Indonesia Melek Emas

Indonesia Melek Emas Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Indonesia Melek Emas, Denver, CO.

FanPage ini didedikasikan untuk memberikan edukasi seputar emas dan perak untuk tujuan hedging (lindung nilai) atas harta kita sehingga terhindar dari gerusan inflasi.

Jalan-jalan ke kampus CSU Fort Collins, Colorado. Mengenalkan anak-anak ke dunia kampus agar mereka tertarik menjelajah ...
02/16/2026

Jalan-jalan ke kampus CSU Fort Collins, Colorado. Mengenalkan anak-anak ke dunia kampus agar mereka tertarik menjelajah dunia dengan ilmu.

ATURAN UANG BERUBAH? INI PENJELASANNYAOleh: Rengky Yasepta, penulis buku "KERTAS ATAU EMAS?"Dulu, uang tidak seperti sek...
02/27/2025

ATURAN UANG BERUBAH? INI PENJELASANNYA

Oleh: Rengky Yasepta, penulis buku "KERTAS ATAU EMAS?"

Dulu, uang tidak seperti sekarang. Nenek moyang kita memulai dengan barter, lalu memilih emas dan perak sebagai alat tukar utama karena nilainya yang stabil. Selama berabad-abad, dunia sepakat menggunakan emas dan perak sebagai uang sejati.

Namun, seiring perkembangan teknologi, manusia mulai menggunakan kertas sebagai kuitansi emas yang disimpan di brankas. Awalnya, uang kertas hanya mewakili emas yang ada. Bahkan, di Indonesia tahun 1946, setiap Rp10 dicadangkan dengan 5 gram emas murni! (Baca UU No.19 Tahun 1946).

Segalanya berubah setelah Perang Dunia. Amerika Serikat, yang meraup emas dari negara-negara yang membeli persediaan perang, menetapkan sistem Bretton Woods (1944), di mana dolar AS dijadikan acuan semua mata uang, dengan 35 dolar setara 1 ons emas. Tapi, AS mulai mencetak uang berlebihan untuk membiayai perangnya sendiri, khususnya di Vietnam dan Korea.

Akhirnya, pada 15 Agustus 1971, Presiden Nixon mengumumkan bahwa dolar tak lagi bisa dikonversi ke emas. Inilah Nixon Shockโ€”titik balik yang mengubah sistem keuangan dunia! Sejak saat itu, uang yang kita gunakan hanyalah kertas, bahkan kini sudah beralih ke elektronik, tanpa cadangan emas.

Dampaknya? Nilai mata uang terus turun seiring waktu. Dulu, hanya butuh beberapa sen untuk membeli bahan pokok, sekarang harga melambung tinggi. Inilah efek dari uang tanpa nilai intrinsikโ€”inflasi!

Seperti kata Robert Kiyosaki, aturan uang berubah sejak 1971. Menyimpan uang kertas dalam jangka panjang justru membuat kita rugi karena selalu tergerus inflasi. Jadi, masih percaya uang kertas lebih berharga dari emas? Ayo mulai melek emas!

๐Ÿ“– Cari tahu lebih dalam di buku "KERTAS ATAU EMAS?" ๐Ÿ”ฅ
๐Ÿ‘‰ Hubungi Admin KMO: 0851-4736-8340
๐Ÿ“Œ Klik link: bit.ly/PO-KAE2025

MENGEJUTKAN! HARGA BARANG DAN JASA DI ZAMAN KEEMASAN ISLAM VS SEKARANG: LEBIH UNTUNG DULU ATAU SEKARANG?โœ๏ธ Oleh: Rengky ...
02/25/2025

MENGEJUTKAN! HARGA BARANG DAN JASA DI ZAMAN KEEMASAN ISLAM VS SEKARANG: LEBIH UNTUNG DULU ATAU SEKARANG?

โœ๏ธ Oleh: Rengky Yasepta
(Penulis buku "KERTAS ATAU EMAS?")

Salah satu cara menilai kesejahteraan masyarakat adalah dengan melihat daya beli mereka. Semakin tinggi daya beli, semakin makmur suatu masyarakat. Di masa keemasan Islam, pendapatan kaum muslimin tergolong tinggi, bahkan jika dikonversi ke nilai uang saat ini.

