R.C.H.P (Rain City Hooligan Persib)

R.C.H.P (Rain City Hooligan Persib) kami Bobotoh Berjiwa hooligan bukan keras akan anarkis tapi kami keras akan hati untuk medukung PERSIB tanpa ada yang lain WIN DRAW LOSE I M BOBOTOH

R.C.H.P (Rain City Hooligan PERSIB) adalah JIWA BOBOTOH PERSIB yang KERAS (tetapi tidak anarkis ataupun Rasis) kami menjujung Etika orang Sunda yang Lembut, Kami berdomisil di daerah BOGOR dan Sekitarnya, KERAS dalam arti Kami keras akan mendukung PERSIB Bandung dengan tanpa RASIS dan ANARKIS tetapi Creativitas yang Kami Cari. Kami adalah VIKING PERSIB CLUB Kami adalah The BOMBER (Bobotoh Maung

Bandung Bersatu) Kami adalah BOBOTOH PERSIB Bandung tetapi Jiwa Kami KERAS seperti R.C.H.P (Rain City Hooligan PERSIB) yang menjungjung Etika orang Sunda yang Lembut tanpa Rasis dan Anarkis. Kepalkan tangan Raih Kemenangan Hancurkan Ke tidak pastian dan Kebodohan itulah Jiwa R.C.H.P (Rain City Hooligan PERSIB) GO OR GO ! KAMI SIAP MELAWAN DAN SIAP DI LAWAN UNTUK PERSIB Bandung, ketika ada orang yang Melecehkannya !
\m/ PERSIB IS MY PRIDE \m/
\m/ HANCURKAN PERBEDAAN \m/

 http://simamaung.com/jadi-starteg-laly-dapat-pujian-dari-dejan/
08/05/2016



http://simamaung.com/jadi-starteg-laly-dapat-pujian-dari-dejan/

Sebuah kejutan dibuat oleh Dejan Antonic ketika mencadangkan Atep dalam partai kontra Pusamania Borneo FC kemarin. Dia lebih memilih David Laly yang turun sejak menit awal guna menyisir sisi kiri lini serang Persib Bandung bersama Tony Sucipto. Hasilnya bagus karena beberapa kali sentuhan winger Pap...

18/01/2015

terima kasih untuk anda yg sudah dan akan LIKE FanPage ini smoga keterbaikans ada di dalam diri kita, HIDUP PERSIB !

13/11/2014

TANGGUNG JAKARTA SAKALIAN!

