17/11/2017
*MANAJEMEN STRES PADA IBU*
_Oleh: Fina Febriani, M.Psi., Psikolog_
*A. Mengenal Stres*
Feldman (dalam Widury, 2008) mendefinisikan stres sebagai proses menilai suatu peristiwa sebagai sesuatu yang mengancam, menantang, ataupun membahayakan, dan individu merespons peristiwa itu pada level psikologis, emosional, kognitif, dan perilaku. Dalam KBBI, stres juga diartikan sebagai ketegangan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor dari luar.
Suatu peristiwa dikatakan _stressful_ atau tidak bergantung pada respons individu yang menghadapinya. Peristiwa yang sama bisa jadi membuat stres satu individu, namun tidak yang lain.
Stres tidak selamanya buruk. Dalam batasan tertentu, manusia butuh stres untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Stres yang dihadapi dengan cara-cara yang positif dapat dikatakan sebagai stres yang sehat _(eustress)_. Contoh: Stres menyambut ujian mendorong kita untuk lebih serius belajar.
Sebaliknya, stres yang dihadapi dengan cara-cara yang negatif dapat dikatakan sebagai stres yang tidak sehat _(distress)_. Contoh: Stres karena kehilangan pekerjaan membuat individu menjerumuskan diri pada perilaku mabuk-mabukan.
*B. Mengapa Penting Bagi Ibu Mengelola Stres?*
Alasan pertama, karena ibu adalah jantung keluarga. Ibu yang bahagia akan melahirkan keluarga yang bahagia.
Alasan kedua, ibu adalah pendidik pertama bagi anak-anak. Cara ibu menghadapi tekanan akan menjadi model bagi anak-anak.
Alasan ketiga, stres yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan:
1. Masalah psikologis yang serius, seperti depresi berat maupun gangguan lainnya.
2. Menurunnya kekebalan tubuh, yang nantinya dapat memicu munculnya berbagai penyakit fisik, seperti asma, tekanan darah tinggi, jantung koroner, dan gangguan pada kulit.
3. Terganggunya kesehatan janin pada ibu hamil dan berkurangnya produksi ASI pada ibu menyusui.
4. Menularnya emosi negatif pada anak, yang bisa berpengaruh pada munculnya perilaku yang negatif p**a, seperti rewel, sulit diatur, dll.
5. Rusaknya hubungan ibu dengan orang-orang sekitarnya karena ibu cenderung mudah tersinggung, marah, atau bahkan ingin menyendiri.
*C. Langkah Mengelola Stres*
_*1. Kenali Sumber atau Penyebab Stres*_
Pada ibu, umumnya sumber stres meliputi:
- Konflik dengan pasangan atau anggota keluarga lainnya
- Anak tantrum atau tidak kooperatif
- Rumah berantakan
- Kondisi keuangan keluarga tidak stabil
- Pekerjaan menumpuk, baik di rumah maupun di kantor
- Rekan kerja atau tetangga yang tidak menyenangkan
- Komentar negatif dari lingkungan mengenai cara yang ibu pilih dalam mengasuh anak, dll.
_*2. Pilih Strategi Coping yang Sesuai dengan Sumber Stres*_
Secara umum, ada dua jenis strategi _coping_, yakni:
a. _Problem-focused coping_ _(change the situation)_ – mengatasi stres dengan mengubah situasi atau menyelesaikan masalah yang menjadi sumber stres.
b. _Emotion-focused coping_ _(change the response_) – mengatasi stres dengan melakukan hal-hal yang dapat menurunkan emosi negatif.
Pada situasi yang masih bisa kita ubah atau kita kontrol, sebaiknya pilih _problem-focused coping_ sehingga akar masalahnya bisa terselesaikan dan diharapkan tidak lagi memunculkan stres.
Contoh: Ibu pusing mendapati kenyataan bahwa kondisi keuangan keluarga ‘lebih besar pasak daripada tiang’. Maka, ibu mencoba mengatasinya dengan memangkas beberapa pos pengeluaran atau mencari penghasilan tambahan.
Pada situasi yang tidak bisa langsung kita ubah saat itu juga atau tidak bisa kita kontrol sama sekali, bisa gunakan _emotion-focused coping_.
Contoh: Ibu kesal melihat rumah yang baru saja dirapikan sudah bertransformasi kembali menjadi ‘kapal pecah’ karena mainan yang berserakan. Namun, karena anak-anak masih terlihat asyik bermain, ibu tidak tega menyuruh mereka berhenti sekarang. Akhirnya, untuk mengurangi kekesalan, ibu memilih melakukan hal yang ibu s**ai, makan es krim misalnya. 😋
_*3. Latih Keterampilan Mengelola Emosi*_
Black (2010) mengungkapkan bahwa stres berkaitan erat dengan emosi marah. Saat stres memuncak dan kepala ibu siap meledak untuk memuntahkan ekspresi kemarahan pada orang sekitar, coba lakukan tips ini:
a. _Stop_
Tekan tombol _pause_ pada diri ibu untuk menunda keluarnya kalimat kemarahan. Ada beberapa cara yang bisa membantu penundaan ini, diantaranya tarik napas panjang, pejamkan mata, kepal telapak tangan, berhitung 1-10 di dalam hati (jika sangat marah bisa sampai 100), paksakan diri untuk tersenyum, ubah posisi tubuh (dari berdiri menjadi duduk, dari duduk menjadi berbaring), pergi sejenak dari situasi yang memicu kemarahan, atau berwudhu. Berusahalah percaya bahwa kelak ibu akan mensyukuri penundaan ini sebagaimana ibu percaya bahwa ibu akan menyesal jika ekspresi kemarahan itu sempat termuntahkan, terlebih pada pasangan dan anak.