Tapi bagaimana perbandingan harga barang dan jasa pada masa itu dengan sekarang? Mari kita lihat data yang dikutip dari buku "KERTAS ATAU EMAS?" dan bandingkan dengan kondisi saat ini!

1. HARGA KAMBING: 1 Dinar Dapat Berapa?

Dalam hadits shahih riwayat Imam Bukhari, Rasulullah ๏ทบ pernah meminta sahabatnya, Urwah, untuk membeli seekor kambing dengan satu Dinar (koin emas 4,25 gram). Urwah yang pintar menawar berhasil membeli dua ekor kambing dengan uang itu.

Lalu, ia menjual kembali satu ekor seharga satu Dinar, sehingga ia tetap bisa menyerahkan seekor kambing kepada Rasulullah ๏ทบ tanpa mengurangi modal awalnya.

Sekarang, berapa harga seekor kambing? Menjelang Idul Adha, harga kambing berkisar Rp2,5โ€“4 juta. Anggap saja Rp3 juta sebagai rata-rata.

Lalu, berapa nilai 1 Dinar hari ini? Dengan harga emas Rp1,7 juta/gram, maka 1 Dinar (4,25 gram emas) setara Rp7 jutaโ€”jumlah yang masih cukup untuk membeli 1โ€“2 ekor kambing seperti di zaman dulu.

โœจ Kesimpulan: Dinar mempertahankan daya belinya selama lebih dari 1.400 tahun!

2. HARGA AYAM: Masih Sama dengan 1 Dirham?

Pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a., harga seekor ayam adalah 1 Dirham (koin perak 2,975 gram).

Saat ini, harga 1 Dirham sekitar Rp80 ribu. Coba pergi ke pasar dengan uang sebesar ituโ€”apakah cukup untuk membeli seekor ayam? Jawabannya: Masih bisa!

โœจ Kesimpulan: Daya beli Dirham juga tetap stabil dari dulu hingga sekarang.

3. GAJI GURU: Sejahtera atau Tidak?

Pada masa Khalifah Umar, gaji guru di Madinah adalah 4 Dinar per bulan.

Jika dikonversi ke nilai saat ini:
4 Dinar = 4 ร— Rp7 juta = Rp28 juta/bulan

Bandingkan dengan gaji guru di Indonesia saat ini. Masih banyak yang menerima jauh di bawah angka ini, bukan?

โœจ Kesimpulan: Gaji guru di era keemasan Islam jauh lebih sejahtera dibandingkan sekarang.

4. GAJI TEKNISI SALURAN AIR: Sebesar Apa?

Pada masa Khilafah Utsmaniyah, teknisi saluran air digaji 3 Dirham per hari. Jika bekerja 25 hari dalam sebulan, maka:
3 Dirham ร— 25 = 75 Dirham per bulan

Dengan nilai 1 Dirham saat ini sekitar Rp80 ribu, maka:
75 ร— Rp80 ribu = Rp6 juta/bulan

Namun, ada satu catatan penting:
Di masa lalu, rasio Dinar dan Dirham sekitar 1:10, sementara sekarang nilai perak cenderung undervalued. Artinya, jika rasio tersebut masih berlaku, maka gaji teknisi saat itu mungkin setara jauh lebih besar dari Rp6 juta per bulan!

โœจ Kesimpulan: Gaji teknisi air saat itu lebih tinggi dibandingkan banyak profesi serupa di zaman sekarang.

5. GAJI IMAM/KHATIB: Layak atau Tidak?

Di era Utsmaniyah, imam dan khatib mendapat 5 Dirham per hari, atau sekitar 150 Dirham per bulan.

Jika dikonversi ke rupiah:
150 ร— Rp80 ribu = Rp12 juta per bulan

โœจ Kesimpulan: Gaji imam dan khatib pada masa itu cukup tinggi dibandingkan banyak profesi di zaman modern.

KESIMPULAN AKHIR: Emas & Perak Tetap Stabil, Uang Kertas Tidak!

Dari data di atas, kita bisa melihat bahwa harga barang dan jasa yang ditakar dengan Dinar (emas) dan Dirham (perak) tetap stabil selama berabad-abad.

