25/12/2017
Bun.. Tau ga...
Ternyata Peran istri dalam Qur'an lebih banyak disenggol ketimbang peran ibu dan pribadi sebagai bagian dari masyarakat dengan karyanya yang bermanfaat.
Subhanallah...PR jadi ibu aja yg porsinya Allah minta lebih sedikit daripada jadi istri begitu panjaaaaang dan rasanya tak akan cukup waktu untuk mengejar ketinggalan. Lah ini jadi istri yang porsinya jauh lebih besar apa kabar?
Bismillah semoga Allah mampukan
Gambaran emis yang masih banyak harus belajar ini, tugas kita sebagai istri itu seputar bagaimana kita mampu berperan sebagai pendorong kesuksesan suami, diantaranya:
1. Menjadi tempat suami p**ang melepas lelah, pun ketika mereka terkadang datang dengan kepenatannya dengan urusan mencari nafkah.
2. Kalo rumah tangga sedang diuji (biasanya ujian paling banyak itu masalah ekonomi), bukan serta merta langsung ikut menyingsingan lengan, ikut terjun mencari nafkah.
Mungkin disaat-saat sulit itu yang lebih suami butuhkan adalah recharge energy, ilmu, kebijaksanaan dan teman berbagi yang punya hati lapang. Bukan teman hidup yang sama-sama mau peras keringat.
Siapa yang akan mengambil peran itu kalo bukan kita?
Kalo dua2 nya capek mikirin masalah perut dan pencapaian dari semua cita2 dan keinginan yang tak pernah cukup itu, siapa yang akan mengganti peran seorang istri yang sebenernya dalam rumah tangga kita?
Tak heran banyak dari para istri yang masih merasa kalah peran dibanding ibu mertuanya atau bahkan orsng ke 3. Aaaaah masalah klasik yang sebenernya cukup solusinya dengan kembali menelaah apa yang sebenernya Allah harapkan dr kita sebagai muslimah yang punya peran indah sebagai istri dan ibu...
Kalo liat apa yang terjadi disekitar kita hari ini, meski istri dengan niat baiknya ingin membantu suami dalam urusan nafkah, ternyata mau tidak mau pasangan tersebut harus mau terima sepaket dengan ujian lainnya.
Ujiannya macem-macem, dimulai dari :
1. Suami harus sabar kurang diperhatikan kebutuhannya karena istri sama-sama capek,
2. Harus mau berbagi urusan Rumah Tangga sampai mengurus anak ( bahkan tak terhitung jumlahnya peran penting inidigantikan oleh pembantu) ,
3. โHingga ada yang harus menerima posisinya di rumah tangga, digeser Istri karena karir istri lebih menjulang dan pembawaannya yang lebih dominan.
Akhirnya tak jarang, kondisi ini memicu lahirnya peran PELAKOR. Banyak suami yang merasa kehilangan peran dalam tumah tangga, mencari sandaran jiwa lainnya.
4. Ada juga yang diamanahi suami yang memang sangat perlu difahamkan fungsinya sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah. Alias leha-leha dibalik istri yang tangguh. Naaah disini memang perlu kesabaran dan posisi kita sebagai istri yang dituntut memiliki kelapangan hati dan ilmu tidak menuntut mau solusi instan.
Aaah daripada capek mendidik dan mendorong suami, sepertinya lebih mudah jika kita yang ambil peran mencari nafkah sekaligus menjadi kepala keluarga, sebagai konsekuensi dari kegagalan masa lalu memilih jodoh tanpa ilmu Allah ๐๐๐.
Padahal ini bukan solusi, karena bisa jadi suami tambah tenggelam dengan kegagalannya, hingga hilanglah percaya dirinya. Tak jarang diposisi ini istri ambil langkah instan lainnya: BERPISAH! hingga mengorbankan anak-anak!
Aaaaaah... Mungkin saatnya kita membuka kembali lembaran usang bagaimana indahnya rumah tangga Rasulullah.
Dimulai dari pemilihan jodoh yang penuh kehati-hatian disertai ilmu, bukan syahwat. Hingga menjalankan kehidupan rumah tangganya yang sesuai dengan tuntunan Allah.
Betapa peran bunda Khadijah besar hingga Rasulullah tak pernah merasa ada lubang dihatinya yang kosong.
Khadijah layaknya Rumah yang besar, penuh kasih sayang, penuh kebijakan ilmu dan sumber energynya Rasulullah di masa senang bahkan lebih banyak masa sulitnya, tak pernah tergantikan dari masa kemasa bahkan oleh kecantikan, keremajaan dan kepintaran Aisyah sekalipun.
Kemampuannya sebagai pengusaha ekspor impor handal tidak membuatnya merasa berat untuk dinggalkan demi menyambut peran indahnya sebagai istri dan ibu.
Beliau percayakan bisnisnya pada suami dan lebih menyibukkan diri menjadi orang yang paling berperan dan bertanggung jawab dalam mendorong kesuksesan suami. Bahkan seluruh hartanya habis untuk peejuangan dakwah Rasulullah....
Dan Ia pun telah sukses mengambil peran sebagai seorang ibu. Ia lah yang melahirkan wanita beakhlak mulia dan agung, pemimpin muslimah penghuni surga: Fatimmah az-zahra...
Ada yang berbisik: Tak perlu kuantitas tp kualitas! Tak masalah jarang bertemu anak dan suami, asal kulitas tetap terjaga.
Hai para pembisik, Seberkualitas apa hasil yang mampu kita bayangkan? Sudahkah cara mendidik kita berkulitas seperti yang dicontohkan Rasulullah dan Bunda Khadijah?
Atau adakah yang nasibnya sama kaya emis? Yang masih kurang faham bagaimana si pola pendidikan Rasulullah dan bunda Khadijah, hingga mampu melahirkan generasi penakluk peradaban dunia????
Yuk nngaji Shirah!