09/02/2016
Salah seorang tokoh ulama' salaf, Imam Abu Ja'far Ahmad ath-Thahawi -radhiyallaahu 'anhu- (di lahirkan pd th. 227 H dan wafat pd th. 321 H) dlm buku aqidahnya yg di muqaddimahnya beliau menuturkan : "Haadzaa Dzikru Bayaani Aqiidati Ahlissunnati wal Jama'ah" menjelaskan bahwa generasi as-salaf ash-shaleh berkeyakinan bahwa :
* Allah ta'ala maha suci dari batas-batas; al-huduud (yakni Allah maha suci dari batasan; bentuk; ukuran, karena Allah bukan j**m; bukan benda. Jadi Allah tidak berukuran, tdk berbentuk dan tdk berbatasan sama sekali).
قال رضي الله عنه :
تعالى - يعنى الله - عن الحدود....
اي ان الله لا يوصف بالكمية، ليس له كمية،
لا صغيرة ولا كبيرة لانه ليس جسما.
Maha suci Allah dari al-hudud (batas2/bentuk2/ukuran2). Maha suci dr segala bentuk: kecil maupun besar, jd Allah tdk mmpunyai ukuran sama sekali.
Maha suci Allah dari al-ghayat (batas akhir)
Maha suci Allah dari al-arkan (sisi2)
Maha suci Allah dari al-a'dha' (anggota badan yg besar spt wajah, tangan dan lainnya)
Maha suci Allah dari al-adawat (anggota badan yg kecil, spt mulut, lidah, hidung, telinga dan lainnya)
Allah tidak diliputi oleh satu arah maupun enam arah penjuru, tdk sperti makhluk-Nya yg diliputi enam arah penjuru......
* Perkataan Imam Abu Ja'far ath-Thahawi yg tsb di atas itu adalah aqidah tanziih; tawhiid merupakan ijma' (konsensus; kesepakatan) para shahabat nabi dan generasi as-salaf ash-shalih (orang2 yg hidupnya pada tiga abad pertama hijriyyah).