Sebaliknya, coba ingat uang jajan Anda waktu SD, lalu bandingkan dengan uang jajan anak SD sekarang untuk jajanan yang sama. Apakah jumlahnya masih sama? Tentu tidak! walaupun jenis dan jumlah jajanannya sama.

Mengapa? Karena nilai uang kertas terus menurun akibat inflasi. Inilah alasan mengapa banyak orang mulai berpikir ulang dan beralih ke emas dan perak sebagai alat lindung nilai.

Lebih lengkapnya, semua dibahas dalam buku "KERTAS ATAU EMAS?"

๐Ÿ“– Tertarik? Dapatkan bukunya sekarang!
๐Ÿ‘‰ Hubungi Admin KMO: 0851-4736-8340
๐Ÿ“Œ Klik link: https://kmostore.smartseller.co.id/product/pre-order-kertas-atau-emas-spesial-7458557

Buruan, stok terbatas!

SAAT BELANDA MEMAKSAKAN KERTAS, RAKYAT MALUKU TETAP MEMILIH PERAKโ€”HINGGA TERJADILAH PERANG DAHSYAT INI!(Oleh: Rengky Yas...
02/23/2025

SAAT BELANDA MEMAKSAKAN KERTAS, RAKYAT MALUKU TETAP MEMILIH PERAKโ€”HINGGA TERJADILAH PERANG DAHSYAT INI!

(Oleh: Rengky Yasepta, penulis buku KERTAS ATAU EMAS?)

Siapa yang tidak kenal Pattimura? Setidaknya dulu di sekolah kita pernah diajarkan bahwa Kapitan Pattimura adalah salah satu pahlawan Tanah Air.

Tapi tahukah Anda alasan mengapa sang Kapitan dan rakyat Maluku rela berperang sampai meregang nyawa di tiang gantungan? Barangkali tidak banyak sejarah yang bisa kurikulum sekolah ceritakan kebenarannya secara utuh pada kita. Entah karena keterbatasan ruang kurikulum atau karena alasan lain.

Salah satu penyebab pahlawan Maluku ini bertempur hingga "syahid", menurut Des Alwi, seorang pejuang kemerdekaan sekaligus sejarawan Maluku, adalah karena para penjajah memaksakan pembayaran rempah-rempah dengan mata uang KERTAS (gulden Belanda) yang ketika itu belum dikenal luas. Padahal ketika itu penduduk pribumi mengenal uang hanya dalam bentuk koin PERAK.

Maluku pernah "digilir" oleh beberapa penjajah. Dalam bukunya Sejarah Maluku (2005), Des Alwi menulis setidaknya ada empat kali pergiliran antara Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Kemudian Belanda akhirnya memperoleh hak monopoli atas pala dan cengkeh setelah membunuh 6.000 rakyat Banda, Ambon, Haruku, dan Saparua. Sejak saat itu, rakyat Maluku bukan lagi pemilik hasil buminya sendiri, VOC telah mengambil alih hasil buah keringat mereka.

Masih menurut sejarawan senior Maluku di atas, anehnya penjajah membayar rempah-rempah Maluku dengan kertas gulden. Namun tiba giliran rakyat membayar upeti, mereka (Belanda) minta dibayar pakai koin perak. Hal inilah yang memicu peperangan dahsyat antara rakyat Maluku yang dipimpin oleh Kapitan Pattimura dengan Belanda pada tahun 1817.

Ternyata dari dulu rakyat Maluku cerdas-cerdas ya! Mereka paham bahwa PERAK lebih berharga dari KERTAS buatan manusia (baca: penjajah Belanda). Pembaca yang berasal dari Maluku boleh absen dulu di kolom komentar! ๐Ÿ˜ƒ

[Disclaimer: tulisan ini murni untuk tujuan edukasi. Kami tidak menjual koin emas ataupun perak. Dan buku KERTAS ATAU EMAS? menerima pembayaran dengan rupiah]

๐ŸŽฏ Sudah PO buku KERTAS ATAU EMAS? (edisi revisi)? Buruan sebelum harga normal ya.