b. _Drop_
Setelah berhasil ditunda, stabilkan kembali emosi ibu dengan melakukan hal-hal yang bisa membuat ibu tenang. Prinsipnya sama dengan _emotion-focused coping_, bisa dengan dzikir, shalat, mendengarkan musik yang menenangkan, menulis, makan cokelat, dll. Ibu yang paling tahu cara yang cocok dengan ibu. Tujuan utama dari langkah ini adalah untuk mendapatkan kembali kejernihan berpikir ibu sehingga siap menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih baik.
c. _Process_
Setelah pikiran ibu kembali terang benderang, ibu bisa mulai menyelesaikan masalah utamanya. Bicara secara baik-baik dengan pihak yang baru saja berkonflik dengan ibu, sampaikan harapan-harapan ibu, dengarkan p**a keinginan-keinginan mereka, dan carilah titik temu yang bersifat _win-win_.
*D. Cara Meningkatkan Daya Tahan Ibu Terhadap Stres*
_*1. Perkuat Bekal Spiritual*_
Kedekatan seorang ibu dengan Tuhannya dapat membuatnya lebih tenang, tidak mudah panik ketika menghadapi masalah, dan memiliki ruang toleransi yang lebih besar terhadap hal-hal yang tidak sesuai harapan. Perkuat bekal spiritual dengan lebih rajin melakukan ibadah sunnah harian, seperti shalat malam, tilawah Quran, membaca buku agama, dll. Tingkatkan keyakinan bahwa masalah dihadirkan dalam hidup kita sebagai bentuk ujian yang berpotensi membuat kita naik kelas. Juga, tingkatkan keyakinan bahwa sebesar apapun masalah, ada Allah yang lebih besar yang siap kita mintakan bantuan.
_*2. Kelola Ekspektasi*_
Umumnya stres terjadi karena adanya ketimpangan antara harapan dan kenyataan. Maka, cobalah untuk mengelola ekspektasi. Hindari memasang standar terlalu tinggi pada sesuatu atau seseorang jika dirasa sulit untuk dicapai. Sebagai contoh, jika ibu masih mempunyai balita, mungkin ibu perlu menurunkan standar mengenai ‘rumah rapi dan kinclong’ mengingat balita ibu perlu ruang untuk eksplorasi dan ibu tidak punya cukup waktu dan tenaga untuk merapikan rumah setiap saat.
_*3. Cari Dukungan Sosial*_
Dukungan sosial juga berperan penting dalam membantu seseorang menghadapi tekanan, terlebih bagi kaum ibu yang kebutuhan utamanya saat menghadapi masalah adalah ‘curhat’. Cari orang yang bisa ibu percaya untuk dijadikan teman berbagi, bisa pasangan, orang tua, atau teman dekat.
_*4. Jalani Gaya Hidup Sehat*_
Pola makan yang sehat, olahraga, menjalankan hobi yang positif, menyeimbangkan aktivitas kerja dan liburan, dan terlibat dalam aktivitas sosial bisa membantu meningkatkan daya tahan terhadap stres.
_*5. Live present!*_
Stres juga seringkali muncul karena larut dalam kejadian di masa lalu atau cemas berlebihan akan masa depan. Benar bahwa kita perlu mengevaluasi masa lalu dan merencanakan masa depan, tapi tetaplah ingat, “Penyesalan tidak akan mengubah masa lalu dan kekhawatiran tidak akan mengubah masa depan” (Umar Bin Khaththab). Jadi, tetap berikan energi terbaik untuk melakukan yang terbaik di hari ini. :)
Selamat berbahagia, Ibu-ibu! 😘
Referensi:
___. (2017). _Emotion management_. Diunduh dari https://www.cleverism.com/skills-and-tools/emotion-management/ pada Selasa, 14 November 2017, pukul 20.00
Black, B. (2010). _The link between anger and stress_. Diunduh dari https://www.mentalhelp.net/blogs/the-link-between-anger-and-stress/ pada Selasa, 14 November 2017 pukul 20.30
Widury, J. (2008). Stres dan Kesehatan. Dalam Augustine, S.B (Ed). _Psikologi abnormal klinis dewasa_. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia
Interested in improving your emotion management skills and understanding why this soft skill is so important for your career advancement? We cover it all.