“Nyaho akhirna kieu keneh mah geus
weh final teh di Jakarta! ” – kalimat
emosional seorang teman yang kesal
bercampur sedih sepulang dari
Palembang usai menyaksikan
langsung laga final ISL antara Persib
vs Persipura di Jakabaring via jalur
darat (bus).
Kalimat dalam Bahasa Sunda yang
terucap tersebut merupakan bentuk
kekecewaan kekesalan setidaknya
kepada dua pihak; PT. Liga
Indonesia dan Kepolisian Jakarta
(Baik itu Polda Metrojaya maupun
Polres-Polres dibawahnya). PT. Liga
yang tidak konsisten, semenjak awal
sudah diputuskan bahwa laga
Semifinal dan Final akan digelar di
Jakarta. Namun atas berbagai
pertimbangan akhirnya venue
digeser ke sebrang pulau. Palembang
menjadi pilihan.
Alasan keamanan menjadi
pembenaran atas pemindahan venue
yang mendadak tersebut. Namun
apa hasilnya? Rombongan bobotoh
yang hendak menuju Palembang
jelang laga semifinal dihajar di
Jakarta oleh sekelompok suporter
Persija, kaca beberapa bus hancur!
Puncaknya ketika bobotoh ingin
segera sampai ke Kota Bandung
untuk merayakan gelar Juara,
bobotoh kembali mendapat
hadangan dari suporter ibu kota itu.
Puluhan bus hancur, Mobil pribadi
hancur, yang lebih parah puluhan
bobotoh mengalami luka, beberapa
diantaranya luka berat dan harus
dirawat di rumah sakit hingga
sekarang.
Tidak sampai disitu, bobotoh yang
nyata-nyata menjadi korban suporter
Persija (yang ahli tawuran) itu justru
disalahkan atas insiden yang terjadi
dini hari tersebut. Pemberitaan di
berbagai media menyudutkan
bobotoh. Bobotoh dianggap
melakukan provokasi sehingga
timbulah bentrokan.
Ayo berpikir, kejadian sekitar jam
satu sampai dua dini hari, bobotoh
dalam keadaan lelah dan ingin
segera sampai di Bandung,
bagaimana mungkin bobotoh
bergairah turun dari bus dan
melakukan provokasi? Lantas, sedang
apa suporter Persija di jalan TOL
dini hari begitu kalau bukan untuk
menyerang rombongan bobotoh?
Salah satu media sudah
mengklarifikasi bahwa berita yang
mereka buat sepenuhnya merupakan
rilis dari Polda Metrojaya
(selanjutnya saya sebut Polisi
Jakarta). Polisi Jakarta yang hingga
hari ini yakin bahwa bobotohlah
yang memprovokasi dan memicu
insiden.
Polisi Jakarta juga yang tidak bisa
menjelaskan sedang apa suporter
Persija bergerombol di jalan TOL
saat dini hari. Polisi Jakarta juga
yang tidak memberikan izin
keramaian agar laga semifinal dan
final bisa digelar di Jakarta. Polisi
Jakarta yang sebetulnya bertugas
untuk mengamankan pertadingan
sepakbola, bukan memindahkan.
Kembali pada kalimat di awal, kalau
pada akhirnya tetap terjadi
bentrokan, sampai puluhan korban
berjatuhan. Untuk apa dipindah ke
sebrang pulau?
Didedikasikan untuk PT. Liga
Indonesia dan Kepolisian Jakarta,
oleh

04/11/2014

kejanggalan semifinal yg multi tafsir

Berbalut langit biru cerah, Makan
Konate tersenyum sumringah di
antara koreo Viking "Kudu Juara"
yang indah. Kian indah, sebuah
kalimat tertulis di sana, "BOBOTOH
ADALAH NAFAS DARI SETIAP
PERJUANGAN PERSIB".
Baru dua hari lalu rasanya kita yang
datang mengunjungi official website
PERSIB ini diambut pop up itu. Pop
up yang dipasang demi menggenjot
animo pendukung PERSIB agar
datang langsung menyemangati
Pangeran Biru-nya dari pinggir
lapangan di semifinal dan final.
Sebuah pengakuan dari klub kalau
mereka tetap membutuhkan Bobotoh
di dua laga penentuan juara musim
ini.
Sekarang, pop up ini juga masih
terpampang. Tapi, kadar
keindahannya seolah berkurang.
Tragis dan drastis.
***
Benar, semua insan sepak bola
Indonesia menginginkan perubahan.
Tapi bukan berarti perubahan
jadwal, keputusan, dan hukuman
yang datang tiba-tiba.
Adalah surat keputusan PT Liga
Indonesia bernomor 1573/Liga/
XI/2014 yang menghilangkan
keindahan ini. Kata si surat, PERSIB
dilarang bersuporter, Maung
Bandung haram berpendukung, tak
boleh ada warna biru kala Pangeran
Biru berjibaku di semifinal dan final.
Surat itu bak petir di siang bolong.
Mengejutkan sekaligus menyakitkan
karena datang sehari sebelum
pertandingan PERSIB di semifinal
digulirkan. Terlambat, karena ribuan
Bobotoh sudah mengarungi lautan
samudra demi membuktikan
cintanya.
Maklum mungkin masih bisa
diberikan kepada si surat terlambat
ini jika ia dikirimkan dengan amplop
berperangko. Tolelir mungkin masih
diberikan jika Pak Pos yang
mengantarnya harus bersusah payah
membelah kemacetan Bandung dari
Jalan Banda hingga ke Jalan
Sulanjana.
Tapi ini tidak. Karena surat
dikirimkan dengan teknologi
internet. Keterlambatan bukan
karena pengiriman, tapi seolah si
surat hari itu juga diputuskan,
ditandatangani dan dikirimkan.