Silakan hubungi admin KMO (0851-4736-8340) atau klik link berikut: https://kmostore.smartseller.co.id/product/pre-order-kertas-atau-emas-spesial-7458557

๐’๐š๐ฒ๐š ๐‡๐š๐ฆ๐ฉ๐ข๐ซ ๐Œ๐š๐ญ๐ข ๐’๐š๐š๐ญ ๐Œ๐ž๐ง๐ฎ๐ฅ๐ข๐ฌ ๐๐ฎ๐ค๐ฎ ๐ˆ๐ง๐ข โ€“ ๐ˆ๐ง๐ข๐ฅ๐š๐ก ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐“๐ž๐ซ๐ฃ๐š๐๐ข!Oleh: Rengky Yasepta, penulis buku KERTAS ATAU EMAS?Naskah ...
02/20/2025

๐’๐š๐ฒ๐š ๐‡๐š๐ฆ๐ฉ๐ข๐ซ ๐Œ๐š๐ญ๐ข ๐’๐š๐š๐ญ ๐Œ๐ž๐ง๐ฎ๐ฅ๐ข๐ฌ ๐๐ฎ๐ค๐ฎ ๐ˆ๐ง๐ข โ€“ ๐ˆ๐ง๐ข๐ฅ๐š๐ก ๐ฒ๐š๐ง๐  ๐“๐ž๐ซ๐ฃ๐š๐๐ข!

Oleh: Rengky Yasepta, penulis buku KERTAS ATAU EMAS?

Naskah awal buku KERTAS ATAU EMAS? saya persiapkan selama tiga tahun dari 2016 sampai pertengahan 2019. Sebagai buku pertama saya yang saya tulis, proses penulisannya penuh perjuangan. Saat itu belum ada ChatGPT atau aplikasi kecerdasan buatan lainnya, sehingga semuanya harus saya lakukan sendiri secara manual.

Banyak riset yang perlu saya kerjakan, puluhan buku tentang emas dan perak saya khatamkan, berbagai referensi dari artikel, blog, dan video dari internet saya lahap, ditambah pengalaman saya berkecimpung di dunia investasi emas sejak akhir 2009.

Dalam prosesnya, tak terhitung berapa malam yang saya habiskan untuk begadang dan berapa cangkir kopi yang saya teguk untuk membuat mata tetap terjaga. Hingga suatu saat, saya pun tumbang. Ya, saya terkena sakit keras dan harus dilarikan ke rumah sakit hingga dirawat selama 12 hari.

Dokter bahkan mendiagnosis saya terkena H*V, sebuah penyakit yang sangat mengerikan. Awalnya kami semua shock, sebab demi Allah saya tidak pernah sekali pun mencoba atau mendekati hal-hal yang mengarahkan seseorang terkena penyakit menjijikkan tersebut.

Usut punya usut, ternyata penyebab dokter โ€œmendugaโ€ saya mengidap penyakit yang berkonotasi sangat negatif tersebut karena kondisi tubuh saya drop (baca: melemah) begitu cepat. Gejala awalnya adalah tipes (demam tipoid), lalu berkembang ke malaria, dan akhirnya terjadi pembengkakan hati (liver) yang cukup parah.

Saya pun pasrah dan berdo'a semoga jika ini adalah akhir dari hidup saya, saya diberi husnul khatimah. Saat itu Desember 2017, di mana perjalanan penulisan buku pertama saya, KERTAS ATAU EMAS?, baru setengah jalan. Naskahnya masih amburadul namun saya susun dalam sebuah folder yang rapi di laptop saya.

Karena kecintaan saya terhadap literasi seputar emas dan perak, saya pun berpesan kepada istri saya agar naskah buku (yang belum jadi itu) bisa diserahkan ke penerbit sepeninggal saya nanti (jika saat itu saya harus meninggal). Istri saya, Diah Selviani NyRengky, pun menangis.

Saking parahnya sakit yang saya derita ketika itu, beberapa kali saya sempat merasa badan saya seperti kapas. Saat itu saya mengira malaikat sedang menjemput arwah saya dan rasanya seperti "fly" (baca: terbang) meninggalkan alam dunia, alias sakaratul maut.

Pasca dirawat di rumah sakit, saya harus istirahat total selama tiga bulan penuh, dari Januari hingga akhir Maret 2018. Mata saya cekung, badan kurus kering dan tidak bertenaga, dan saya tidak boleh melakukan aktifitas berat yang bersifat fisik.

