestapu. "Aku sudah tidak boleh tinggal di Istana ini lagi, kalian jangan mengambil apapun, Lukisan-lukisan itu, Souvenir dan macam-macam barang. Itu milik negara.
Semua ajudan menangis saat tau B**g Karno mau pergi "Kenapa bapak tidak melawan, kenapa dari dulu bapak tidak melawan..." Salah satu ajudan separuh berteriak memprotes tindakan diam B**g Karno.
"Kalian tau apa, kalau saya melawan nanti perang saudara, perang saudara itu sulit jikalau perang dengan Belanda jelas hidungnya beda dengan hidung kita. Perang dengan bangsa sendiri tidak, wajahnya sama dengan wajahmu...keluarganya sama dengan keluargamu, lebih baik saya yang robek dan hancur daripada bangsa saya harus perang saudara". tegas b**g karno kepada ajudannya.
Tiba-tiba beberapa orang dari dapur berlarian saat mendengar B**g Karno mau meninggalkan Istana. "Pak kami memang tidak ada anggaran untuk masak, tapi kami tidak enak bila bapak pergi, belum makan. Biarlah kami patungan dari uang kami untuk masak agak enak dari biasanya".
B**g Karno tertawa "Ah, sudahlah sayur lodeh basi tiga hari itu malah enak, kalian masak sayur lodeh saja. Aku ini perlunya apa..."
Di hari kedua saat B**g Karno sedang membenahi baju-bajunya datang perwira suruhan Orde Baru. "Pak, Bapak harus segera meninggalkan tempat ini". Beberapa tentara sudah memasuki ruangan tamu dan menyebar sampai ke ruang makan.
Mereka juga berdiri di depan B**g Karno dengan senapan terhunus. B**g Karno segera mencari koran bekas di pojok kamar, dalam pikiran B**g Karno yang ia takutkan adalah bendera pusaka akan diambil oleh tentara.
Lalu dengan cepat B**g Karno memb**gkus bendera pusaka dengan koran bekas, ia masukkan ke dalam kaos oblong, B**g Karno berdiri sebentar menatap tentara-tentara itu, namun beberapa perwira mendorong tubuh B**g Karno untuk keluar kamar.
Sesaat ia melihat wajah Ajudannya Maulwi Saelan ( pengawal terakhir b**g karno ) dan B**g Karno menoleh ke arah Saelan.
"Aku pergi dulu" kata B**g Karno dengan terburu-buru. "Bapak tidak berpakaian rapih dulu, Pak" Saelan separuh berteriak.
B**g Karno hanya mengibaskan tangannya. B**g Karno langsung naik VW Kodok, satu-satunya mobil pribadi yang ia punya dan meminta sopir diantarkan ke Jalan Sriwijaya, rumah Ibu Fatmawati.
Di rumah Fatmawati, B**g Karno hanya duduk seharian saja di pojokan halaman, matanya kosong. Ia meminta bendera pusaka dirawat hati-hati. B**g Karno kerjanya hanya mengguntingi daun-daun di halaman.
Kadang-kadang ia memegang dadanya yang sakit, ia sakit ginjal parah namun obat yang biasanya diberikan sudah tidak boleh diberikan. Sisa obat di Istana dibuangi.
Suatu saat B**g Karno mengajak ajudannya yang bernama Nitri gadis Bali untuk jalan-jalan. Saat melihat duku, B**g Karno kepengen duku tapi dia tidak punya uang. "Aku pengen duku, ...Tri, Sing Ngelah P*s, aku tidak punya uang" Nitri yang uangnya pas-pasan juga melihat ke dompetnya, ia merasa cukuplah buat beli duku sekilo.
Lalu Nitri mendatangi tukang duku dan berkata "Pak Bawa dukunya ke orang yang ada di dalam mobil". Tukang duku itu berjalan dan mendekat ke arah B**g Karno. "Mau pilih mana, Pak manis-manis nih " sahut tukang duku dengan logat betawi kental.
B**g Karno dengan tersenyum senang berkata "coba kamu cari yang enak". Tukang Duku itu mengernyitkan dahinya, ia merasa kenal dengan suara ini. Lantas tukang duku itu berteriak "Bapak...Bapak....Bapak...Itu Bapak...Bapaak" Tukang duku malah berlarian ke arah teman-temannya di pinggir jalan" Ada Pak Karno, Ada Pak Karno...." mereka berlarian ke arah mobil VW Kodok warna putih itu dan dengan serta merta para tukang buah memberikan buah-buah pada B**g Karno.
Awalnya B**g Karno tertawa senang, ia terbiasa menikmati dengan rakyatnya. Tapi keadaan berubah kontan dalam pikiran B**g Karno, ia takut rakyat yang tidak tau apa-apa ini lantas digelandang tentara gara-gara dekat dengan dirinya. "Tri, berangkat ....cepat" perintah B**g Karno dan ia melambaikan ke tangan rakyatnya yang terus menerus memanggil namanya bahkan ada yang sampai menitikkan air mata. Mereka tau pemimpinnya dalam keadaan susah.
