JOY PORIS

JOY PORIS Joy Poris have Joy Water, is refilliable fresh water, who came from mountain source, UV screening an

Yookk... Berbisnis U-Root, minyak herbalTerbuka kesempatan menjadi agen, dengan profit 10% - 20%.WA : 0878.8872.5250
21/02/2021

Yookk... Berbisnis U-Root, minyak herbal
Terbuka kesempatan menjadi agen, dengan profit 10% - 20%.

WA : 0878.8872.5250

ATM beras gratis sudah meluncur di Jabodetabek. Mesin yang dinamakan ATM Pertanian Sikomandan tersebut dioperasikan untu...
27/04/2020

ATM beras gratis sudah meluncur di Jabodetabek. Mesin yang dinamakan ATM Pertanian Sikomandan tersebut dioperasikan untuk menyediakan 1,5 ton beras untuk 1.000 orang per harinya. Nantinya, masyarakat bisa memperoleh 1,5 kg beras gratis dari mesin ATM tersebut.

"Bantuan ini kami berikan dengan mesin ATM, disebutnya ATM Pertanian Sikomandan, warga yang mendapat bantuan silahkan datang ke Kodim untuk mengambil beras lewat ATM," kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo

Berikut lokasi penempatan mesin ATM tersebut:
1. Kodim 0501/Jakpus
2. Kodim 0502/Jakut,
3. Kodim 0503/Jakbar
4. Kodim 0504/Jaksel
5. Kodim 0505/Jaktim
6. Kodim 0506/Tangerang
7. Kodim 0509/Kab Bekasi
8. Kodim 0508/Depok
9. Kodim 0606/Kota Bogor
10. Kodim 0621/Kab Bogor

http://finance.detik.com/read/2020/04/24/173745/4990104/4/pemerintah-siapkan-atm-beras-di-jabodetabek-catat-10-lokasinya

☝🏻tolong rekan2 Jabodetabek bantu share pada yg sangat membutuhkan ya 🙏🏻🙏🏻👍🏼👍🏼

ATM beras gratis sudah meluncur di Jabodetabek. Catat lokasinya.

Kisah Inspiratif, Siomay Mr Pinky...Jalan hidup tak bisa ditebak. Sriyono, seorang mantan miliarder, kini berjualan siom...
30/08/2019

Kisah Inspiratif, Siomay Mr Pinky...

Jalan hidup tak bisa ditebak. Sriyono, seorang mantan miliarder, kini berjualan siomay keliling. Namun, berkat penampilannya yang eksentrik, predikat miliarder itu tampaknya bakal kembali disandangnya.

Menjadi penjual siomay keliling dengan pakaian dan aksesori serba pink membuat Sriyono terkenal, terutama di dunia maya. Mantan miliarder itu juga pernah menjadi bintang tamu di sebuah stasiun televisi. Bahkan, ada yang menawari bermain sinetron. Semua itu dia lakukan demi bisa bertemu anaknya.

Minggu lalu INDOPOS menelusuri rute jualan Sriyono di kawasan kelas menengah ke atas di Jalan Gandaria Tengah, Jakarta Selatan, tak ada orang yang tahu namanya. Tapi, ketika disebut nama Siomay Pink (barang dagangan Sriyono), kebanyakan warga yang ditemui mengenali. Mulai sopir bemo, satpam, tukang ojek, hingga anak-anak.
Siomay Pink juga menjadi identitas pria asal Klaten, Jawa Tengah, itu di dunia maya. Mesin pencari Google menyebut 83.500 hasil yang merujuk pada usaha siomay yang dijalankan Sriyono sambil berkeliling di atas sepeda pink.

Sriyono menjadi topik hangat di kalangan komunitas entrepreneur. Sebab, selain berjualan dengan kostum dan perlengkapan mencolok serbapink, kegigihannya dalam berwirausaha menjadi inspirasi tersendiri.

’’Mungkin karena saya dianggap nyentrik. Itu saja. Tapi, entahlah, saya nikmati saja momen-momen ini,’’ ujarnya sambil melayani pelanggan. Dia pun meracik bumbu siomay dari panci pink yang terikat di belakang sepeda pink yang telah dimodifikasi dengan sejumlah kotak kayu yang juga berwarna pink. Di depan sepeda itu terdapat dua keranjang pink dengan dua teddy bear pink terduduk di dalamnya.