Singkat cerita, Allah akhirnya memberikan kesembuhan. Saya diberi โ€œkesempatan keduaโ€ untuk menjalani kehidupan (yang lebih baik). Saya pun kembali melakukan aktifitas seperti biasa, bekerja dan berbisnis, serta tentu saja menulis buku.

Proyek menulis buku KERTAS ATAU EMAS? pun saya lanjutkan. Dengan semangat dan "nyawa" baru, akhirnya naskah buku KERTAS ATAU EMAS? saya selesaikan sekitar bulan Agustus 2019, tepat tiga tahun sejak pertama kali saya menulis rangkaian naskah awalnya.

Naskah pun saya jajakan ke beberapa penerbit Tanah Air, mulai dari penerbit mayor hingga penerbit abal-abal. Saya tidak ingat lagi jumlah pastinya, namun mayoritas menolak. Ada yang beralasan tema yang diusung terlalu anti-mainstream, radikal, atau sekadar memberikan jawaban standar, "Maaf, kami belum tertarik."

Namun, pada akhir September 2019, salah satu penerbit menunjukkan ketertarikan dan bersedia menerbitkan buku KERTAS ATAU EMAS? secara indie. Penerbit tersebut adalah Elmarkazi, yang dimiliki oleh teman saya sendiri, Mas Ronny Dewanyara.

Bersama Penerbit Elmarkazi, perjalanan buku KERTAS ATAU EMAS? cukup memuaskan hingga berhasil naik cetak sebanyak empat kali. Sebagian besar dari buku yang terjual saya pasarkan melalui situs web personal saya rengkyyasepta(dot)com dan dibantu reseller kami yang tersebar dari Aceh hingga Papua.

Namun, nasib baik membawa saya ke Negeri Paman Sam sejak Juli 2024 untuk melanjutkan studi dengan dukungan penuh beasiswa Fulbright, yang dikelola oleh American Indonesian Exchange Foundation (AMINEF). Sejak itu, urusan perbukuan ini sempat saya tunda, terutama sejak masa persiapan beasiswa hingga kini, ketika saya sedang menempuh studi di Colorado School of Mines, Amerika Serikat.

Sampai suatu ketika, saya terpikir menghubungi Kang Tendi Murti yang merupakan founder dari KMO Indonesia, sebuah penerbit yang telah bekerja sama dengan sejumlah penulis ternama, di antaranya Asma Nadia (Sehidup Sesurga), Dewa Eka Prayoga (Melawan Kemustahilan), Ustadz Arafat (Hijrah Rezeki), Nasrullah (Diary Magnet Rezeki) hingga Kang Tendi Murti sendiri (Legacy). Beliau pun setuju hingga akhirnya, saat tulisan ini saya ketik, KMO Indonesia baru saja melaunching buku KERTAS ATAU EMAS? (edisi revisi).

Akhirnya, meskipun saya siapkan dengan serius dan penuh perjuangan (riset, begadang, nulis, riset lagi, begadang lagi, nulis lagi, dan seterusnya) dalam jangka waktu yang tidak sedikit (tiga tahun), saya tidak ingin mengklaim bahwa buku KERTAS ATAU EMAS? adalah karya yang sempurna.

Saya tidak merasa paling hebat, paling cerdas, atau paling tahu tentang dunia emas dan perak. Namun pendapat para tokoh yang sudah membaca karya saya ini semoga bisa mewakili kesan mereka terhadap buku KERTAS ATAU EMAS?.

Yuk simak testimoni mereka:

"Ringkas, jelas, dan lugas. Juga cerdas. Buku ini penting dan perlu untuk dibaca. Dengan bahasa yang mengalir, dan uraian yang mudah dipahami. ... bukan hanya mengajar. Juga mengajak.โ€
โ€”Ir. H. Zaim Saidi, M.P.A., Amir Amirat Nusantara, pakar muamalah; pelopor, penggerak, dan pendakwah Dinar-Dirham di Indonesia

"...(KERTAS ATAU EMAS? adalah) buku yang sangat cerdas. Membawakan bab yang begitu sensitif dibutuhkan pemikiran yang matang dan persiapan yang tak mudah. Baru membaca beberapa bab penting membuat saya yakin bahwa buku ini layak untuk dibaca."
โ€”Ustadz Andre Raditya, penulis buku Rezeki Level 9