Mengetahui bahwa B**g Karno sering keluar dari Jalan Sriwijaya, membuat beberapa perwira pro Suharto tidak s**a. Tiba-tiba satu malam ada satu truk ke rumah Fatmawati dan mereka memindahkan B**g Karno ke Bogor. Di Bogor ia dirawat oleh Dokter Hewan!...
B**g Karno lalu dibawa ke Wisma Yaso, tapi kali ini perlakuan tentara lebih keras. B**g Karno sama sekali tidak diperbolehkan keluar dari kamar. Seringkali ia dibentak bila akan melakukan sesuatu, suatu saat B**g Karno tanpa sengaja menemukan lembaran koran bekas b**gkus sesuatu, koran itu langsung direbut dan ia dimarahi.
Kamar B**g Karno berantakan sekali, jorok dan bau. Memang ada yang merapikan tapi tidak serius. Dokter yang diperintahkan merawat B**g Karno, dokter Mahar Mardjono nyaris menangis karena sama sekali tidak ada obat-obatan yang bisa digunakan B**g Karno.
Ia tahu obat-obatan yang ada di laci Istana sudah dibuangi atas perintah seorang Perwira Tinggi. Mahar Mardjono hanya bisa memberikan Vitamin dan Royal Jelly yang sesungguhnya hanya madu biasa. Jika sulit tidur B**g Karno diberi Va**um, Sukarno sama sekali tidak diberikan obat untuk meredakan sakit akibat ginjalnya tidak berfungsi.
Bahkan ada satu pas**an khusus KKO dikabarkan sempat menembus penjagaan B**g Karno dan berhasil masuk ke dalam kamar B**g Karno, tapi B**g Karno menolak untuk ikut karena itu berarti akan memancing perang saudara.
Pada awal tahun 1970 B**g Karno datang ke rumah Fatmawati untuk menghadiri pernikahan Rachmawati. B**g Karno yang jalan saja susah datang ke rumah isterinya itu. Wajah B**g Karno bengkak-bengkak.
Ketika tau B**g Karno datang ke rumah Fatmawati, banyak orang langsung berbondong-bondong ke sana dan sesampainya di depan rumah mereka berteriak "Hidup B**g Karno....hidup B**g Karno....Hidup B**g Karno...!!!!!"
Masuk ke bulan Februari penyakit B**g Karno parah sekali ia tidak kuat berdiri, tidur saja. Tidak boleh ada orang yang bisa masuk. Ia sering berteriak kesakitan. Biasanya penderita penyakit ginjal memang akan diikuti kondisi psikis yang kacau.
Ia berteriak " Sakit....Sakit ya Allah...Sakit..." tapi tentara pengawal diam saja karena diperintahkan begitu oleh komandan. Sampai-sampai ada satu tentara yang menangis mendengar teriakan B**g Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa memendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa kemanusiaan itu.
Hatta yang dilapori kondisi B**g Karno menulis surat pada Suharto dan mengecam cara merawat Sukarno. Di rumahnya Hatta duduk di beranda sambil menangis sesenggukan, ia teringat sahabatnya itu. Lalu dia bicara pada isterinya Rachmi untuk bertemu dengan B**g Karno.
"Kakak tidak mungkin kesana, B**g Karno sudah jadi tahanan politik" ujar istri b**g hatta.
Hatta menoleh pada isterinya dan berkata "Sukarno adalah orang terpenting dalam pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kami itu lumrah tapi aku tak tahan mendengar berita Sukarno disakiti seperti ini".
Hatta menulis surat dengan nada tegas kepada Suharto untuk bertemu Sukarno, ajaibnya surat Hatta langsung disetujui, ia diperbolehkan menjenguk B**g Karno.
Hatta datang sendirian ke kamar B**g Karno yang sudah hampir tidak sadar, tubuhnya tidak kuat menahan sakit ginjal. B**g Karno membuka matanya. Hatta terdiam dan berkata pelan "Bagaimana kabarmu, No" kata Hatta ia tercekat mata Hatta sudah basah.
B**g Karno berkata pelan dan tangannya berusaha meraih lengan Hatta "Hoe gaat het met Jou?" kata B**g Karno dalam bahasa Belanda - Bagaimana p**a kabarmu, Hatta - Hatta memegang lembut tangan B**g Karno dan mendekatkan wajahnya, air mata Hatta mengenai wajah B**g Karno dan B**g Karno menangis seperti anak kecil.
Dua proklamator bangsa ini menangis, di sebuah kamar yang bau dan jorok, kamar yang menjadi saksi ada dua orang yang memerdekakan bangsa ini di akhir hidupnya merasa tidak bahagia, suatu hub**gan yang menyesakkan dada.
Tak lama setelah Hatta p**ang, B**g Karno meninggal. Sama saat Proklamasi 1945 B**g Karno menunggui Hatta di kamar untuk segera membacai Proklamasi, saat kematiannya-pun B**g Karno juga seolah menunggu Hatta dulu, baru ia berangkat menemui Tuhan.
**gKarno
Risma Mahandika
Ali Idris
Salamun Sal