Sriyono juga mengenakan kaus pink, bercelana pendek pink, topi pink, serta jam dan bahkan anting pink Namun, di balik penampilan nyentrik itu, tersimpan kisah perjuangan hidup yang cukup berliku.

Kisah sukses Sriyono dimulai pada 1969 ketika pria kelahiran Klaten, 21 Juli 1954, tersebut merantau ke Jakarta untuk menjadi sales mobil. Ketika itu, tiba-tiba saja dia sangat gemar pada siomay dan memutuskan untuk belajar cara membuat makanan itu. Dia lantas berguru pada seorang keturunan Tiongkok asal Pulau Bangka.

Dialah yang mengajari Sriyono membuat siomay. Setahun penuh Sriyono bekerja tanpa digaji untuk mendapatkan resep rahasia sang penjual siomay itu. Beberapa tahun kemudian, sang guru meninggal dan mewariskan usaha Siomay kepada Sriyono. Pada 1980-an, Sriyono memberanikan diri memulai usaha siomay keliling di Jakarta dengan modal patungan dengan beberapa teman.

Berbagai cara ditempuh untuk membesarkan usaha tersebut. Mulai membikin armada siomay sepeda keliling sampai mendirikan warung-warung kecil. Puncak sukses diraih pada 1996 ketika dirinya berhasil membuat outlet di salah satu mal elite di ibu kota, yakni Plaza Senayan.

Sriyono adalah pendiri dan pemilik outlet Siomay Senayan dengan beberapa cabang. Pendapatan bisnisnya ketika itu mencapai Rp 2 miliar per tahun. Dia menikmati sukses berjualan siomay dengan berstatus bujangan. Sriyono mengenang, tinggal di ibu kota dengan duit melimpah ketika itu bagai hidup di surga.

Bahkan, bisnisnya sangat kuat sehingga ketika krisis 1998 menerpa modalnya tidak berkurang. Tapi, dia justru masih bisa mendirikan outlet di beberapa tempat lain. April 1999, Sriyono memutuskan untuk mengakhiri masa lajang dan menikahi putri seorang polisi.
Pernikahan yang tidak direstui orang tua sang istri itu kemudian menjadi bom waktu bagi kehidupan Sriyono. Pertengkaran demi pertengkaran pun terus muncul sehingga konsentrasi Sriyono pada bisnisnya mulai berkurang.

Ketika itu, dia menjadi satu-satunya pengusaha siomay yang meneken kontrak dengan gerai waralaba Kentucky Fried Chicken (KFC). Dia menyuplai siomay di puluhan gerai KFC di Jakarta yang ketika itu memiliki menu khusus siomay.

Namun, persoalan rumah tangga yang tak kunjung selesai pelan-pelan membuat manajemen bisnisnya kolaps. Akhirnya, Sriyono terpaksa menjual hak paten Siomay Senayan dan usahanya pun gulung tikar. Awal 2004, setelah 4 tahun 7 bulan berumah tangga dan dikarunia dua anak, yakni Peksi Safira Miradalita (kini 11 tahun) dan Pramesti Dewi Angelita (kini 10 tahun), sang istri menggugat cerai Sriyono. ’’Saya ingat. (Saat itu) hanya baju yang melekat di badan yang saya miliki,’’ kenangnya sambil menerawang. (dalam masa itu).

Setelah perceraian, sang istri kemudian mengasingkan diri dan membawa serta dua anak Sriyono. Sejak itu dia pun tidak pernah lagi bertemu dua buah hatinya. Dalam kondisi bangkrut, Sriyono sempat ditampung mantan rekan-rekan bisnisnya.

Dia pun sempat mendapat bantuan modal dan berusaha merintis lagi usaha siomay kelilingnya mulai nol dengan konsep awal, yakni belasan armada siomay keliling. Tapi, pada 2008, usaha itu lagi-lagi bangkrut. ’’Saya selalu ingat anak saya dan rindu yang tidak tertahan membuat saya sulit berkonsentrasi,’’ katanya. Kegagalan kali ini membuat Sriyono tertekan.