"Yang pasti bukunya komprehensif banget. Jelas penulis memiliki wawasan yang sangat luas dan dalam. Layak banget jadi rujukan untuk mempelajari lebih dalam mengenai emas sebagai solusi mata uang di akhir zaman ini."
โ€”Coach Faisal Ramli, founder Kampus Pengusaha Muslim (KPM)

Harapan saya, edisi revisi ini dapat menjangkau pembaca yang lebih luas, khususnya para peminat emas di Indonesia. Semoga buku ini tidak hanya memberikan manfaat bagi literasi di Tanah Air, tetapi juga menjadi inspirasi bagi mereka yang ingin memahami rahasia uang sejati yang sering kali luput dari pengajaran formal dan kurikulum sekolah kita.

Selesai.

PS:
Untuk Pre-Order buku KERTAS ATAU EMAS? (edisi revisi), silakan hubungi Penerbit KMO Indonesia: 0851-4736-8340.

Atau klik link ini ๐Ÿ‘‡
https://kmostore.smartseller.co.id/product/pre-order-kertas-atau-emas-spesial-7458557

Terima kasih, Pak Joko Widodo, yang sudah berkenan membaca buku "KERTAS ATAU EMAS?" dan langsung memberikan testimoni. E...
01/24/2025

Terima kasih, Pak Joko Widodo, yang sudah berkenan membaca buku "KERTAS ATAU EMAS?" dan langsung memberikan testimoni.

Eh, Bapak mantan presiden atau bukan ya?Nantikan edisi revisinya ya. ๐Ÿคฉ๐Ÿคญ

?

Gimana, cakep ngga? ๐Ÿ˜„Yang minat jadi reseller nanti, boleh komen ya!
01/22/2025

Gimana, cakep ngga? ๐Ÿ˜„

Yang minat jadi reseller nanti, boleh komen ya!

Akhirnya bisa tidur nyenyak malam ini. ๐ŸคฉSetelah sebelumnya tim .publishing selesai mengedit dan kemudian saya re-check, ...
01/21/2025

Akhirnya bisa tidur nyenyak malam ini. ๐Ÿคฉ

Setelah sebelumnya tim .publishing selesai mengedit dan kemudian saya re-check, kini naskah final buku KERTAS ATAU EMAS? (rebranding) sudah saya serahkan kembali ke Penerbit KMO Indonesia.

Bismillah, semoga langkah ini membawa keberkahan, dan buku KERTAS ATAU EMAS? (rebranding) bisa dinikmati semua peminat emas di Indonesia.

Aamiin.

Gimana, ada masukan, teman-teman?Ini revisi ke-2. Masih ada yang perlu diperbaiki sedikit lagi. Tapi ini sudah keren. De...
01/20/2025

Gimana, ada masukan, teman-teman?

Ini revisi ke-2.

Masih ada yang perlu diperbaiki sedikit lagi. Tapi ini sudah keren. Desainernya muantap.

Kalau kalian ada masukan, silakan komen ya. ๐Ÿ™

01/17/2025

Insya Allah topik "mengapa orang kaya makin kaya, dan yang miskin makin miskin, sudah saya bahas di buku "KERTAS ATAU EMAS?".

Penasaran? Tunggu edisi rebranding ya! Coming soon. ?

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah membantu polling calon cover buku "KERTAS ATAU EMAS?" edisi rebranding. I rea...
01/16/2025

Terima kasih kepada teman-teman yang sudah membantu polling calon cover buku "KERTAS ATAU EMAS?" edisi rebranding. I really appreciate it.

Mohon maaf tak bisa saya sebutkan satu persatu. Masukan kalian sangat berharga. Ini soal penilaian objektif dan "selera pasar", bukan soal idealisme. Kalian telah membantu banyak.

Meskipun saya sendiri memilih cover #2, tapi mengingat dari puluhan atau mendekati 100 hasil polling di FB, IG, dan WA kebanyakan memilih cover #1, maka saya putuskan sesuai pilihan mayoritas.

Nanti tentu saja akan melalui tahap revisi untuk typo dan beberapa detail visualnya. Sekali lagi terima kasih banyak sudah ikutan polling.

Address

Denver, CO

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Indonesia Melek Emas posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Business

Send a message to Indonesia Melek Emas:

Share