26/10/2014

alhamdulilah dulur menang dei :D saallah PERSIB JUARA

25/10/2014

Ancaman didegradasikan merupakan sebuah ancaman yg sangat aneh juga Dimana disini "PERSIB" menjadi
lahan kebutuhan hidup mereka utk berdasi

24/10/2014

selamat tahun baru Islam 1436 Hijriah, awal tahun pribadi gy lebih baik and Persib JUARA

18/09/2014

11 Maret 2012 Firm kami terbentuk dari sekumpulan anak muda peCinta Persib yg berdomisil di Bogor dan sekitarnya sampai detik ini kami masi menjaga harga diri PERSIB

15/09/2014

Bocah ingusan itu bernama Ferdinal alfred sinaga

Suatu ketika pada satu sesi
training Chelsea seorang
raja asal Italia bernama Zola
melakukan tekel teramat
keras. Keadaan baik-baik
saja sampai ada seorang
bocah ingusan bernama
John Terry datang
menghampiri dan
membentak Zola. “Hei, itu
keterlaluan, apa yang kamu
lakukan? Mau mematahkan
kakinya?” teriak Terry kepada
Zola.
Seluruh anggota tim terlihat
kaget dengan apa yang Terry
lakukan. Jody Morris teman
‘nakal’ seperjuangan John
Terry sampai harus
berkomentar “bagaimana
bisa seorang pemain
ingusan seperti Terry bisa
memarahi Zola didepan satu
anggota tim, tidak pernah
ada orang yang berani
melakukan itu terhadap
Zola, bahkan seorang
Marcell Desailly pun tidak
akan pernah melakukannya”
ucap Jody Morris. Sebuah
kejadian legendaris dalam
sesi training Chelsea yang
akhirnya harus terjadi.
Gianfranco Zola di London
julukannya adalah “King”
alias raja. Dia merupakan
salah satu legiun asing
tersukses dan disegani di
seantero Inggris raya. Jika
anda mencari 10 pemain
asing tersukses di Liga
Inggris sepanjang masa di
mesin pencari google, Zola
sudah pasti ada di list
teratas, tidak mungkin tidak.
Segala atribusi itu tidak
berlaku bagi John Terry.
Reaksinya terhadap tekel
Zola merupakan salah satu
bentuk perlawanan dan jiwa
kepemimpiman yang
ternyata benih-benihnya
sudah ada sejak dia kecil,
Terry merasa tidak ada yang
salah dengan itu.
Hingga akhirnya seorang
raja bernomor punggung 25
itu harus pensiun dari
Chelsea untuk kembali ke
Italia. Saat sesi wawancara
menjelang Zola pulang
kampung, jurnalis bertanya
“apa pesan untuk Chelsea
sebelum anda pergi?” Zola
dengan tegas menjawab
“Chelsea harus mulai
memperhatikan potensi John
Terry. Dia akan tumbuh
menjadi pemain besar jika
diberikan kesempatan”.
Sebuah pesan dari sang
legenda yang ternyata
terbukti kebenarannya. Terry
bukan saja tumbuh menjadi
pemain besar lagi, tetapi dia
yang menyandang ban
kapten Chelsea hingga kini.
Memenangkan Liga Inggris
setelah 50 tahun tidak
pernah juara, memenangkan
Liga Champions untuk
pertama kalinya, lalu
menjadi kapten tim nasional
Inggris. Bocah ingusan yang
membentak Zola pada sesi
latihan itu kini benar-benar
menjadi pemain besar.
Ucapan Zola adalah doa?
Entahlah…
Berpindah ke bagian bumi
yang lain, Hari itu di stadion
Siliwangi Bandung tahun
2007. Skuad Persib asuhan
seorang Moldova bernama
Arcan Iiurie melakukan
ujicoba melawan juniornya.