Dia pun memilih menjadi gelandangan dan tinggal di jalanan kotakota Jakarta. Tiap malam, dia tidur berpindah- pindah, dari halte bus ke kolong jembatan dan dari pinggir jalan ke masjidmasjid. Hingga 2009, Sriyono memilih menetap di Masjid Al Bina di kawasan Senayan.

Setelah beberapa minggu tinggal di sana, tiba-tiba dia mendapat bantuan modal dari seorang jamaah pengajian yang mengetahui latar belakang dirinya sebagai pengusaha siomay. ’’Waktu itu saya diberi modal Rp 1 juta untuk memulai bisnis lagi,’’ katanya.
Awal 2010, Sriyono pun sudah memiliki gerai siomay di mal Pasaraya Blok M yang bernama Siomay Maestro. Namun, lagi-lagi karena tinggal kesepian dan rindu kepada dua buah hatinya, konsentrasinya dalam berbisnis terganggu. Dia pun kembali bangkrut. Sampai saat ini, Sriyono masih berutang kepada manajemen Pasaraya Rp 13 juta.

Di ambang keputusasaan, sebulan menjelang bulan puasa 2010, dia memutar otak dan mendapat ide brilian. Yakni, kembali memulai usaha siomay keliling, tapi dengan tampilan yang eksentrik.

Diharapkan, ketika dia menjadi eksentrik, sang anak akan mengetahui dan dirinya dapat bersua dua buah hatinya setelah lima tahun berpisah tanpa kabar itu. Sriyono pun memutuskan mengenakan warna pink sebagai seragam berjualan. Pernak-pernik pink pun dikenakan untuk berdagang keliling.

Dia juga berusaha tampil di setiap momentum di mana publik Jakarta banyak yang berkumpul. Sriyono akhirnya dijuluki ’’maskot’’ dalam even Hari Bebas Kendaraan alias Car Free Day yang diberlakukan sebulan sekali di jalan protokol Jakarta. ’’Semakin banyak orang yang kenal saya, kesempatan untuk bertemu kembali dengan anak saya semakin besar,’’ katanya.
Tapi, usaha tampil nyeleneh itu tidak semudah yang dia bayangkan. Setiap hari, bahkan sampai sekarang, Sriyono harus rela menjadi bahan ejekan orang-orang yang lewat. Tak jarang perkataan mereka sangat pedas dan menusuk hati. Tak sedikit yang mengira Sriyono adalah seorang waria yang nyambi berjualan siomay saat siang dan ’’berpraktik’’ saat malam.

Tapi, demi menemukan sang anak, hinaan dan cacian itu ditanggapi dengan se-nyum dan hati ikhlas. Bahkan, kini dia sudah memiliki 34 kaus pink, 18 pasang sandal pink, 12 topi pink, 3 jam pink, 3 pasang kacamata pink, kalung pink braces, anting-anting pink, dan tiga pasang sepatu pink.

Upaya tampil eksentrik itu membuahkan hasil ketika dirinya muncul sebagai topik di Twitter dan BlackBerry Messenger. Popularitasnya menanjak ketika kisah usahanya dipublikasikan di salah satu situs Terbesar Indonesia.

Pertengahan Desember 2010, sebuah koran berbahasa Inggris di Jakarta memuat foto Sriyono dengan full aksesori pink. Hasilnya, pekan lalu, awal Januari 2010, sebuah televisi nasional berhasil mempertemukan Sriyono dengan sang anak.

’’Waktu itu, rasa senangnya tak terhingga. Saya bersyukur mereka mengakui saya sebagai bapak, walaupun mereka memiliki ayah tiri warga Inggris yang kaya,’’ ujarnya, kali ini sambil terisak.

Tampil di televisi mendatangkan keuntungan bagi usaha Sriyono. Dalam dua pekan terakhir, omzet berjualan keliling yang biasanya hanya Rp 200 ribu per hari naik lima kali lipat menjadi Rp 1 juta per hari. Banyak pesanan dalam jumlah besar sehingga pendapatan berjualan berkeliling terdongkrak. Sejak pekan lalu, seorang pengusaha getol menawari Sriyono untuk membuka franchise siomay Yo Pink di beberapa lokasi di Jakarta.

