19/08/2017
--MEMPENGARUHI ORANG LAIN--
Saya sering mendengar, ada kisah cara mempengaruhi orang lain yang agak aneh. Misalnya, ada seorang suami mau menikah lagi, tentu istrinya kecewa, tapi bukanya marah-marah atau memendam kekecewaan, si istri malah mengikhlaskan apa yang akan terjadi, tentu harapan terdalamnya tetep agar suaminya tidak jadi punya istri lagi. Setelah diikhlaskan, ternyata si suami malah tidak jadi menikah, dan kembali ke rumah.
Kedua adalah kisah dari Guru saya, Mas Arif Rh, suatu hari di bandara, ketika beliau sedang duduk santai di bangku, datang seorang pemuda yang langsung duduk di sampingnya, walau jaraknya agak jauh. Pemuda itu menggunakan headset sambil mendengarkan musik dan menggerakan badannya mengikuti alunan musik yang didengarkannya, tentu saja mas Arif merasa terganggu, karena bangkunya jadi bergerak-gerak. Tapi bukannya memendam rasa marahnya, mas Arif justru menyamankan diri dengan berdamai dengan semua rasa tak nyaman yang datang, dan tak berapa lama, pemuda itu pergi.
Mungkin teman-teman pun sering mendengar cerita seperti itu. Lalu bagaimana itu bisa terjadi? Supaya kita bisa mengulanginya dengan sengaja.
Salah satu alasan yang membuat itu terjadi adalah akibat frekuensi dari energi perasaan yang kita pancarkan. Kita paham bahwa perasaan kita mempunyai energi yang bervibrasi. Vibrasi ini akan mempengaruhi orang dan benda di sekitar kita. Apalagi kalau kita tambahkan niat untuk mempengaruhi lingkungan atau keluarga kita.
Kalau kita ingin mempengaruhi orang lain dengan cara di atas, maka salah satu caranya adalah merasakan apa yang ingin kita ubah dari orang lain itu sudah terjadi di dalam batin kita. Dan kita bertindak atas dasar rasa itu. Dan bukan pura-pura, memang begitu itu yang kita rasakan.
Misalnya kita ingin anak kita rajin belajar, maka yang pertama kali kita setting adalah perasaan kita sendiri, setting rasa kita agar merasakan sensasi rasa anak kita yang SUDAH rajin belajar, sampai bulat, jadi di level batin anak kita sudah rajin belajar. Lalu kita bertindak atas dasar rasa di batin kita itu.
Maka, asal dilakukan dengan penuh keikhlasan, pancaran energi rasa rajin belajar kita ini akan ditangkap oleh anak, karena kita memancarkan terus menerus, semakin dekat hubungan kita dengan anak, semakin cepat perubahan itu terjadi.
Tentu sambil kita membuat hubungan kita dengan anak semakin dekat, kalau anak kita, kita marahi tiap hari, ya anak kita malah membuat penghalang untuk terjadinya sebuah keterhubungan rasa. Jaga, hubungan emosi kita dengan orang yang ingin kita pengaruhi.
Tentu dalam rangka menjaga hubungan baik ini kita lakukan atas dasar keberlimpahan dan kasih sayang, bukan karena berharap. Maksud berharap adalah, kita menjaga hubungan baik dengan orang yang ingin kita pengaruhi agar pengaruh kita diterima. Bukan begitu, kalau kita melakukan itu, berarti kita bergerak atas dasar keinginan atau merasa kurang lengkap kalau orang yang ingin kita pengaruhi tidak berubah. Kalau batin kita merasa kurang, termasuk merasa kurang lengkap, sudah lain cerita.
Kita menjaga hubungan kita dengan orang lain atas dasar keberlimpahan kasih sayang. Kita merasa batin kita dipenuhi oleh rasa kasih sayang kepada orang lain, sehingga ada dorongan untuk memberikan kelimpahan kasih sayang yang ada di batin kita kepada orang lain. Dan semakin banyak orang yang kita sayangi, justru semakin melimpah rasa kasih dalam batin kita. Kita bergerak atas dasar keberlimpahan rasa kasih sayang di batin kita.
Ya, memang ini bukan pelajaran untuk membalikan telapak tangan yang bisa terjadi saat ini juga. Tapi, sebuah perjalanan panjang, yang walau agak susah, tapi makin lama makin indah. Pesan kecilnya selalu, bersahabatlah dengan ketenangan, ketenangan itu ada di tingkat ke tujuh di wilayah energi rasa positif, minimal walau tidak sampai di level ke 7, karena seringnya bersahabat dengan ketenangan, kita sering berada di level 2 pun sudah hebat, kalau di lakukan setiap saat. Bersahabat dengan ketenangan.
Barakallah. _/|\_