Prototype pemain junior
Bandung selalu sama ketika
melawan tim senior dari
tahun ke tahun. Bermain
sopan, tidak boleh kasar,
takut melakukan tekel,
bangga bisa satu lapangan
dengan para senior sambil
sesekali berkhayal suatu
saat mereka bisa di posisi
para senior yaitu
menggunakan jersey Persib
senior. Sama halnya dengan
para pemain senior. Merasa
sebagai pemain senior,
mereka seperti haram untuk
kalah. Gengsi dan marah
ketika ditekel.
Terlalu menghargai senior
dan someah. Ini yang lazim
terjadi jika tim junior Persib
sedang berhadapan dengan
seniornya. Sikap bangga
akan tim ini mengalahkan
rasa bahwa sebetulnya
selama 90’ menit dilapangan
apapun yang terjadi
lawanmu adalah lawanmu
yang harus dikalahkan.
Sampai pada satu kejadian
dimana ada bocah kecil,
botak, berlari sangat cepat
dan bermain ngotot.
Kemudian diketahui anak itu
bernama Ferdinand Alfred
Sinaga. Ferdinand hari itu
bermain sangat merepotkan
Patricio Jimenez, seorang
libero paling stylish yang
pernah ada di Persib asal
Chile.
Pato Jimenez ditekuk,
digocek, diajak sprint, dan
yang paling membuat malu
adalah Jimenez “dikolongin”
alias di nutmeg oleh
Ferdinand. Hal yang
membuat bobotoh tertawa
melihat kejadian itu.
Jimenez tidak terima
diperlakukan seperti itu
hingga pada satu
kesempatan ketika Ferdinand
sedang menguasai bola,
Pato berlari lalu menghajar
tulang kering Ferdinand.
Bukannya jatuh dan
kesakitan, Ferdinand malah
bangkit dan berdiri untuk
membentak Jimenez, Pato
yang merasa lebih senior
membentak balik. Unik,
Ferdinand tidak mundur
sedikitpun malah maju
untuk melawan. Hal paling
rock n roll yang pernah saya
lihat untuk ukuran bocah
berumur 19 tahun.
Keributan sekitar 10 menit
yang harus dipisahkan oleh
kedua belah tim. Partai
dilanjutkan, bukannya
menghindar, Ferdinand
malah “menantang” Jimenez
untuk kembali berduel.
Alhasil keributan – keributan
kecil terjadi lagi hingga
akhirnya Ferdinand harus
ditarik keluar untuk diganti.
Bobotoh yang hadir di
Siliwangi saat itu sontak
meneriaki Ferdinand.
Beberapa ada yang
melempar dengan botol air
mineral. Pemandangan yang
jarang terjadi untuk sebuah
partai persahabatan.
Ferdinand yang masih emosi
keluar dengan hujatan dan
makian dari bobotoh.
Hingga akhirnya Arcan Iiurie
harus keluar dari bench
untuk menghampiri
Ferdinand. Mulanya Arcan
menyalami Ferdinand, untuk
kemudian ia memeluk
Ferdinand agak lama dan
menepuk pundaknya. Di
akhir pertandingan, pelatih
beruban itu menjelaskan
alasan kenapa dia memeluk
Ferdinand. “Dia pemain
bagus. Percayalah dia akan
menjadi pemain besar” ucap
Arcan Iiurie.
Waktu berlalu, tujuh tahun
kemudian anak ingusan yang
mengolong-ngolongi Pato
Jimenez itu tumbuh menjadi
penyerang asli produk
Bandung yang paling
produktif. Siapa pemain
Bandung yang selama tiga
musim terakhir rasio golnya
selalu diatas 10 gol per
musim di liga level top
flight? tidak ada. Hanya
Ferdinand yang mampu
melakukannya. 10 gol di
Persiwa Wamena musim