Dia juga mendapat tawaran untuk bermain sinetron. Rundown jadwal casting oleh sebuah rumah produksi juga sudah di tangannya. Lalu, apa yang akan dilakukan sekarang? Sriyono menyatakan, dirinya masih berencana meneruskan usaha berjualan dan akan membuka warung kecil di Jalan Otto Iskandar Muda, Jakarta. Dia fokus meraih sukses lagi dengan Siomay Yo Pink itu.
’’Saya ingin anak saya bangga dengan bapaknya si penjual siomay berkaus pink ini. Saya akan bangkit demi putri-putri saya,’’ ujarnya lantas tersenyum. (sumber: indopos.co.id).

Pesan Moral yg disampaikan dari Kisah ini adalah Jangan Pantang Menyerah terhadap kondisi Maju terus walau kesulitan mendera. Tuhan pasti akan membantu umatnya yang mau berusaha dan tentu berdoa.



Who am I ?
07/03/2019

Who am I ?

Karakter yg baik, sebaliknya tidak dianugerahkan kepada kita. Kita harusmembangunya keping demi keping -melalui pemikira...
16/01/2019

Karakter yg baik,
sebaliknya
tidak dianugerahkan
kepada kita.
Kita harusmembangunya
keping demi keping -
melalui pemikiran,
keputusan, keberanian,
dan kebulatan hati.

JOHN LUTHER

Jangan cari pembeli untuk produk anda, tetapi carikanlah produk untuk kebutuhan pembeli anda.
17/12/2018

Jangan cari pembeli untuk produk anda, tetapi carikanlah produk untuk kebutuhan pembeli anda.

Dicampakkan Suami, Tak Punya Uang, Anak Masih Kecil, Nasibnya Benarbenar Malang! Tapi "Kisah Suksesnya" Menginspirasi Ju...
02/12/2018

Dicampakkan Suami, Tak Punya Uang, Anak Masih Kecil, Nasibnya Benarbenar Malang!

Tapi "Kisah Suksesnya" Menginspirasi Jutaan Wanita!Dewasa ini, banyak wanita yang ingin menikahi pria yang mapan, sudah punya rumah, punya mobil dan sebagainya dengan tujuan supaya hari-hari bisa dilalui dengan bahagia dan tidak perlu hidup susah. Ya, ini sebenarnya sah-sah saja, cuma tidak semua orang bernasib baik, seperti misalnya wanita yang satu ini.

Mungkin bagi kita yang di Indonesia tidak begitu mengenalnya, tetapi hampir semua orang di Asia Timur seperti Hongkong, Taiwan dan lain-lain pernah memakan pangsit buatannya. Ia adalah pendiri pangsit Wanchai Wharf, Madame Chong.

Waktu muda, ia seperti semua gadis pada umumnya, ingin menemukan pria kaya dan baik untuk dinikahi dan memiliki kehidupan yang bahagia. Namun, takdir berkata lain.

Chong dilahirkan di sebuah keluarga miskin di Rizhao, Provinsi Shandong pada tahun 1945. Di usia yang masih kecil dan belum mengerti apa-apa, ia sudah harus bekerja untuk membantu orang tuanya. Di usia 14 tahun, ayahnya tiba-tiba pergi dan tidak kembali lagi. Untuk mencari nafkah, ibunya pun membawanya dan saudaranya untuk bekerja di Qingdao. Karena tidak tahan melihat ibunya bekerja sendiri untuk menopang seluruh keluarga, ia pun putus sekolah dan menjadi seorang perawat.

Pada masa menjadi perawat itulah, Chong berkenalan dengan seorang pria asal Thailand yang kemudian menjadi suaminya. Pada saat itu, ia mengira Tuhan telah melihat penderitaannya dan mengirimnya seorang pangeran tampan. Ia pikir sejak saat itu ia bisa hidup bahagia. Ia juga melahirkan 2 orang putri yang cantik dan hidup bahagia bersama suaminya selama 6 tahun.

