25/08/2019
Wisata literasi dan sejarah.
Perpustakaan Medayu Agung berlokasi di JL. Medayu Selatan Gang IV, No. 42-44, Medokan Ayu, Kec. Rungkut, Kota SBY,
Perpustakaan ini istimewa sebab mempunyai koleksi bersejarah bagi bangsa Indonesia maupun dunia , berupa buku, koran, majalah, kliping, foto dan dokumen dokumen penting lainnya yg tidak bisa kita dapatkan diperpustakaan lain.
Karya-karya Pramoedya Ananta Toer (termasuk naskah aslinya).
Sejarah , biografi, quotes, tulisan , foto foto Presiden Soekarno , foto foto benda koleksi beliau dari mancanegara,
sejarah tentang pembauran , integrasi dan peran serta perjuangan etnis Tionghoa di Indonesia banyak disimpan juga di perpustakaan ini.
Ada juga koleksi langka, berupa buku-buku kuno terbitan pertengahan abad 19 hingga awal abad 20, dalam bahasa Belanda, Inggris, Melayu, Mandarin dan Jerman, bisa kita ditemukan di sana.
Perpustakaan Medayu Agung didirikan dari kenangan dan pengalaman serta sejarah hidup Oei Hiem Hwie yg biasa dipanggil Om.Hwie.
Om Hwie muda adalah seorang wartawan surat kabar Trompet Masjarakat yg berpusat di Surabaya dan beliau sempat beberapa kali melakukan wawancara khusus dengan Presiden Sorkarno.
Ini merupakan kebanggaan bagi beliau, hal ini sangat terlihat saat beliau bercerita dan menunjukkan kenang kenangan jam tangan yg diberikan oleh Presiden Soekarno dan foto yg beliau jepret sendiri saat beliau mewawancarai Presiden Soekarno.
Namun karena kedekatan tersebut, maka ketika meletusnya tragedi G30S, Om Hwie ditangkap oleh aparat karena di tuduh sebagai anggota PKI
Selama lima tahun, Om Hwie mengalami beberapa kali pemindahan lokasi penahanan di Malang,Surabaya , Nusakambangan , dan pada tahun 1970, beliau bersama seribu tahanan lainnya diangkut dengan kapal Tobelo menuju tempat pengasingan di Pulau Buru.
Di Pulau Buru inilah Om Hwie bertemu dengan Pramoedya Ananta Toer yg juga diasingkan disana.
Waktu menjadi wartawan, Om Hwie sdh mengenal Pramoedya Ananta Toer.
Di pulau Buru saat Pramoedya Ananta Toer memerlukan kertas untuk menulis Om Hwie mencarikan kertas semen sebagai media menulisnya.
Dan sampai sekarang tulisan diatas kertas semen tersebut masih di simpan di Perpustakaan Medayu Agung.
Saat Om Hwie dibebaskan pada 1978, Ia dititipi naskah buku asli karya Pramudya A.T untuk dibawa keluar dari Pulau Buru dengan cara
Meletakkan di dalam besek yg ditumpuk dengan pakaian dan peralatan makan yg kotor dan beuntung bisa lolos sebab tidak di periksa oleh petugas.
1 tahun kemudian , di tahun 1978 Om Hwie mendengar kabar Pramudya A.T juga dibebaskan dari Pulau Buru.
Om Hwie bermaksud mengembalikan naskah milik Pramudya A,T yang dititipkan kepadanya.
Namun, Pramudya A.T meminta Hwie menyimpan naskah asli miliknya.
Karena itu hingga kini naskah naskah asli tersebut masih tersmpan di Perpustakaan Medayu Agung, termasuk tetralogi Pulau Buru yg terkenal yaitu
Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.
Perpustakaan Medayu Agung lahir dari hobby, kenangan dan pengalaman sejarah hidup pribadi Oei Hiem Hwie, Beliau tekun membangun , menjaga dan terus memelihara literasi ini demi membangun sejarah yang lebih besar bagi genersi selanjutnya dan untuk meluruskan sejarah yg telah diputar balikan selama ini.
Saat kita datang berkunjung , Om Hwie dengan senang hati melayani kita dengan cerita sejarah , pengetahuan dan pengalamannya hidupnya.
Di perpustakan Medayu Agung ini kita bisa berwisata literasi dan belajar tentang sejarah kehidupan bangsa kita dari jaman ke jaman.
Pokoknya asyik gaes...👍😍