2010/2011 termasuk golnya
ke gawang Cecep Supriatna
di Si Jalak Harupat, Topskor
IPL mengalahkan duetnya
Edward Wilson Junior di
Semen Padang dengan 16
gol musim 2011/2012,
kemudian memproduksi 10
gol lagi bersama Persisam
Samarinda di musim
berikutnya. Produktif dan
Stabil.
Waktu pengembaraannya
sudah selesai seiring dengan
panggilan pulang yang
dilakukan oleh gurunya
Djadjang Nurjaman. Djanur
dan Ferdinand sebelumnya
pernah berkolaborasi
mempersembahkan emas
untuk Kota Bandung pada
Porda Karawang tahun 2006
dan menjuarai ISL U21
tahun 2009 bersama Pelita
Jaya junior. Lebih dari itu,
Ferdinand kecil sering tidur
di rumahnya Djanur. Djanur
sudah bukan lagi pelatih di
mata Ferdinand melainkan
seperti orang tuanya sendiri.
Waktu untuk mematangkan
di Batang, Magelang,
Wamena, Padang dan
Samarinda dirasa sudah
cukup. Ferdinand akhirnya
pulang kerumahnya, Persib
Bandung. Djanur dan
Ferdinand kali ini mencoba
mengulang chemistry
kesuksesan mereka
sebelumnya di tanah yang
sudah berjasa membesarkan
karir mereka.
Bangga rasanya melihat
Ferdinand memimpin tim ini
di Inter Island Cup bersama
Atep dan Tantan di lini
serang. Tiga pituin yang
menghabiskan masa kecil
sepakbolanya di Bandung
sekarang mimpinya
terwujud, bermain untuk
jersey biru Persib.
Saya lalu teringat omongan
Arcan Iiurie di Siliwangi
tujuh tahun lalu.
Omomngan Arcan adalah
doa? Entahlah…
Selalu ada sisi menarik dari
seorang badboy semodel
John Terry dan Ferdinand.
Mereka berdua adalah
contoh badboy yang sukses.
Bandel, nakal, urakan, liar
tetapi dirindukan dan
diandalkan. Setelah Boy Jati
Asmara, akhirnya kita bisa
melihat lagi pemain yang
bermain penuh semangat,
meledak-ledak dan tidak
takut akan apapun.
Pengalamannya bermain
diluar Bandung telah
menguatkan karakternya.
Kita melihat Boy Jati Asmara
dengan level yang lebih
canggih pada diri Ferdinand.
Akhirnya kita bisa melihat
garda terdepan orang yang
maju untuk berperang dalam
dirinya. Seakan melihat Will
Smith dalam film Hancock,
pahlawan memang tidak
selalu harus berasal dari
orang yang bersih suci.
Ferdinand Alfred Sinaga
adalah sosok anti-hero yang
keren. Menjadi pahlawan
dari sisi yang “kotor”.
Jika waktu memang berulang
dan dejavu itu benar ada,
mari berharap pada tweet
Ferdinand pada tanggal 28
Januari ini: “Saya yakin
Rudiyana akan menjadi
pemain yang besar dan
menjadi striker yang tajam
untuk Persib dimasa
depan…”
Omongan Ferdinand adalah
doa? Entahlah…

selamat malam, apa yg anda fikirkan tentang gambar ini ? :-(
04/09/2014

selamat malam, apa yg anda fikirkan tentang gambar ini ? :-(

04/09/2014

kami bobotoh mengajak semua pecinta persib agar melakukan gerakan anti sampah plastik, Indonesia perlu solusi tepat
untuk mengurangi
penggunaan kantong
plastik, gaya hidup keren
tanpa kantong plastik

Address

Bogor

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when R.C.H.P (Rain City Hooligan Persib) posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share