Pada tahun 1974, suaminya tiba-tiba berkata ingin kembali ke Thailand dan berjanji untuk membawa Chong serta kedua putrinya setelah ia pulang untuk melihat situasi. Pada saat itu, ekonomi Thailand jauh lebih berkembang daripada Tiongkok. Jika mereka sekeluarga pindah ke Thailand, tentu kehidupan mereka juga akan lebih baik. Namun ternyata, suaminya tidak datang menjemput mereka setelah 3 tahun pulang. Chong kemudian membawa kedua putrinya ke Thailand untuk mencari suaminya. Begitu tiba di sana, ia melihat kenyataan yang tidak dapat diterimanya. Suaminya menikah lagi dengan wanita lain di Thailand dan memiliki seorang putra.

Akhirnya terbongkar kalau suaminya menikah lagi karena mereka tidak memiliki anak laki-laki. Di Thailand, poligami juga diperbolehkan, sehingga keluarga suaminya membiarkannya untuk memiliki istri kedua. Tapi bagi Chong, ini merupakan pukulan yang berat bagi martabatnya. Walaupun ia harus menerima suaminya berpoligami, tapi di bawah 'pemikiran kuno' yang lebih mementingkan anak laki-laki dibanding anak perempuan, ia dan kedua putrinya sudah pasti akan menerima perlakukan yang tidak adil. Akhirnya ia pun pergi meninggalkan suaminya beserta kedua putrinya dengan modal uang 200 dolar (sekitar 400 ribu Rupiah) di dompet.

Ketika transit di Hong Kong, ia menemukan bahwa ia tidak mampu lagi membeli tiket kembali ke Tiongkok. Ia dan putrinya pun terdampar di jalanan yang asing. Ia merasa sangat putus asa, tapi begitu memikirkan kedua anak perempuannya, ia pun bangkit lagi dan berusaha untuk tetap tegar.

Setelah bertanya sana sini, Chong menyewa sebuah kamar kecil seluas 4 meter persegi di Causeway Bay. Untuk mencari nafkah, ia hanya tidur selama empat jam sehari, dan menghabiskan sisa waktunya untuk bekerja.

Namun, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Chong tidak sengaja terluka saat bekerja, dan bosnya yang tidak bertanggung jawab bukan hanya tidak membayar biaya pengobatannya, tetapi juga membuat alasan untuk tidak membayar upah dan memecatnya. Untungnya, dengan bantuan pengacara yang baik, ia berhasil mengambil kembali upahnya 4.000 dollar (8 juta Rupiah) dan biaya kompensasi sebesar 30.000 dollar (60 juta Rupiah). Namun, Chong hanya mengambil kembali upahnya, tidak mengambil kompensasinya. Ia berkata bahwa "martabat lebih penting daripada uang".

Karena kesehatannya menurun, Chong tidak bisa lagi bekerja seperti sebelumnya. Suatu kali, dia membuat pangsit untuk menjamu teman-temannya, dan ternyata semua teman-temannya memuji pangsit yang ia buat, enak katanya.

Kemudian atas saran seorang teman, ia pun memulai bisnis berjualan pangsit di pinggir jalan dengan bantuan dua putrinya. Tidak ada yang menyangka bahwa dari situlah, bisnisnya maju terus hingga sekarang sudah diekspor ke berbagai negara.
Karena enak, pangsitnya dengan cepat menjadi terkenal di Hong Kong. Orang-orang rela antri panjang demi makan semangkuk pangsit buatannya.
Pada tahun 1983, pemilik Department Store Jepang Daimaru tiba-tiba datang ke Chong dan berkata bahwa ia ingin berinvestasi dalam bisnis pangsitnya dan memasarkannya di supermarket. Awalnya Chong menolak dengan tegas, namun pada akhirnya, setelah perusahaan itu terus berkompromi, akhirnya Chong setuju untuk memproduksi pangsit beku dengan merek 'Wanchai Wharf' dan masuk ke supermarket.

Kini, pangsit Wanchai Wharf tidak lagi hanya di Hong kong, tapi sudah ada di mana-mana. Tidak disangka Chong yang tadinya ditinggalkan oleh suaminya dan melarat di jalanan bersama kedua orang anaknya yang masih kecil, kini telah menjadi seorang pengusaha yang sukses dengan pendapatan tahunan sebesar 6 miliar dollar (triliunan Rupiah). Sungguh luar biasa!

“Seorang wanita tidak perlu bergantung pada suami untuk hidup bahagia dan sukses. Dengan usaha dan kerja keras sendiri, wanita juga bisa sukses dan bermartabat!”

Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua!

Yuk BAGIKAN kisah ini ke teman-teman kamu!

(Sumber: toutiao)

Apapu usaha anda, terus berjuang, tetap semangat !!
02/12/2018

Apapu usaha anda, terus berjuang, tetap semangat !!

Sejak kecil, pendiri dan CEO Alibaba Jack Ma tertarik belajar bahasa Inggris. Ketertarikan ini membuatnya rajin berseped...
01/09/2018

Sejak kecil, pendiri dan CEO Alibaba Jack Ma tertarik belajar bahasa Inggris. Ketertarikan ini membuatnya rajin bersepeda ke hotel terdekat rumahnya, menawarkan tur gratis, demi bisa belajar bahasa Inggris.

Dalam biografinya yang berjudul In Alibaba: The House That Jack Ma Built, terungkap bagaimana hobi belajar bahasa Inggris mengantarkan Ma kecil dekat dengan keluarga asal Australia. Keluarga ini secara tidak langsung membantu kesuksesannya mendirikan Alibaba.

Sang penulis Duncan Clark mengungkapkan, pada 1980, seorang engineer listrik bernama Ken Morley membawa keluarganya berlibur ke China, yang saat itu baru membuka diri pada dunia luar.

Salah satu daerah yang dikunjunginya adalah Hangzhou yang terletak di bagian timur provinsi Zhejiang. Di sini, putra Ken yang bernama David bertemu dengan Jack Ma.

"Saya mengingat betul bagaimana kami bertemu," kata David yang saat ini menjalankan studio yoga di Newcastle.

"Saat pergi bermain ke danau, anak ini mendatangi saya dan mencoba berbicara bahasa Inggris," sambungnya.

Ma saat itu memang senang bertemu dengan turis untuk melatih kemampuannya berbahasa Inggris. Pertemuan dengan keluarga Morley ini, berlanjut pada hubungan yang dekat seperti keluarga.

Ma dan David menjadi sahabat baik. Sementara Ken, membantu Ma belajar bahasa Inggris dengan membalas setiap surat Ma beserta sejumlah koreksi. Selama lebih dari tiga dekade, keluarga ini masih tetap dekat.
Kesaksian Menarik Keluarga Bule Tentang Jack Ma KecilJack Ma di Australia. Foto: istimewa

Ken memperlakukan Ma seperti anaknya sendiri. Dia sering berkunjung ke universitas di China, tempat Ma mengajar bahasa Inggris. Dia bahkan membelikan apartemen pertama untuk Ma di Hangzhou, di luar Shanghai. Pada 1985, keluarga tersebut membawa Ma ke Australia. Ini adalah pertama kalinya Ma pergi ke luar negeri.

"Kami melakukan banyak hal seperti keluarga pada umumnya, seperti bertamasya ke kebun binatang," kata David.

Akhir 2004, Ma secara khusus pergi ke Australia untuk menghadiri pemakaman Ken. Ma menuliskan surat menyentuh yang dibacakan di pemakaman. "Saya rasa, ayah melihat sesuatu dalam diri Ma," sebut David.

Prediksi Ken benar adanya. Ma yang ulet dan tidak mudah menyerah, kini menjadi orang terpandang. Kisah hidupnya yang terbiasa dengan kegagalan dan ditolak di banyak perusahaan, menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Ma kini tercatat sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Di 2014, penawaran saham perdana (IPO) Alibaba sebesar USD 25 miliar tercatat sebagai IPO terbesar dalam sejarah.

"SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA IEDUL ADHA 1439 HIJRIAH" KEPADA SAUDARA-SAUDARAKU YANG MERAYAKANNYA. "SEMOGA KITA TERUS BER...
21/08/2018

"SELAMAT MERAYAKAN HARI RAYA IEDUL ADHA 1439 HIJRIAH"

KEPADA SAUDARA-SAUDARAKU YANG MERAYAKANNYA.

"SEMOGA KITA TERUS BERBAGI DAN PEDULI KAPADA ORANG-ORANG YANG HIDUPNYA KURANG BERUNTUNG DISEKITAR KITA."

JOY PORIS
🙏🙏🙏

Address

Tangerang
15148

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when JOY PORIS posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share